Adakah Dayak Sampit

Ketika minum kopi sore bersama dua senior, pertanyaan menggelitik otak berpikir terlontar dari salah satunya. “Adakahkah Dayak Sampit itu?” begitu kira-kira pertanyaan beliau.

Tentu saja pertanyaan ini bukan didasari oleh sebuah kesimpulan bahwa Dayak Sampit itu fiktif. Tetapi pertanyaan yang diajukan kepada seseorang yang berani mendeklarasikan diri bisa menulis. Persis seperti pertanyaan para pengacara saat beracara, legal standingnya apa?.

Setiap pengacara tau bahwa legal standing adalah suatu syarat bagi seseorang untuk bisa mengajukan sebuah permohonan penyelesaian sengketa. Demikian juga penulis, agar tulisannya tidak dianggap fiksi, maka harus disertai dengan sumber-sumber. Kembali ke paragraf atas, inti dari pertanyaan senior tadi, literatur mana yang anda pakai sehingga “you’ berani mengatakan bahwa Dayak Sampit itu benar-benar eksis.

Perkara eksistensi, tentu saja yang harus menjawab adalah orang-orang yang merasakan dirinya Dayak Sampit. Persoalannya, saya secara pribadi belum menemukan tulisan akurat yang ditulis oleh intelektual Dayak Sampit sendiri, dalam rangka mengukuhkan eksistensi komunitas dirinya sebagai Dayak Sampit.

Dayak Sampit adalah kelompok Oloh Mantaya yang bermukim di Sampit.

Dayak Sampit lebih banyak ditulis oleh orang-orang di luar komunitas Dayak Sampit itu sendiri.

Beberapa penulis asing yang memaparkan Dayak Sampit diantaranya Controlir Sampit (1931—1934), Hendrik Jacob Koerts, Dr. Jan Pijnappel (1854), Schwaner (1853, 1854), Hans Schareer (1963), JJ Ras (Hikayat Banjar). Penulis Indonesia diantaranya Riwanto Tirtosudarmo dan Yusri Darmadi. Penulis Dayak yang menuturkan soal Dayak Sampit adalah Tjilik Riwut.

Dalam catatan Pijnappel sebelum tahun 1850 ada 3.750 orang yang tinggal di kawasan Sampit. Dari jumlah itu 1.950 orang diidentifikasi Pijnappel sebagai Dayak lokal, 300 adalah Dayak pendatang. Selanjutnya 1.800 orang disebut Melayu lokal dan 200 Melayu pendatang. Disebut Dayak karena mereka bukan Islam serta disebut Melayu karena mereka Islam. Itu saja dasar pengelompokkan Pijnappel. Dayak lokal dan Melayu lokal adalah peladang. Dayak pendatang dan Melayu pendatang adalah pedagang. Melayu pendatang bisa dikelompokkan sebagai orang Banjar yang menetap di Sampit. Mengacu ke catatan Schwaner, Dayak pendatang yang menjadi pedagang di Sampit adalah orang-orang dari Pulau Petak.

Hendrik Jacob Koerts (data-datanya digunakan oleh Yusri Darmadi) menarasikan bahwa orang-orang Sampit adalah orang Dayak Tamopan, Dayak Katingan, Dayak Kuhin, Dayak Dohoi, Dayak Sabaung. Warga pendatang local (asal Kalimantan) di Sampit adalah oloh Kahayan, orang Kotawaringin (Pangkalan Bun), orang Banjar asli. Orang luar pulau yang pertama kali datang ke Sampit adalah orang Madura. Orang dari pulau Madura didatangkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda tahun 1920-an, untuk diperkerjakan di perkebunan kelapa dan karet di sekitar Sampit.

Dayak Sampit menuturkan bahasa Sampit. Bahasa Sampit berisikan kosakata bahasa Kahayan dan bahasa Katingan yang ditindih oleh kosakata bahasa Banjar. Scharer menyebutkan bahwa Dayak Sampit adalah kelompok Ngaju yang beragama Islam (Schareer, 1963 : 3). Bisa jadi pernyataan Scharer karena faktor bahasa semata, tanpa melihat asal leluhur mereka.

Berangkat dari keadaan di atas, Melayu lokal yang dimaksud oleh Pijnappel bisa jadi orang-orang Dayak yang beragama Islam. Sedangkan Melayu pendatang adalah pedagang Banjar yang berdagang di sana. Tetapi kita haraf maklum, Pijnappel menulis berdasarkan kondisi saat itu. Tentu berbeda dengan definisi saat ini.

Berdasarkan data-data tadi orang Dayak Sampit adalah keturunan orang Katingan, orang Kahayan, orang Pulau Petak, orang Tamuan dan orang-orang dari kelompok Ot Danum yang tinggal di kawasan Seruyan, Pembuang dan Katingan yang berada di kawasan Sampit. Mereka membentuk bahasa dan budaya baru yang menjadi ciri khas Dayak Sampit.

Dan kita tentu menunggu narasi yang ditulis oleh Orang Dayak Sampit itu sendiri.

Peta Distrik Sampit (sumber ; Bassel Mission)

Share your love
Avatar photo
Damianus Siyok
Articles: 20

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply