Cerpen| Pemulung di Tepi Danau

Wajah Ivan terlihat lusuh. Lebih lusuh dari pakaian yang ia gunakan. Dari raut wajahnya terlihat. Remaja itu penuh kekecewaan yang mendalam.

“Sungguh malang nasibku ini. Sudah terlahir di keluarga yang miskin, jadi pemulung lagi…!” gumamnya.

“Ayo cepat berangkat ke tepi danau. Kemarin hari libur, pasti banyak wisatawan yang berkunjung ke sana. Pungutlah botol dan barang-barang bekas yang ada di tong sampah!” ungkap sang ayah yang terbaring sakit.

“Yah… apa boleh buat. Terpaksa aku yang harus menggantikan bapak untuk memulung,” gumam Ivan sambil menarik nafas panjang.

Dengan penuh rasa kesal, Ivan menarik sebuah karung. Diambilnya juga sebuah tongkat kayu, yang telah di beri pengait besi di bagian ujungnya. Ia merasa berat untuk melangkah. Apalagi, hari itu pertama kalinya ia pergi memulung. Terkadang, pekerjaan terasa lebih berat saat baru memulainya. Apalagi jika dijalani dengan setengah hati.

Setelah perjalanan 15 menit dari gubuknya, tibalah Ivan di sebuah danau. Ia mulai mengais rejeki dari tong sampah. Mengumpulkan botol bekas dan gelas plastik. Tak berapa lama, nafasnya terasa sesak, batuk, dan hampir muntah. Aroma makanan busuk dan sampah. Sangat menyengat hidungnya. Ia pun langsung melangkah jauh dari tong sampah yang telah berserakan.

Pikirnya, “Sebaiknya aku menenangkan diri dulu. Sambil menghirup udara segar.”

Ivan duduk bersandar di bawah pohon rindang. Diambilnya sebotol minuman air mineral, dari dalam tas ranselnya. Setelah minum, ia pun menarik nafas lega. Sambil memandang keindahan danau.

“Danau itu terlihat begitu indah. Namun sayang, tak seindah nasibku yang malang,” ungkap Ivan dengan lirih.

Danau terlihat sunyi senyap. Sebab liburan telah usai. Hanya terlihat sebuah mobil mewah yang diparkir. Hanya ada satu keluarga yang datang berkunjung. Pandangan Ivan tiba-tiba beralih kepada anak muda yang duduk di kursi. Pemuda itu terlihat sangat bahagia dan menikmati hidupnya. Ia tertawa terbahak-bahak saat bermain game. Sambil menikmati hidangan lezatnya.

“Uuh… itu pemandangan yang menyebalkan. Aku dan dia sama-sama remaja. Tapi nasib kami sungguh jauh berbeda. Sejauh langit dari bumi. Lihat saja. Mulai dari sepatu, pakaian, ponsel, hingga makanan yang ia santap aja super mewah.”

“Tuhan…! Apakah salah dan dosaku? hingga aku terlahir di keluarga yang miskin,” teriak Ivan penuh kemarahan dan kesedihan, sambil menatap langit biru. Pagi itu, ia membungkam tangis yang hendak pecah. Suasana sunyi semakin menyelimuti.

Ivan terus saja memandang, sambil mengamati gerak-gerik pemuda itu. Namun, semakin lama ia memandang. Ia semakin iri dengan kehidupan pemuda itu. Beberapa menit kemudian, langit kembali mendung. Butiran-butiran kristal dari awan pekat, perlahan mulai jatuh menetes. Membasahi pemuda itu. Sang pemuda itu terlihat panik dan berteriak.

Tiba-tiba, datanglah seorang pria paruh baya. Ia berlari menuju pemuda itu. Lalu mengendong, dan mendudukkan pemuda itu di sebuah kursi roda. Pemuda itu terlihat gagap. Sehingga orang sekitarnya hanya menggunakan bahasa isyarat sewaktu berkomunikasi dengannya.

Ivan yang melihat semua itu seketika kaget dan berteriak, tidak…!”

“Aku tidak mau seperti dia. Aku tidak mau menjadi pemuda yang lumpuh dan bisu. Aku masih mau melangkah jauh dengan bebas…!”

Ivan kembali berseru kepada Tuhan. Namun kali ini, seruannya penuh permohonan dan penyesalan dosa.

 “Ya Allah, kiranya Engkau mengampuni segala dosa hamba-Mu ini…!”

“Hamba telah lancang bicara. Tidak menerima takdir yang telah Engkau gariskan. Puji dan syukur ku panjatkan pada-Mu ya Allah atas kesehatan yang telah Engkau berikan padaku,” Ucap Ivan dengan berlinang air mata.

***

Sumber ilustrasi: i.ytimg.com

Share your love
Avatar photo
Lisa Uud Danum
Articles: 2

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply