Wajah Indonesia dari Cermin Pisani

Buku karya Elizabeth Pisani ini pantas dibahas. Mengapa? Sebab ditengarai satu di antara ribuan buku yang pernah terbit, yang membahas belantara kekayaan serta keragaman Indonesia. Tidak mungkin semua realitas dimasukkan ke dalam hanya satu media. Pasti ada bias. Yang pertama dan utama adalah bias dari si penulisnya. Bagaimana ia menyendok, to spoon, data dan informasi menjadi konten sajian menunya. Sementara realitas lain, tidak dimasukkan.

Demikian buku ini berproses kreatif. Pustaka ini terbit, sang penulis menghabiskan lebih dari satu tahun untuk menjelajahi Indonesia. Waktu berkelana tersebut, dia mengamini moto: “Jangan pernah menolak satu undangan.”

Elizabeth Pisani mengalami berbagai pengalaman unik di berbagai daerah Indonesia. Sebagai contoh, suatu kali di Pulau Sumba, dia menanyakan arah menuju pertandingan tinju yang ingin dia saksikan. Orang yang ditanya kemudian menawarkan untuk membawanya ke tempat itu.

Namun, sebelumnya, mereka singgah di rumah seorang guru yang sangat dihormati di desa tersebut. Karena listrik belum ada di desa tersebut, mereka menerangi ruangan dengan sepeda motor.

Di sana, Elizabeth bergabung dengan penduduk yang sedang menikmati tuak kelapa. Sementara para perempuan tengah menyiapkan hidangan untuk pesta.

Saat sedang menikmati hidangan daging, sang guru bertanya, “Apakah Anda menyantap anjing?” Dengan santai, sambil melanjutkan makanannya, Elizabeth menjawab dengan sedikit candaan, “Oh, saya bukan penggemar anjing.” Tanpa sadar, daging yang sedang dia makan sebenarnya adalah daging anjing.

Elizabeth Pisani adalah seorang warga Amerika Serikat yang kini menetap di London. Pada tahun 1986, ia lulus dari Oxford University dengan jurusan Sastra Klasik Cina, sebelum kemudian bekerja sebagai wartawan. Pada tahun 1989, ia menghabiskan waktu di Indonesia sebagai koresponden untuk kantor berita Reuters.

Setelah itu, ia melanjutkan studinya di Inggris dan beralih menjadi seorang spesialis demografi penyakit tropis. Ia juga terlibat dalam penelitian untuk PBB dan Bank Dunia, khususnya mengenai penyebaran HIV/AIDS di Asia.

Pada tahun 2008, ia menerbitkan buku pertamanya yang berbicara tentang pengalamannya selama penelitian tersebut, berjudul The Wisdom of Whores. Pada tahun 2011, Elizabeth Pisani memutuskan untuk menjelajahi Indonesia selama 13 bulan guna mencari pengalaman baru. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian dituangkannya dalam bentuk buku setelah sebelumnya beberapa di antaranya sudah diunggah secara daring. Buku ini tentunya layak menjadi rujukan, setidaknya sebagai tambahan pengetahuan, atau sebagai sumber inspirasi bagi mereka yang tertarik pada sejarah dan budaya Indonesia.

Meski menggunakan “kacamata asing”, buku ini tetap bernilai. Lebih baik ada buku terbit yang mengabadikan pikiran dan pengalaman inderawi penulisnya berinteraksi dengan suatu objek, meski terdapat kekurangan, daripada yang belum ditulis dan diterbitkan. *)

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 211

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply