9 Tahapan menuju Budaya Baca (1)

Habitus membaca adalah awal literasi.  Adakah tahapan-tahapan menuju budaya baca? Ada!

Namun, tidak mudah menyelisiknya secara saksama. Sebab, sering budaya baca tidak diawali dari urutan biologis, atau sesuai dengan kronologi waktu.

Budaya baca tidaklah selalu linear

Budaya baca tidaklah selalu linear, yang biasanya diawali dari seseorang mulai mengenal huruf dan dapat membaca, sampai jadi kutu buku, dan hingga ia merasa buku benar-benar menjadi bagian dari kehidupannya. Fakta menunjukkan, ada orang yang sudah mulai suka membaca pada waktu TK. Ada yang waktu SD. Ada yang waktu SLTP. Ada yang waktu SLTA. Ada pula pula yang ketika sudah masuk perguruan tinggi. Ini kalau yang bersangkutan menempuh jalur pendidikan formal.

Baca Minat Baca yang Rendah: Nyalakan Pelitamu, Jangan Kutuk Kegelapan!

Ada juga orang yang tidak menempuh pendidikan formal dan otodidak yang gemar membaca. Bahkan, tokoh seperti Adam Malik –mantan Menlu dan Wapres RI dari 23 Maret 1978-1983— tidak berpendidikan formal tinggi, ”hanya” SD (HIS). Namun, karena gemar membaca dan otodidak, salah satu pendiri Kantor Berita Antara ini memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diakui setara, bahkan melebihi seorang akademisi.

Adam Malik: contoh hidup menjadi pandai karena habitus membaca. Sumber: Wikipedia.

Berkat belajar mandiri, Adam Malik berhasil dalam kehidupannya. Menduduki berbagai pos penting di lembaga negara. Sebagai wartawan dan penulis, ia terbilang sukses karena berbagai tulisannya memengaruhi banyak orang. Sebagai diplomat, Adam Malik berhasil meyelesaikan konflik politik antara Indonsia dan Malaysia.

Jadi, sebenarnya, orang sukses bukan karena bersekolah. Namun, karena belajar. Dan, belajar bisa dilakukan di sembarang tempat, dengan memanfaatkan sumber belajar apa saja. Sumber belajar bisa guru. Bisa juga buku. Bisa juga hal lain.

Tahapan menuju budaya Baca

Mary Leonhardt (1993) mencatat, terdapat delapan tahapan menuju budaya baca. Ini adalah simpulan atas penelitian dan pengamatannya di Amerika Serikat. Bersetuju dengan tahapan yang dibuat Mary, saya hanya menambah satu tahapan.

Baca Membaca Cepat : Trik dan Tipsnya

Tahapan itu justru berada pada strata paling awal. Sebab, hampir semua orang yang melek huruf melakukannya. Tahap Pertama: Tidak Sengaja Membaca Tidak sengaja membaca, bisa dialami oleh siapa saja dan di mana saja. Keika sedang naik kendaraan, baik kendaraan umum maupun kendaraan pribadi, mata kita tidak sengaja membaca tulisan. Baik iklan (tulisan) di kendaraan, maupun tulisan di dinding/tembok, atau plat nama. Bahkan, kalau truk di dekat kita, tulisan di truk pasti mencolok mata. Dari tulisan yang sopan, hingga tulisan yang seronok, hampir selalu ada di truk. Misalnya:

”Kutunggu Jandamu”

”Kunanti Cintamu”

”Anak Jalanan”

”Ayu Adine” Dan sebagainya.

Apakah kita sengaja membaca? Tidak! Kebetulan saja, pada saat itu, mata kita terarah pada tulisan. Dan kita tidak sengaja membacanya. Demikian pula, ketika sedang antre, atau sedang menunggu di kamar tunggu. Kita juga tidak sengaja membaca. Bahkan, ketika hanya ada sehelai atau secarik koran di depan kita saat itu, kita pungut. Lalu, dengan saksama membacanya. Padahal, informasi di dalamnya sudah usang. Ini adalah tahap pertama membaca, tidak sengaja, atau karena kebetulan.

Budaya baca adalah suatu perjalanan
Budaya baca adalah suatu perjalanan yang sangat personal dan unik bagi setiap individu. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, tidak ada pola linear yang dapat diikuti oleh semua orang. Setiap orang memiliki cerita dan pengalaman masing-masing dalam membangun hubungan dengan literasi. Penting untuk diingat bahwa perjalanan ini dapat dimulai kapan saja dalam kehidupan seseorang, dan tidak harus terbatas pada waktu atau tahapan tertentu.

Baca Rumus Menghitung Kecepatan Membaca

Dalam mengeksplorasi budaya baca, penting untuk memahami bahwa pendidikan formal, meskipun memberikan fondasi yang kuat, tidaklah menjadi satu-satunya gerbang untuk memasuki dunia literasi. Ada banyak pintu masuk yang dapat membawa seseorang ke dalam budaya membaca, dan setiap pintu masuk memiliki nilai dan potensi yang sama pentingnya.

Pentingnya memahami bahwa belajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas atau institusi pendidikan. Buku-buku, artikel, dan sumber daya online adalah guru yang tak terhitung jumlahnya yang dapat diakses siapa saja, di mana saja. Bahkan, sebagian besar pengetahuan berharga seringkali ditemukan di luar kurikulum formal. Pembelajaran bisa terjadi di perpustakaan, di tempat umum, melalui diskusi dengan teman-teman, atau bahkan melalui pengalaman langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada batasan waktu atau usia
Tidak ada batasan waktu atau usia untuk mulai membiasakan diri dengan budaya baca. Seseorang dapat menemukan kecintaan mereka terhadap membaca di usia muda, saat dewasa, atau bahkan ketika sudah berusia lanjut. Semua orang memiliki potensi untuk menjadi pembaca aktif dan terlibat dalam dunia literasi, terlepas dari latar belakang pendidikan formal mereka.

Baca Break Through Rapid Reading| The book I translated in 2010

Dengan memahami keragaman jalur yang dapat ditempuh dalam menciptakan budaya baca, masyarakat dapat lebih mendukung dan mendorong individu untuk menjalani perjalanan literasi mereka masing-masing. Ini tidak hanya memperkaya kehidupan individu, tetapi juga memperkaya masyarakat dengan pengetahuan yang beragam dan pemahaman yang lebih luas tentang dunia. *)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply