A Bird in the Hand

Entah Anda.
Di beranda FB. Atau media sosial. Saya tak pernah sudi menulis tentang topik yang menyerang orang. Apalagi, yang menurut Bung Karno, “vivere pericoloso”, topik, hal-hal yang nyrempet-nyrempet bahaya. Misalnya, terkait kepercayaan dan etnis orang lain.

Hari ini. Di beranda FB. Saya menulis, seperti dapat Anda lihat pada ilustrasi.

Tentu, ada latarnya.
Sejak 1984, saya teldah menembus Kompas. Sebagai penulis opini. Artikel perdana saya berjudul “Tindakan Preventif untuk Mengurangi Penurunan Budaya Mangkok Merah” (Kompas, 14 Maret 1984). 

Saya berkanjang, dan merwarnai media, sejak itu. Pernah sebulan dimuat 14 artikel. Honornya, lebih banyak dari gaji saya. Hingga memutuskan “gantung pena”, 2005. Artikel saya lebih dari 3.000 dimuat koran nasional, regional, dan internasional.

Sejak 2005. Saya memutuskan hanya menulis buku. Tak sudi lagi nulis artikel. Terlalu mudah! 10 menit, selesai.

Jadi, harus naik kelas. Kini bilangan buku saya, ber-ISBN, dan beberapa menang sayembara, “baru” berjumlah 116.

Latar saya menulis di beranda, sebagai pengingat saja. Tentang prinsip. Sejak 2016, saya menggantungkan hidup (hanya) dari menulis.

A Bird in the hand is worth two in the bush. Jangan ambil risiko. Pertahankan apa yang ada di tangan, jangan sampai lepas. Curahkan waktu. Pusatkan tenaga pada apa yang pasti pasti saja. Yang bernilai.

Tak ada dalam rumusan. Gak kerja kantoran, pada tahun berikut, 2017, saya bisa beli mobil baru, dari hasil menulis. Waktu itu, saya menulis biografi seorang “yang bosan kaya”. Seorang pejabat di Kalimantan Tengah.

Kemudian, seperti roda, makin lama makin ringan gerak langkah saya sebagai penulis. Banyak saya mendapat tawaran menulis biografi, setelah itu. Hingga kini. 

Tahun 2021, saya menulis 1 biografi, cukup buat hidup setahun!

2022, datang harapan lagi. Sudah deal, menulis 3 biografi.

Nah, dalam keseharian. Saya disiplin. Antara hobi dan profesi, harus ada demarkasi. Untuk itu, saya bikin “list to do” setiap hari.

Berdasarkan urutan first tings first: ada uangnya, urgen. Jika item demi item list to do do sudah dilakukan, saya beri tanda centang.

Nah. Hari ini.
Saya memutuskan berhenti untuk mengejar menangkap 2 ekor burung di luar. (Uangnya blm masuk). Biar saja. Semua indah pada waktunya. Maka saya fokus untuk mengerjakan 1 ekor burung yang pasti sudah ada di tangan.

Bagitu saja makna narasi kita!

Ada pepatah petitih, dalam bahasa Inggris demikian: A Bird in the hand is worth two in the bush.

Jangan ambil risiko. Pertahankan apa yang ada di tangan, jangan sampai lepas. Curahkan waktu. Pusatkan tenaga pada apa yang pasti pasti saja. Yang bernilai.

Seekor burung di tangan jauh lebih berharga daripada dua, atau banyak, di alam bebas.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply