BORNEO: Paru-paru Dunia dalam Bahaya

Hari-hari terakhir ini. Mata dunia terjuju pada Varuna-dvipa, Borneo, Kalimantan pulau terbesar ke-3 dunia yang luasnya 743.330 km². Sungguh luas. Namun, menjadi sempit karena kepemilikan bukan lagi seluruhnya berdasarkan pemangku-adat, melainkan dipetakan orang luar. Meski di beberapa tempat, misalnya di Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara, penduduk asli berani memetakan tanah ulayat, hutan adat mereka yang diwariskan nenek moyang sejak jutaan tahun silam.

Betapa tidak! Sekian negara menyumbang dana, hanya demi menjaga Borneo tetap lestari. Namun, dana itu tidak sepenuhnya sampai tujuan. Hutan-adat misalnya, yang dimiliki masyarakat setempat sebagai indigenous peple, tak pernah kembali ke pemangkunya. Ada ada saja tangan lain yang memotong dan memindahkannya. Bahkan, hal yang disayangkan, atas nama masyarakat-adat; mereka telah dimanipulasi untuk tujuan tertentu. Kasihan!

Melihat peta Varuna-dvipa, Borneo, Kalimantan dari 1950-2020, semakin hari HIJAU itu kian dimerahkan industri dan kerakusan ekonomi dan politik. KeADAan bukan saja warning, melainkan telah Save Our Soul (SOS).

Siapa sebenarnya yang peduli pada kondisi itu? Tak bisa mengharapkan “orang luar”. Melainkan keselamatan ada pada diri-sendiri, orang dalam, para pemangku pulau itu yang diwariskan nenek moyang sejak beribu tahun silam.

Merekalah yang wajib menyelamatkan diri. Mengapa? Sebab mereka yang langsung merasakan dampaknya. selain pewaris yang ditakdirkan Tuhan untuk mendiami dan menjaganya.

Melihat peta Varuna-dvipa, Borneo, Kalimantan dari 1950-2020, semakin hari HIJAU itu kian dimerahkan. Berbagai industri, perusahaan sawit, dan perusahaan tambang yang pemiliknya dari luar pulau telah menjadikan pulau terbesar ke-3 dunia itu makin MERAH.

Paru-paru dunia ini, sedang dalam bahaya!

Mendekati sesak. Deforestasi nyata, dari peta, dari tahun ke tahun. Kawasan hijau makin tergerus oleh dominasi merah.

Apalagi, industrialisasi dan IKN akan ke sini. Deforestasi kian cepat terjadi. Seperti diketahui, industrialisasi senantiasa via a vis kelestarian alam dan hutan. Modernisasi senantiasa menafikan masyarakat-adat.

Siapa bisa jamin?

Kecuali, ada program-aksi untuk tetap mempertahankan kawasan hijau itu.

Sumber gambar:
https://www.grida.no/resources/8324

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply