Born to Write

Arsip, berupa kumpulan potongan weselpos yang telah diuangkan dan jadi daging dan darah –dulu pernah beli rumah di Bojonggede, Depok dari honor menulis.
 
Bukti bahwa semua media nasional, regional dan lokal sudah saya rambah. Dari terkecil, hingga terbesar, Kompas.
 
Potongan wesel pos itu tetap saya simpan menjadi museum yang menunjukkan bahwa saya Born to Write.
Saya mengikuti fluktuasi honor di Kompas dan  Suara Pembaruan.
 
Tarif saya mulai dari rp 25.000 (Kompas, 14 Februari 1984), naik menjadi 65.000, naik lagi menjadi rp 125.000 (1990), terakhir sebelum saya memutuskan “gantung mesin tik menuis artikel, tulisan pendek”, tarif saya di Kompas per artikel Rp 2.500.000. Suara Pembaruan dari 75.000, terakhir, Rp 1 juta.
 
Ketika mengambil honor (3 tulisan) yang dimuat di kantor Media Indonesia, jalan Gondangdialama, Jakarta. Ada bos Surya Paloh, masih muda ketika itu. Ia berdiri di  lobi. Jenggot dan cambangnya rapi. Ia menepuk bahu saya. Kemudian membelai kepala. Katanya: Bravo, Bung! Tetaplah menulis untuk Media Indonesia!
Tapi saya sebagai kolomnis, gak juga senantiasa mengincar honor tinggi. Bali Pos di Bali, Sriwijaya Pos di Palembang, Pikiran Rakyat di Bandung, Bernas di Jogja, Suara Merdeka dan Wawasan di Semarang juga saya kirimi naskah. Koran ibukota, seperti: Prioritas –sebelum jadi Media Indonesia— juga memuat artikelku.
 
Kumasih ingat, hingga kini. Ketika mengambil honor (3 tulisan) yang dimuat di kantor Media Indonesia, jalan Gondangdia Lama, Jakarta. Ada bos Surya Paloh, masih muda ketika itu. Ia berdiri di  lobi. Jenggot dan cambangnya rapi. Ia menepuk bahu saya. Kemudian membelai kepala. Katanya: Bravo, Bung! Tetaplah menulis untuk Media Indonesia!
 
Tahukah Anda? Ketika itu, Paloh sudah tajir. Tapi saya mengenalnya sebagai seorang idealis, yang berani. Meski konon katanya bisnisnya hidup di bawah naungan pohon beringin, toh ia kritis pada penguasa. Buktinya, korannya Pririotas, diberangus Orde Baru.
 
Masih jelas dalam benak saya. Halaman muka koran Pririotas yang membuatnya diberangus itu, dipigura. Dipajang pada dinding utama kantor Media Indonesia, Jalan Gondangdia Lama yang kini menjadi kantor Nasdem –saya lihat.
 
Ingin tahu berapa jumlah tulisan (artikel opini, feature, resensi, puisi, cerpen, dan cerbung) saya yg dimuat media sejak 1984? Terarsip ada 6 clear holder. Jumlahnya membuat saya tercengang: ada 4.000 artikel!
 
Di masa jayanya produktif, sebulan, artikel saya pernah dimuat: 12 oleh berbagai media. Dari hasil seleksi superketat, sebab saya mafhum dari Redaktur Opini, sebuah artikel yang dimuat Kompas misalnya harus bersaing dengan 50- 100 penulis top lainnya, kebanyakan pesohor dan pakar di bidangnya. Jadi, jika artikel kita bukan benar-benar super, bakal retour-lah, atau masuk keranjang sampah.
 
Tapi kuncinya: berkanjang. Tekun. Sebab tidak ada yang luar biasa, yang ada adalah: kebiasaan, sebuah habitus. Sebab hingga kini pun, saya tetap masih terus belajar dan berlatih. Sekolah dan kuliah bisa tamat. Tapi belajar, sepanjang hayat.
 
Mengapa Arjuna terampil memanah di malam buta dan tepat sasaran? Mengapa Pirlo mahir membobol gawang lawan pada tendangan bebas, meski dipagar betis? Mengapa Kevin bisa mengembalikan bola, susah lagi, sembari mengangkangi raket, bola kembali ke gelanggang lawan tanpa bisa diduga arahnya, lalu poin?
 
Mau tahu jawabnya:
Itu bukan hebat luar biasa! Tidak ada yang instan, kecuali: mie.
Mereka berlatih setiap hari. Bahkan di luar jadwal yang ditetapkan pelatihnya!
 
Jadi, yang orang lihat hebat itu, yang orang awam kagumi, adalah akumulasi dari: latihan, kerja keras, tekad, dan kemauan yang luar biasa untuk menjadi.
***
Hingga ketika ini. Di erea multimedia. Masihkah saya menulis?
Masih!
Bahkan, semakin gila lagi. Kemarin misalnya, menutup bulan buku November, saya menulis 10 artikel/hari.
 
Mengapa sebanyak itu? Tentu beda tujuan maupun capaiannya. Jika dahulu saya menulis untuk mendapat honor, dan yang punya media adalah orang/ perusahaan milik orang.
 
Kini saya menulis untuk mendapatkan Iklan dari Google sebanyak-banyaknya. Semakin banyak Views, cuan makin berlipat berganda. Kian orang banyak yang Klik iklan, makin banyak ikan masuk ke dalam jala.
 
Saya juga menulis untuk: media milik sendiri.
 
Itu bedanya.
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply