Berladang sebagai Estetika Eksistensi

Bulan Maret menjadi bulan yang sangat bersejarah bagi kaum peladang. Sebab pada bulan inilah mereka bersatu hati mengabarkan kepada dunia bahwa peladang bukan penjahat. Oleh Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), bulan Maret, tepatnya tanggal 9 Maret,  ditetapkan sebagai Hari Peladang Nasional.

 

Dibebaskannya enam orang peladang oleh Pengadilan Negeri Sintang pada 9 Maret 2020 menjadi cikal bekal penetapan tersebut.

 

Frasa “peladang bukan penjahat” mau mengatakan bahwa berladang merupakan salah satu cara bagi kaum peladang dalam menjalani dan memaknai hidup yang diibaratkan sebagai sebuah karya seni (estetika eksistensi).

 

Estetika Eksistensi

Estetika eksistensi sendiri merupakan istilah yang digunakan oleh Michel Foucault dalam proses berpikirnya tentang pembentukan subjek. Menurut Foucault, sebagaimana ditulis oleh Konrad Kebung dalam Jurnal Ledalero, Vol. 16, No. 1, Juni 2017, untuk bisa berkembang sebagai manusia, setiap orang harus bisa membentuk suatu tipe atau model dirinya (mode of being). Oleh karena itu hidup manusia dilihatnya sebagai suatu karya seni (estetika eksistensi), yaitu suatu usaha membangun diri secara terus-menerus dan tidak pernah mengenal titik istirahat.

Seperti suatu karya seni, seorang manusia harus senantiasa melukis dirinya. Kadang-kadang ia mundur agak jauh agar keindahan lukisan tampak. Manusia harus kreatif dan tidak mengenal titik stop dalam usaha dan perkembangan dirinya. Foucault juga mengklaim bahwa kalau orang sungguh memperhatikan dirinya dengan baik (care for the self), dia pasti juga akan bisa memperhatikan orang lain (care for others).

Eksistensi kita sebagai manusia memang merupakan sebuah proses menjadi dan tidak pernah mengenal titik istirahat. Menjadi manusia itu pertama-tama bukan soal “memiliki” (having), melainkan yang terpenting ialah “menjadi” (becoming). Bila “memiliki” yang menjadi penekanan atau pencarian utama dalam hidup, orang bisa menjadi begitu egois dan serakah untuk mendapatkan apa yang ia ingin miliki. Sebaliknya, bila “menjadi” yang ditempatkan sebagai prioritas, orang akan menjalani hidup sebagai sebuah proses pengolahan diri secara terus-menerus.

 

Estetika Eksistensi Mewujud dalam Harmonisasi

Dari mengamati kearifan berladang yang mereka praktekkan, saya sampai pada simpulan bahwa proses pembentukan diri itu diwujudnyatakan dalam upaya membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan Pencipta (Petara Yang Agung), dengan sesama manusia dan dengan alam.

 

Harmonisasi dengan Petara terejawantah dalam aneka upacara dan ritual adat saat musim berladang tiba. Masyarakat Dayak meyakini kalau Yang Ilahi hadir dalam dan melalui alam. Mereka yakin bahwa alam itu punya “roh”, “jiwa”, tertentu yang memberikan kehidupan kepada manusia. Maka dari itu harus dihormati. Oleh karena itu pula, perilaku manusia harus baik dan sopan dalam memanfaatkan alam atau ketika harus bersentuhan dengan alam.

 

Sementara itu, harmonisasi dengan sesama manusia dihadirkan lewat semangat kebersamaan yang tinggi dalam mengerjakan tahap-tahap perladangan. Semangat kebersamaan tersebut dilandasi oleh rasa saling memiliki di antara sesama anggota. Jika salah satu anggota mengalami sedikit keterlambatan dalam pengerjaan ladang, anggota yang lain akan dengan suka rela mengulurkan tangan untuk membantu.

 

Pada momen inilah peladang sungguh menghidupi “hukum pemberian diri”. Sebuah hukum yang mengajarkan bahwa seseorang tidak akan mencapai kepenuhan hidup jika dia tidak melampaui dirinya sendiri dan memberikan diri dalam kasih bagi sesama.

 

Terakhir, berladang sebagai harmonisasi dengan alam. Alam dan suku Dayak tak akan pernah dapat dipisahkan. Sudah sejak zaman leluhur alam menjadi penopang hidup yang tak tergantikan. Sadar akan hal ini, para leluhur mewariskan kebijaksanaan-kebijaksanaan, khususnya dalam mengolah alam, yang bisa menjadi penuntun bagi keturunan-keturunan yang kemudian.

 

Harmonisasi dalam berladang yang telah dipaparkan di atas hendak menunjukkan bahwa  melalui aktivitas berladang, hemat saya, para peladang sedang berada dalam proses melukis eksistensi dirinya sebagai manusia. Dengan berladang, mereka sedang membentuk satu tipe atau model diri (mode of being). Dalam proses pembentukan diri itu, mereka menjadi individu yang tidak hanya mengikuti nafsu dan keinginan diri semata. Mereka menjadi pribadi yang tidak hanya memperhatikan diri sendiri dengan baik, tapi juga memperhatikan sesama dan juga alam.

 

Oleh karena itu, rasanya tak adil bila ada pihak yang selalu mengambinghitamkan masyarakat Dayak, khususnya para peladang, bila terjadi kebakaran hutan dan lahan. Sebuah pepatah mengatakan, “Jangan pernah menggigit tangan yang memberi kamu makan”. Jika tanpa alam orang Dayak tak bisa hidup, maka mustahil mereka merusak sesuatu yang daripadanya mereka memperoleh makanan untuk bertahan hidup.

Share your love
Avatar photo
Gregorius Nyaming
Articles: 33

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply