Kamus Etnik Dayak Ngaju – Indonesia : Proses Kreatif Menyusunnya

Menysun kamus, apalagi kamus etnik, tidak semudah membalik telapak tangan. Selain diperlukan keterampilan dan pemahaman, ketekunan di atas segalanya. Inilah proses kreatif Damianus Siyok, dkk. menyusun kamus etnik.

Tahun 2014, sekitar bulan akhir bulan Januari, saya bertemu dengan marketing Toko Buku Kharisma di Palangka Raya dalam rangka menitipkan buku-buku terbitan kami, Sinar Bagawan Khatulistiwa. Bagian marketing ini berkata, “Yang banyak dicari orang saat ke toko ini adalah kamus berbahasa Dayak Ngaju – Indonesia, tapi kamus ini belum pernah ada. Saya orang Ngaju, dan belum pernah melihat kamus semacam itu.”

Memang pernah terbit kamus berbahasa Dayak – Jerman karya Dr. Aug. Harderland, tetapi kamus ini tidak ada di pasaran.

Perjalanan berikutnya ke toko buku Fathir, toko buku Anang Sukri. Persoalan yang mereka kemukakan pun sama dengan yang dikatakan bagian marketing toko buku Kharisma. Banyak orang-orang tua dan para siswa mencari kamus berbahasa Dayak Ngaju – Indonesia, karena bahasa Ngaju menjadi bahasa pengantar di sekolah-sekolah di Kalimantan Tengah, khususnya yang berkaitan dengan muatan lokal, namun kamus ini pernah mereka jual.

Tahun 1997 Albert Bingan dan Offeny Ibrahim menerbitkan kamus Dwibahasa Ngaju – Indonesia, dan tahun 2000 Dunis Ipper menerbitkan kamus bahasa Dayak Ngaju – Indonesia. Namun kedua versi kamus yang pernah terbit ini pun sulit ditemukan. Hanya ada di ruang arsip perpustakaan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah pun dalam versi fotocopi yang tidak dipajang di ruangan baca. Untuk bisa mengaksesnya harus melapor kepada petugas perpustakaan.

Di waktu berbeda perihal menjadi bahan diskusi dengan Sepmiwalma (Sepmi), dan Sepmi pun bercerita bahwa dirinya dihubungi rekannya di Sukamara, minta dicarikan kamus Dayak Ngaju – Indonesia, karena anak memerlukan. Sepmi yang orang Dayak Ngaju asli, lahir dan besar di Kalimantan Tengah tidak menyanggupi, karena tidak tahu bisa mendapatnya dimana.

Saya juga pernah mendengar kisah, ada anak yang bukan dari kalangan orang Dayak Ngaju, namun karena tinggal di Kota Palangka Raya harus berhadapan dengan bahasa Ngaju di lingkungan sekolah, dimana anak ini tidak bisa mengerjakan soal-soal yang menggunakan bahasa Ngaju. Akhirnya orangtua si anak mencari orang Ngaju untuk mencari bantuan mengartikan kata-kata dalam bahasa Ngaju ke bahasa Indonesia.

Persoalan orangtua murid ini tentu akan terselesaikan sebagian jika ada kamus Ngaju – Indonesia yang bisa mereka gunakan.

Di lingkungan pemerintahan Kota Palangka Raya dan pemerintahan Provinsi Kalimantan Tengah, pernah dibuat kebijakan hari berbahasa Ngaju. Setiap urusan dan rapat-rapat pada hari tersebut menggunakan bahasa Ngaju. Program ini kurang berhasil, karena bagi orang Dayak Ngaju dan orang Dayak di Kalimantan Tengah, hal itu tidak menjadi masalah karena bahasa Ngaju telah menjadi bahasa pengantar sejak lama. Namun menjadi masalah bagi masyarakat dari luar.

Tahun 1997 Albert Bingan dan Offeny Ibrahim menerbitkan kamus Dwibahasa Ngaju – Indonesia, dan tahun 2000 Dunis Ipper menerbitkan kamus bahasa Dayak Ngaju – Indonesia. Namun kedua versi kamus yang pernah terbit ini pun sulit ditemukan. Hanya ada di ruang arsip perpustakaan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah pun dalam versi fotocopi yang tidak dipajang di ruangan baca. Untuk bisa mengaksesnya harus melapor kepada petugas perpustakaan.

Dari kondisi seperti ini, kamus Ngaju – Indonesia yang baru sangat diperlukan. Karena kamus menjadi salah satu guru yang bisa mengajarkan manusia.

Saya menghubungi sejumlah rekan-rekan dan para intelektual Dayak Ngaju, menawarkan mereka untuk menyusun kamus Ngaju – Indonesia. Belum ada yang bersedia, karena menyusun kamus itu lama dan perlu tenaga. Dan ketika selesai disusun, apakah royalti yang diterima dari hasil penjualan bisa menutupi biaya, waktu dan tenaga yang sudah dikeluarkan?

Saya tidak berani memberikan jaminan. Ada permintaan, namun saya tidak bisa mengukur, seberapa besar pasar itu.

Di dalam benak, saya harus menemukan orang yang mau menyusun kamus, punya waktu dan bahkan jika tidak dibayar pun mau. Karena menyusun kamus berarti mewarisi pengetahuan dasar kepada generasi berikutnya.

Pertengahan tahun 2014 saya mendatangi Bajik Rubuh Simpei, Rohaniwan Kaharingan yang menerjemahkan bahasa-bahasa ritual dan tuturan Dayak Ngaju – Dayak Ot Danum ke dalam bahasa Indonesia, dimana hasil terjemahan itu menjadi kitab Panaturan (kitab suci Kaharingan). Pembicaraan dengan Bajik sederhana, apakah beliau mau menyusun kamus Ngaju – Indonesia dengan mempertimbangkan bahwa kamus ini diperlukan namun menjadi barang yang sangat langka. Dan termasuk jika harus bekerja sosial tanpa mendapatkan bayaran yang sesuai dengan tenaga dan waktu, namun berjasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan bahasa Ngaju di Kalimantan Tengah. Dan ternyata beliau mau, dan berjanji sepulangnya saya dari rumah beliau langsung bekerja.

Memilih Bajik dikarenakan beliau memahami bahasa-bahasa tua (bahasa Sangen), balian yang memahami bahasa ritual, tokoh tua yang pernah memakai bahasa-bahasa dulu yang kata-katanya tidak populer lagi di masa sekarang.

Ketika Bajik mulai bekerja, saya dan Sepmi pun mulai menyusun dari bahasa-bahasa harian yang kami kuasai.

Sekitar bulan februari 2015 atau sekitar delapan bulan setelah diskusi itu, Bajik Rubuh Simpei sudah menyerahkan sebagian daftar kata Ngaju – Indonesia. Dari daftar yang diserahkan Bajik ini, saya dan Sepmi mengolahnya ke dalam pola bahasa kamus, berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu dengan tambahan penjelasan dalam bahasa Indonesia serta contoh kalimat, baik dalam bahasa Ngaju maupun dalam bahasa Indonesia.

Kami juga melibatkan Yankris, dengan alasan beliau putra Dayak Ngaju yang menguasai bahasa Ngaju, memahami keperluan dunia pendidikan karena pernah mengajar sebagai guru di kota Palangka Raya dan di pesisir Kota Palangka Raya.

Sekitar bulan Juni 2015, draft kasar sudah selesai sekitar enam puluh persen. Dari proses itu, kami menyadari, membuat kamus memerlukan biaya, tenaga dan waktu yang banyak. Jika dipasarkan secara konvensional tidak akan tertutupi dengan segera biaya, tenaga dan waktu yang dikeluarkan. Bahkan dengan mengandalkan pasaran di Kalimantan Tengah, kami malahan tidak yakin hasil penjualan bisa menutupi biaya. Karena dalam perkiraan kami, prosesnya bisa memakan waktu sampai dengan tiga tahun.

Berbekal draf yang belum rampung taDI, kami berkunjung ke walikota Kota Palangka Raya, HM Riban Satia. Dalam kunjungan itu terjadi diskusinya, intinya apakah Riban Satia selaku walikota Kota Palangka Raya bersedia membeli kamus tersebut untuk dihibahkan ke sekolah-sekolah serta perpustakaan-perpustakaan di Kota Palangka Raya jikalau kamus tersebut selesai. Riban setuju untuk membeli kamus-kamus tersebut.

Akhirnya, pekerjaan kamus dikebut, dengan target awal memenuhi permintaan walikota Kota Palangka Raya. Desember 2015, draf rampung seratus persen. Sehingga pekerjaan berikutnya adalah koreksi dan penyempurnaan draf. Bulan April 2016, pekerjaan koreksi rampung, sehingga pada bulan Mei 2016 proses lay outing dilakukan, dan pada tanggal 2 Juni 2016 materi cetak masuk ke Gramedia untuk diproduksi.

Edisi pertama yang diberi judul KAMUS PENGANTAR NGAJU – INDONESIA hanya dicetak untuk memenuhi permintaan walikota Kota Palangka Raya, disediakan khusus bagi sekolah-sekolah di Kota Palangka Raya. Edisi ini tidak dijual untuk umum.

Edisi yang akan dilepas ke pasaran adalah edisi kedua, dengan format yang berbeda dengan Edisi Khusus Pelajar Kota Palangka Raya. Perkiraan harga untuk edisi pasaran adalah Rp. 120 ribu sampai dengan Rp. 200 ribu per eksemplar. Tergantung format cover, soft cover dan hardcover *)

Share your love
Avatar photo
Damianus Siyok
Articles: 18

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply