Sein und Zeit Heidegger dalam Kerangka Ada dan Waktu Kita

Jika saya, suatu hari nanti, menerjemahkan atau setidakya jadi editor karya Heidegger ini, seperti judul narasi itulah kiranya. Atau, malah, sesederhana yang kita kerap ucap: Ada Waktu.

Ada, dalam khasanah bahasa Indonesia, kurang terasa cukup dalam untuk memadankannya dengan Being. Ontologi, dalam istilah filsafatnya.

Pertanyaan filsafat adalah: apakah waktu dan ada, ada bersamaan? Atau salah satu bagian dari yang lain? Dengan kata lain, apakah ada yang memuat waktu, atau waktu yang memuat ada?

Jalan deduksi percaya bahwa ADA terlebih dahulu ada. Waktu ada di dalam Adanya. Maka ada frasa, “Sebelum adanya waktu”. Jadi, sudah ada ada sebelu waktu ada.

Kita manusia, misalnya. Bahwa saya lahir pada tanggal 23 Januari, tahun xxxx adalah waktu kronologis. Waktu lahiriah, secara fisik. Tapi sejak kapan kehidupan sudah ada dalam diri saya?

Ilmu-ilmu menjelaskannya secara berbeda!
– Ilmu biologi menjelaskan bahwa kehidupan manusia dimulai sejak semua sistem tubuh manusia  sudah terbentuk dan bisa berfungsi. Berarti sejak di kandungan ibu, kita sudah hidup.
– Ilmu kedokteran: kehidupan terjadi sejak fertilisasi.
– sudut pandang agama-agama, beda-beda.

Tapi pada akhirnya, kita setuju menghitung kelahiran (*) dari saat seorang keluar dari kandungan ibu, atau pada waktu operasi caesar.

Dengan demikian, menurut Heidegger, seorang manusia perlu  menjadi ada secara temporal dalam rentang antara kelahiran dan kematian. Keberadaan adalah waktu dan waktu adalah terbatas, itu berakhir dengan kematian kita.

Menjadi manusia berarti tetap, tertanam, dan terbenam dalam dunia fisik, literal, dan nyata dari hari ke hari.

Heidegger menggunakan ungkapan Dasein untuk merujuk pada pengalaman keberadaan yang khas bagi manusia. Dengan demikian, ini adalah bentuk makhluk yang sadar dan harus menghadapi masalah-masalah seperti kepribadian, kematian dan dilema atau paradoks hidup dalam hubungan dengan manusia lain sementara pada akhirnya sendirian dengan diri sendiri.

Hari, tanggal, bulan, dan tahun yang disepakati dunia mulai dengan Minggu, 09.04.2023 hari ini, nyatanya saya tidak mulai tulisan dengan bilangan nomor 1. Sebagai konten Bibliopedia, ini tulisan ke-221. 

Artinya, tidak semua hal serba dari alif (lagi). Dalam banyak hal, kita meneruskan apa yang telah dirancang, dan dilakukan dengan baik, sebelumnya.

Yang berubah, dan berdinamika, adalah entitas. Being. Dalam kerangka Time sebagaimana dijelaskan Heidegger.

Seperti diketahui. Martin Heidegger (1889–1976)  seorang filsuf Jerman yang karyanya dikaitkan dengan fenomenologi dan eksistensialisme, meskipun pemikirannya harus diidentifikasi sebagai bagian dari gerakan filosofis semacam itu hanya dengan sangat hati-hati dan kualifikasi.

Ide-idenya telah memberikan pengaruh besar pada perkembangan filsafat Eropa kontemporer. 

Being and Time sungguh karya yang tidak mudah dimengerti. Tapi sangat penting.

sumber gambar Heidegger:
https://iep.utm.edu/heidegge/

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply