Autoplagiat

Di era digital, mudah sekali melakukan sekaligus mendeteksi plagiat. Juga sangat mudah untuk mennghindarinya, apalagi jika menggunakan jasa Artificial Intelligence.  Tinggal perintahkan saja berapa bersen maksimal tingkat plagiasi, maka mesin akan bekerja sesuai dengan perintah.

 

Namun, masih terjadi juga praktik plagiat. Ada banyak alasan mengapa seseorang melakukan tindak plagiat. Beberapa alasan yang lazim seperti yang berikut ini.

Plagiat Online

Kemudahan yang diperoleh dari kemajuan teknologi, terutama teknologi komunikasi yang memungkinkan orang untuk menyimpan dan mengakses data dengan lebih cepat dan mudah, sayangnya, tidak hanya membawa dampak positif. Dalam beberapa kasus, teknologi ini dapat mengakibatkan perilaku negatif, seperti ketidakjujuran intelektual. Ketersediaan informasi dengan cepat dan mudah dapat membuat orang malas bekerja keras, sehingga kreativitas mereka terhambat.

Baca What is Plagiarism?

Salah satu fenomena yang muncul akibat kemudahan akses ini adalah praktik plagiat online. Dalam dunia tulis-menulis, terutama dalam penulisan paper, artikel ilmiah populer, atau konten untuk blog dan media sosial seperti Facebook, banyak orang cenderung mencari jalan pintas. Mereka seringkali menyalin dan menyebarluaskan kembali konten tanpa memberikan pengakuan atau mencantumkan sumbernya.

Fenomena ini telah menciptakan istilah menarik yang dikenal sebagai “Kopasus,” singkatan dari “kopi paste ubah sedikit.” Plagiat tidak hanya mencakup menyalin teks, tetapi juga mencakup klaim atas ide orang lain sebagai miliknya sendiri. Selain itu, ada konsep yang dikenal sebagai “autoplagiat,” yang sebenarnya merupakan istilah yang agak kontroversial. Ini mencerminkan tindakan menggunakan kembali karya sendiri tanpa memberikan pengakuan atau merujuk kembali ke karya asli.

Namun, dalam konteks autoplagiat, argumen bisa dibuat bahwa seorang penulis adalah pemilik Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas karyanya dan telah memberi izin pada diri sendiri untuk menggunakannya kembali atau mengutipnya. Namun, ada kasus di mana autoplagiat bisa dianggap sebagai “penipuan daur ulang,” yaitu tindakan menggunakan kembali bagian signifikan, identik, atau hampir identik dari karya sendiri tanpa mengakui bahwa itu adalah karya yang sudah ada atau tanpa mencantumkan sumber asli.

Baca Tina Lie, Bumi Menulis dan Menulis Bukunya

Sehubungan dengan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), isu-isu seputar plagiarisme dan autoplagiat semakin kompleks. Perlu ada kesadaran dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi untuk menciptakan dan menyebarkan konten agar menjaga integritas dan etika dalam dunia tulis-menulis dan penelitian.

Autoplagiat sebenarnya “tidak ada”
Per-definisi, sebebarnya tidak ada “autoplagiat”. Sebab kita, sebagai penulis dan pencipta Hak Kekayaan Intelektual (HKI) pemilik HKI itu dan telah mengizinkan diri sendiri untuk menggunakan (kemnali) atau mengutip karya kita. Izin pada siapa lagi, orang kita sendiri yang punya karya itu, dan telah memberi izin pada diri sendiri?

Autoplagiat juga dikenal sebagai “penipuan daur ulang” yaitu tindakan menggunakan kembali bagian signifikan, identik, atau hampir identik kerja sendiri tanpa mengakui bahwa seseorang melakukannya atau tanpa mengutip karya asli. Artikel alam ini sering disebut sebagai menduplikasi atau beberapa publikasi.

Baca AI dan AGI Menggantikan Kecerdasan Manusia?

Selain masalah etika dan angka (kum), ini bisa ilegal jika hak cipta dari karya sebelumnya telah dialihkan ke entitas lain. Kerap autoplagiat hanya dianggap sebagai isu etis  saja dalam pengaturan di mana publikasi adalah menegaskan untuk terdiri dari bahan baru, seperti dalam penerbitan akademis atau tugas pendidikan.

Dalam dunia akademik, autoplagiat terjadi ketika penulis menggunakan kembali bagian karyanya yang sudah diterbitkan dan hak cipta masih digunakan pada publikasi berikutnya, tapi tidak menyebutkan publikasi yang sebelumnya itu. Sering kali sulit untuk mengidentifikasi autoplagiat seperti ini. Mengapa? Karena yang bersangkutan menggunakan kembali material yang sama dan hal itu sah-sah saja dan secara etika kelimuan pun tidak menyalahi.

Di sini tidak ada yang salah, sebab kita sebagai penulis sudah memberi izin kepada diri sendiri. Hanya saja, nilainya yang kurang, sebab tidak mengutip sumber dari pihak ketiga. Boleh saja, asalkan tidak terlalu banyak. Sumber karya sendiri satu saja, cukup, tidak diangggap autoplagiat, dan nilainya dikurangi.

Baca Trik & Tips Menulis Biografi sebagai Novel

Dalam hal ini (autoplagiat), sebenarnya yang penting bukan harus meminta izin pada siapa pun, sebab diri sendiri yang mengantongi karya cipta, namun lebih untuk kepentingan pembaca. Jangan sampai pembaca terkecoh, seolah-olah apa yang disajikan sama sekali baru, padahal sudah merupakan daur ulang atau sepenggal dari karya cipta yang sudah ada sebelumnya. Dengan demikian, masalah autoplagiat lebih menekankan untuk jujur pada sumber, bukan harus minta izin pada orang lain.

Pengalaman menunjukkan bahwa ada beberapa kalangan (perguruan tinggi) yang tidak memperkenankan apa yang disebut dengan daur ulang kembali seperti itu. Kasusnya memang sangat spesifik. Yang tidak diperkenankan mendaur ulang ialah karya yang dikerjakan dengan sarana dan prasarana kantor dan proses mengerjakannya seluruhnya menggunakan jam kantor (office hours), sehingga secara otomatis karya tadi memang milik institusi. Dalam kasus ini, izin tentu kepada orang yang berhak mewakili dan mengatasnamakan institusi.

Akan tetapi, sebenarnya merupakan hal yang lazim di kalangan para peneliti di perguruan tinggi untuk mendaur ulang karya ilmiah dan menerbitkan karya mereka sendiri, menyesuaikannya untuk terbitan akademik yang berbeda dan menuliskannya kembali sebagai rtikel lepas di surat kabar, atau menyebarkan karya mereka kepada masyarakat luas sejauh hal itu mungkin.

Tetap ada celah bagaimana cara “mendaur ulang” naskah yang sama ke dalam 3, 4, atau bahkan 5 tulisan yang berbeda. Ini ranah blogger dan konten kreator untuk menaikkan traffict situsnya. Sekaligus menaikkan pendapatan iklan. Perlu berguru!

Akan tetapi, harus diingat bahwa peneliti ini juga membatasi pengambilalihan karya sebelumnya. Jika sebuah artikel setengah sama dengan yang sebelumnya, biasanya akan ditolak. Para mitra bestari (peer review) akan mengeceknya dan sejak dini “daur ulang” yang terlampau banyak (melebihi 10%) tidak akan dibiarkan lolos.

Stephanie J. Bird berpendapat bahwa istilah autoplagiat dapat menyesatkan karena dengan definisi plagiat dapat menimbulkan kekhawatiran akan penggunaan bahan yang sudah pernah dipublikasikan sebelumnya meski oleh orang yang sama.

Baca Literasi Digital dan Literasi Finansial

Autoplagiat lebih terarah pada masalah keadilan (fairness) daripada tindak melanggar hukum, etika, dan hak hak cipta. Seperti yang ditegaskan Samuelson bahwa faktor-faktor yang memungkinkan seseorang menggunakan atau mendaur ulang kembali bahan publikasi adalah hal sebagai berikut.
1. Karya sebelumnya harus disajikan kembali untuk meletakkan dasar atau acuan pada karya selanjutnya.
2. Karya sebelumnya harus disajikan kembali untuk meletakkan dasar bagi sumbangan baru dalam pekerjaan selanjutnya.
3. Bagian dari karya sebelumnya harus diulang untuk memberikan bukti baru atau menyatakan argumen.
4. Khalayak sasaran karya itu berbeda sehingga sah-sah saja penulis membuat versi lain atas materi yang sama untuk pasar yang berbeda.
5. Penulis konsisten dengan pendapat/gagasan/hasil temuannya, sehingga tidak mungkin untuk berkata lain pada kesempatan yang berikutnya.

Samuelson menyatakan bahwa khalayak yang “berbeda” menjadi pertimbangan tersendiri untuk menerbitkan versi yang berbeda. Samuelson menyatakan ini dengan mengacu pada suatu wacana yang ditulis untuk masyarakat hukum dan teknis yang berbeda. Tidak bisa dihindari, seseorang akan mengangkat kembali gagasan pada tulisan-tulisan sebelumnya. Lalu melakukan perubahan seperlunya, membuat catatan kaki dan menambahkan bagian substantif untuk khalayak yang berbeda.

Menurut Samuelson, autoplagiat bukanlah isu yang terlampau perlu dipusingkan. Asalkan jujur pada sumber dan mengindahkan kaidah-kaidah teknik penulisan karya (ilmiah), autoplagiat bukanlah hal yang perlu dipersoalkan.

Autoplagiat di Blog/Situs ber-Adsense dan Pribadi
Kecali Anda seorang konten kreator untuk Blog/Situs ber-Adsense maka autoplagiat sangat diperhatikan Google. Persamaan,atau kesamaan lebih dari 15% dianggap sebagai plagiat. Dan dideteksi oleh mesin sebagai “tidak unik”, atau merah.

Berbeda halnya jika Blog/situs anda sudah live in Iklannya, sering tidak masalah. Namun, jika situs belu diajukan Google AdSense-nya, jangan sekali-kali melakukan autoplagiat di atas kesamaan (similariatas) 15%.

Tetapi toh tetap ada celah bagaimana cara “mendaur ulang” naskah yang sama ke dalam 3, 4, atau bahkan 5 tulisan yang berbeda. Ini ranah blogger dan konten kreator untuk menaikkan traffict situsnya. Sekaligus menaikkan pendapatan iklan. Perlu berguru!

Kecuali blog pribadi dan bentuknya sosial media (sosmed). Sah sah saja me-repost tulisan/ narasi yang sama, berkali-kali.

Daur-ulang/ autoplagiat malah dianjurkan
Mendaur ulang konten atau naskah yang sama ke dalam beberapa tulisan yang berbeda dapat menjadi strategi yang berguna bagi blogger dan konten kreator untuk meningkatkan traffic situs dan pendapatan iklan. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tetap etis dan efektif:

  1. Memodifikasi Konten: Penting untuk mengubah konten asli dengan cara yang signifikan. Ini termasuk mengganti kata-kata kunci, mengubah susunan paragraf, atau menambahkan informasi tambahan. Tujuannya adalah agar konten yang dihasilkan menjadi unik dan berbeda dari yang asli.
  2. Mengadaptasi untuk Audience yang Berbeda: Ketika Anda mendaur ulang konten, pertimbangkan untuk mengadaptasinya untuk audience yang berbeda. Anda dapat mengubah gaya bahasa, penekanan pada informasi yang berbeda, atau menyesuaikan dengan kebutuhan audiens yang berbeda.
  3. Menyebarkan Konten: Selain dari posting di blog, Anda bisa mempertimbangkan untuk membagikan versi yang diubah ke berbagai platform seperti LinkedIn, Medium, atau platform lain yang relevan. Ini dapat membantu Anda mencapai audiens yang lebih luas.
  4. Menggunakan Format yang Berbeda: Selain mengubah teks, Anda dapat mencoba mengubah format konten. Misalnya, jika Anda memiliki artikel yang sukses, Anda bisa mengubahnya menjadi video, podcast, infografik, atau webinar.
  5. Tentukan Frekuensi yang Tepat: Jangan terlalu sering mendaur ulang konten yang sama. Ini bisa terlihat repetitif dan mengganggu audiens. Selalu prioritaskan untuk memberikan nilai tambah kepada audiens.
  6. Pantau Kinerja: Selalu pantau kinerja konten yang dihasilkan. Perhatikan metrik seperti jumlah kunjungan, waktu yang dihabiskan oleh pengunjung di halaman, dan tingkat konversi. Ini akan membantu Anda menentukan apakah pendekatan mendaur ulang konten berhasil atau tidak.
  7. Promosi yang Efektif: Jangan lupa untuk mempromosikan konten baru yang telah Anda daur ulang dengan cara yang efektif. Gunakan media sosial, email marketing, dan strategi promosi lainnya untuk meningkatkan visibilitasnya.
  8. Konsistensi Branding: Pastikan bahwa semua konten yang dihasilkan masih mencerminkan merek Anda dan pesan yang ingin Anda sampaikan kepada audiens. Ini akan membantu membangun citra merek yang konsisten.

Selain itu, pastikan Anda mematuhi hak cipta dan aturan yang berlaku terkait dengan konten yang diambil dari sumber lain. Dan, akhirnya, ingatlah bahwa mendaur ulang konten seharusnya tidak menjadi satu-satunya strategi konten Anda. Penting juga untuk terus menciptakan konten asli dan berkualitas untuk menjaga audiens Anda tetap terlibat dan tertarik.

Mendaur ulang narasi atau topik yang sama dalam konten yang berbeda dapat menjadi cara yang efektif untuk memperkuat pesan dan meningkatkan kesadaran audiens terhadap topik tersebut. Ini terkait dengan teori komunikasi yang menyatakan bahwa pengulangan pesan dapat membuat pesan tersebut “nancap” di kepala khalayak.

Baca Spektrum Menulis Anda di Mana?

Pengulangan dapat membantu dalam beberapa cara. Pertama, dengan mengulang topik yang sedang hits, Anda memastikan bahwa audiens Anda terus menerima informasi tentang hal tersebut. Ini bisa membantu dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran mereka terhadap topik tersebut.

Selain itu, mendaur ulang konten juga memungkinkan Anda untuk menyesuaikannya dengan berbagai segmen audiens. Anda dapat mengkomunikasikan pesan yang sama dalam cara yang lebih relevan atau menarik bagi berbagai kelompok orang. Dengan cara ini, Anda memaksimalkan efek pengulangan sambil tetap mempertahankan relevansi dengan audiens yang berbeda.

Penting juga untuk diingat bahwa pengulangan adalah kunci dalam pembelajaran.

Ada pepaah,  “Repetitio mater studiorum est.” Pengulangan adalah ibu dari ilmu. Istilah ini sering digunakan dalam konteks pendidikan untuk menekankan pentingnya pengulangan dalam pembelajaran dan pemahaman materi.

Pengulangan konten yang sama dalam Situs ber-AdSense dapat membantu Anda membangun otoritas dalam topik tertentu. Ketika audiens melihat Anda sebagai sumber informasi yang konsisten dan berpengalaman dalam topik tersebut, mereka lebih mungkin untuk mempercayai dan mengikuti konten Anda.

Namun, pastikan untuk tetap menjaga kesegaran dalam pengulangan. Hindari pengulangan yang membosankan atau monoton. Selalu pertimbangkan cara untuk memberikan nilai tambah, pembaruan, atau sudut pandang yang berbeda pada setiap iterasi konten Anda. Dengan melakukan itu, Anda dapat menjaga ketertarikan audiens Anda dan terus memberikan nilai yang berarti melalui pengulangan yang bijak.*)

sumber ilustrasi: Meat-us

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply