4 Fobia (Ketakutan) Penulis Pemula

Leterampilan menulis diperlukan oleh siapa saja! Terutama di era digital. Tak terkecuali Anda!     

Apalagi jika Anda bos di suatu perusahaan, instansi, atau lemabaga.

Setiap hari harus menulis. Menulis apa saja sebagai keterampilan berkomunikasi dalam rangka menyampaikan pesan atau gagasan.

Tulisan harus jelas, atau mengandung clarity. Jika tidak, pesannya tidak akan (pernah) sampai.           

Jika Anda bukan-bos, menulis pun tetap penting. Apalagi hari begini media sebagai sarana komunikasi menyediakan berbagai kemudahan.

Dari pesan singkat, sedang, hingga panjang. Kesemuanya memerlukan keterampilan dan kejelasan di dalam merangkai kata.

Namun, dalam kenyataan, ada macam-macam hambatan dalam menulis. Untuk orang tertentu, hambatan itu adalah ketakutan untuk (mulai) menulis.

Nayyirah Waheed, seorang penulis andal dan masyhur dengan kumpulan puisinya Salt menegaskan, “Bahkan rasa takut yang Anda alami, tulislah itu.”

Tulislah ketakutan Anda menulis maka menjadi sebuah tulisan yang berdaya-pikat karena Anda menulis apa yang dialami.

Berbagai orang, berbagai pula hambatan yang dialami dalam menulis.

Nayyirah Waheed, seorang penulis andal dan masyhur dengan kumpulan puisinya Salt menegaskan, “Bahkan rasa takut yang Anda alami, tulislah itu.”Tulislah ketakutan Anda menulis maka menjadi sebuah tulisan yang berdaya-pikat karena Anda menulis apa yang dialami.

Dari sekian banyak hambatan, dapat diintisarikan terdapat empat hambatan menulis pada umumnya:

  • Demophobia = a fear of people (audience).

Dari kata “demos” yang berarti orang banyak, orang ramai, atau publik. Orang demo, berarti banyak orang (massa). Jadi, demophobia adalah ketakutan akan khalayak yang akan membaca tulisan kita nantinya. Belum apa-apa (belum menulis), kita sudah dihantui oleh perasaan ini. Kalau ini yang terjadi, maka selamanya kita tidak pernah menjadi penulis.

Ketakutan akan khalayak juga bisa berarti takut jangan-jangan, penerbit tidak sudi mempublikasikan tulisan saya.

Jangan-jangan pembaca tidak menyukai tulisan saya. Jangan-jangan pembaca tidak membeli tulisan saya.

Dan sederet “jangan-jangan”, ketakutan dan kekhawatiran yang menghantui pikiran Anda, sehingga mematahkan semangat Anda menulis.

Buanglah jauh rasa takut akan khalayak ini. Bukankah, dalam kenyataannya, Anda lebih tahu ihwal yang Anda tulis dibanding mereka? Bukankah dengan menulis, berarti Anda telah mendalami tema secara saksama?

  • Laliophobia berasal dari kata “lalio” (saya berkata). Sebenarnya, istilah ini lebih tepat dikenakan untuk keterampilan berbicara di depan publik. Namun, bisa saja diterapkan untuk menjelaskan ketakutan yang sama untuk merujuk kepada ketakutan menyampaikan gagasan atau menuangkan kata-kata dalam bahasa tulisan.

Laliophobia ialah ketakutan akan ketidakmampuan mengungkapkan/ menulis pikiran (hati) Anda ke dalam tulisan.

Jika ketakutan ini menghinggapi Anda, jangan panik. Percaya diri saja.

Segala sesuatu yang bisa Anda lakukan karena Anda telah biasa melakukannya. Sama dengan komunikasi lisan yang perlu latihan agar biasa tampil berbicara di depan umum, komunikasi tulisan pun perlu latihan. Latihan dan kebiasaan baik akan mengantar Anda menjadi terampil menuangkan gagasan-gagasan ke dalam tulisan. Latihan yang tekun akan membuat neuron Anda terbiasa bekerja secara refleks, sehingga Anda menulis, seperti juga Anda berbicara.

  • Katagelophobia = a fear of ridicule (ketakutan diejek/dicemooh).

Tidak ada orang yang mau dicemooh atau dihujat habis-habisan. Anda pun, sebagai penulis, tentu tidak mau.

Karena itu, sebelum dipublikasikan, periksa bagian manakah yang berpotensi menimbulkan cemoohan atau kritikan. Sadari bagian itu dan siapkan argumen untuk mengkaunternya. Bukankah Alexander Lebd, seorang jenderal Rusia mengatakan bahwa senjata kita yang paling ampuh bukan pedang atau mesiu, namun argumen? (The most powerful weapon we have is reason). Mememang, mencemooh dan mengritik lebih mudah daripada menulis buku. Belum tentu si pengritik sanggup melakukan apa yang Anda lakukan!

Akan tetapi, kalau katagelophobia pada awal mula menghantui Anda, sebenarnya wajar saja, terutama jika Anda adalah tipe manusia perfeksionis. Segalanya mau serba sempurna. Padahal, tak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini. Yang penting, kesungguhan dan kepenuhan sudah mengisi diri Anda. Ketika Anda merasa demikian, pastikan segera mulai menulis. Kalau ada kekurangan, atau kesalahan, dapat diperbaiki dalam cetakan berikutnya. Asalkan, kesalahan itu tidak disengaja.

  • Chrematophobia atau Money-phobia. Berasal dari kata Yunani “chermato“ (uang) dan “phobia” (ketakutan akan). Yakni ketakutan seseorang yang menulis dan terus menulis, tetapi tidak mendapat apa-apa dari waktu, pikiran, kerja keras, dan kreativitas yang sudah diinvestasikannya. Rasa takut jika tidak memperoleh apa-apa dari menulis.

 

 Hambatan chrematophobia ini akan menyerang, apabila uang merupakan orientasi dan penggerak utama setiap kegiatan Anda.

Memang sah-sah saja untuk menetapkan segala sesuatu UUD (ujung-ujungnya duit), namun kalau duit melulu yang jadi motivator, agaknya tidak banyak hal yang dapat kita lakukan. Semestinya, kita dapat menempatkan, mana kegiatan yang mendatangkan duit (banyak), mana yang amal, dan mana yang mendatangkan efek berganda (multiplier effect).

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply