9 Tahapan menuju Budaya Baca (3) : Membaca Bahan Bacaan yang Ringan

Kesalahan dalam memilih bahan bacaan pada masa anak-anak dapat berdampak jangka panjang.

Membaca bacaan yang ringan. Bukan tentang kapas, kertas, atau debu yang gampang diterbangkan angin saking ringannya. Tapi yang dimaksudkan adalah bahan bacaan yang enteng, mudah dicerna, tidak ribet pengkalimatannya, atau istilah kerennya tingkat readability-nya tinggi.

Baca 9 Tahapan menuju Budaya Baca 2 : Membaca Pesan WA dan Kata-kata Bertuah

Biasanya, bacaan seperti itu tidak berbentuk kalimat majemuk, melainkan kalimat tunggal. Kadang hanya terdiri atas subjek, predikat, objek saja. Misalnya: Tuti makan sate. Budi minta sedikit. Tuti dan Budi berbagi sate. Mereka makan sate dengan lahapnya.

Biasakan siswa dan anak Anda membaca!

Prof. James Pennebaker meneliti habitus anak-anak SMA di Amerika. Hasil penelitian sungguh mencengangkan!

Apa hasil penelitian itu?

Hasilnya:

  1. Siswa dengan kebiasaan membaca dan menulis, jiwanya lebih sehat. Emosi mereka terkontrol. Lagi pula, nilai akademiknya baik sekali.
  2. Siswa dengan kebiasaan main game, nonton film, dan terlelap dalam gadget; jiwanya labil. Emosi kurang terkontrol. A-sosial. Nilai akademik cenderung buruk.

Maka, biasakan siswa –dan anak Anda– membaca. Dengan membaca, akan ditemukan proses, kedalaman, dan detal. Nonton (saja) tidak sistematis, tidak ada proses, dan hanya luar-nya saja!

Bacaan ringan setara komik dan hiburan

Seiring dengan perkembangan literasi pada tahap ini, muncul pertanyaan seputar kebermaknaan membaca komik, majalah, dan surat kabar. Sebagian orang tua dan pendidik memiliki kecenderungan untuk melarang anak-anak membaca komik, dengan alasan bahwa komik dianggap kurang mendidik. Namun, perlu dicatat bahwa pandangan ini sebenarnya merupakan generalisasi yang tidak selalu benar.

baca 9 Tahapan menuju Budaya Baca (1)

Mengutuk semua komik sebagai bahan bacaan yang buruk adalah pendekatan yang terlalu simplistik. Sebagian besar karya, termasuk komik, memiliki beragam konten yang mencakup nilai-nilai positif dan negatif. Bahkan dalam komik yang dianggap memiliki konten kurang baik, seringkali masih terdapat pelajaran moral yang bisa diambil, seperti “jangan melakukan hal yang buruk.”

Meneliti konten bahan bacaan yang bernilai dan edukatif

Oleh karena itu, penting untuk melihat konten bahan bacaan secara lebih cermat dan kritis. Jika sebuah komik memiliki lebih dari satu unsur positif, dapat dianggap sebagai bacaan yang bermanfaat. Hal ini mengajarkan kepada pembaca, terutama anak-anak, untuk memilah-milah informasi dan menyadari bahwa tidak semua hal dalam sebuah karya harus diabaikan.

Pentingnya mengembangkan budaya baca sejak dini menjadi semakin nyata dalam tahap ini. Baik di lingkungan rumah maupun di sekolah, pembiasaan membaca perlu ditanamkan. Siswa SMP yang dengan cermat dan senang membaca, termasuk menikmati majalah dinding, menunjukkan bahwa mereka telah memahami pentingnya literasi dan keberagaman bahan bacaan. Inilah upaya bersama untuk memastikan bahwa membaca menjadi kegiatan yang dinikmati dan dihargai sejak usia dini, membentuk dasar yang kokoh untuk perkembangan literasi yang berkelanjutan.

Bacaan untuk anak di era digital

Di era digital, di mana ketersediaan bacaan begitu melimpah, setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih bahan bacaan sesuai dengan selera mereka. Meskipun kebebasan ini memiliki keunggulan tersendiri, namun seringkali cenderung tidak terstruktur.

Kebebasan memilih bahan bacaan di era digital memang memberikan akses yang tak terbatas, tetapi tanpa arahan yang terstruktur, dapat menimbulkan ketidakpastian. Namun, perlu diakui bahwa bahan bacaan yang dipilih oleh guru dan orang tua cenderung lebih terkendali. Selain menyajikan hiburan, bahan bacaan yang mereka pilih juga mengandung nilai-nilai edukatif yang bermanfaat.

Bagi anak-anak, terutama mereka yang masih berusia balita dan remaja, kemampuan untuk memilih dan memilah bacaan yang sesuai dengan perkembangan mereka masih terbatas. Oleh karena itu, membiarkan fenomena “belajar merdeka” yang cenderung sembrono dan tanpa struktur dapat membawa dampak yang kurang baik.

Penting untuk diingat bahwa tanpa bimbingan yang tepat, kesalahan dalam memilih bahan bacaan pada masa anak-anak dapat berdampak jangka panjang. Seperti pepatah yang mengatakan “luruskan batang pohon selagi masih muda,” memberikan arahan dan pengarahan pada usia dini menjadi sangat relevan.

Meluruskan arah pemilihan bahan bacaan sejak dini menjadi langkah penting agar anak-anak dapat tumbuh dengan wawasan yang terarah dan terpelajari dengan baik.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply