Buku Analog (Cetak) – Versus Digital

Konon katanya. Kita sedang berada di era ekonomi 4.0. Untuk sebagain, saya bersetuju. Bahwa pasar kita terbuka lebar, bukan saja di sekitar kita tinggal dan berada. Melainkan juga menjangkau hingga batas dunia! Selain terbuka keluar, pasar kita juga terbuka untuk masuknya barang dan jasa dari luar ke dalam. 

Kini misalnya, kita bukan hanya bersaing (berdagang) dengan tetangga sebelah menyebelah. Kita bersaing dengan pasar dunia. Media, sebagai the extension of man (perpanjangan manusia) telah memangkas jarak dan memotong satuan waktu. Real time. Real space!

Akan tetapi, khusus buku, tidaklah demikian. Di Indonesia, saat ini –dan dapat diprediksi 5 tahun ke depan pun– perilaku masyarakat kita masih mengonsumsi dan membeli buku cetak.

Katakan Anda generasi generasi X. Berapa banyak bukukah, sebulan, yang Anda baca (belum beli). 5, 10, 15, atau 20 buku? Buku yang Anda baca gratis, ataukah beli? Mencicipi dengan hanya membaca sepotong di Google atau sengaja membeli utuh di Google Book?

Jika masih membaca gratisan, dan tidak membeli, jangan bilang Anda konsumen buku! Apalagi, bibliofili. Yang seperti kawan saya menyisihkan Rp 2,5 juta/ bulan untuk membeli buku cetak.

Berdasarkan pengalaman, buku cetak masih mendominasi hingga 5 tahun ke depan. Khususnya untuk keperluan pendidikan, kuliah, dan koleksi pribadi.

Saya sendiri, tidak terlalu merasa “wah” mempunyai koleksi e-book yang banyak. Tak kelihatan!

Saya lebih suka koleksi buku cetak. Tampak hasilnya. Selain menjadi gaya hidup.

Demikian pula, hasil menjual buku di jagad Internet –kecuali untuk promosi– tidak sebesar jual buku cetaknya. Saya masuk di toko buku virtual (Google Book dan Lulu.com). Namun, hasilnya 1: 1.000 dengan buku cetak.

Boleh dibilang, saya masuk jagad penjualan buku virtual sekadar ikut nimbrung. Sebagai pelengkap penyerta. Tapi bukan sebagai andalan.

Pasar menjual buku saya tetap segmen tertentu, captive market, ceruk, dan komunitas yang saya bina.

Kita bisa lain cara/ jalan mencapai tujuan. Jalanku bukan jalanmu. Jika kita berbeda cara, bukan berati ada yang salah.

Di sini saya sajikan data penjualan buku digital tahun 2015. Data terkini, kita keep dulu. Untuk tulisan yang berikutnya.

Cobalah! Pulanglah melalui jalan lain. 

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply