Bergesernya Pusat Peradaban di Kalimantan (1) | Dari Pesisir ke Daratan

Preambul:
Tiap berapa ribu tahun sekali terjadi pergantian pusat peradaban umat manusia?
Tak ada yang pasti tahu. Mungkin 10 ribu. Bisa jadi 5 ribu. Makin ke sini, barangkali makin cepat pergeseran itu.

Pusat peradaban umat manusia, sejak zaman sejarah hingga pertengahan abad ke-19, terpusat di pesisir atau muara sungai. Pusat peradaban ini berlangsung ribuan, bahkan mungkin, jutaan tahun. Setelah dari pesisir ke daratan, di mana lapangan terbang, pusat kota, mal, kantor-kantor berada; akan di mana lagi bergeser pusat peradaban manusia yang akan datang? Di planet lain? 

Fokus serial tulisan ini adalah fenomena, atau sejarah yang masih hangat terjadi saat ini, mulai bersegernya pusat peradaban sungai ke daratan. Makin ditinggalkan, dan terlantarnya keraton dan pusat peninggalan bekas kerajaan/ kesultanan di masa lampau –terutama di pulau Kalimantan– menjadi thaumasia, keheranan, sekaligus fokus penelitian saya. 

Pembaca dapat mengikuti ulasannya di web ini.

*

Ribuan tahun. Barangkali jutaan. Jika ada catatan, atau ada yang menghitung. Bahwa pusat peradaban, tak syak lagi, berada di pesisir.

Mengapa pesisir, atau muara sungai menjadi pusat peradaban di masa lalu?

Logika lurus saja. Sebab muara, atau pesisir, tempat strategis bagi pergi dan datangnya kapal-kapal dari luar. Transaksi perdagangan dunia berada di pesisir.

Dengan demikian, pesisir menjadi sentral bagi segalanya. Entah politik (pusat kerajaan/ kesultanan), ekonomi, juga pendidikan. 

Di bumi Borneo, bagaimana pesisir menjadi pusat peradaban tertinggal dari situs-situs penting.

  1. Keraton.
  2. Rumah ibadah.
  3. Makam keluarga kerajaan.

Pola yang demikian itu, terjadi di semua tempat pusat peradaban di Kalimantan. Setidaknya 10 tempat yang berikut ini menjadi saksi bagaimana pusat peradaban di Kalimantan berlangsung selama berabad, atau ribuan tahun berada di muara sungai besar dan panjang yang sekaligus menjadi pusat kerajaan/ kesultanan. 

  1. Sintang
  2. Sekadau
  3. Sanggau
  4. Tayan
  5. Mempawah
  6. Matan
  7. Sambas
  8. Pontianak
  9. Kutai Kertanegara
  10. Bulungan

Lokus kerajaan di masa lampau ini, saksi bahwa pesisir identik dengan pusat peradaban. Sekaligus tonggak bahwa pada siklus masa tertentu pusat peradaban sangat dekat dengan “kemakmuran” sekaligus pusat kekuasaan. Sebab hanya orang yang cukup makan yang punya waktu, juga berfilsafat, berseni sastra, berpendidikan, berpolitik, juga berbudaya. Polanya demikian.

Apa yang menyebabkan pesisir makin terpinggir? 
Jawaban atas pertanyaan itu, akan dijawab pada narasi yang berikutnya.
(bersambung)

Keterangan gambar: penampakan depan keraton kerajaan Sintang.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply