Creative Writing: Sejarah dan Perkembangannya (5)

Menulis tidak sekali jadi. Kecuali Anda telah masternya. Yang “merem” saja sudah sempurna baik konten, materi, pengkalimatan, maupun pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI)-nya.
Baca http://Creative Writing: Sejarah dan Perkembangannya (4)

Keterampilan, bukan bakat, menulis seperti kami bukan tiba-tiba jatuh dari surga. Melainkan keterampilan/ kebiasaan itu dilatih dan dibiasakan puluhan tahun. Sedemikian rupa, sehingga menulis 1 artikel sekitar 500-1.000 kata cukup dengan waktu: 15 menit saja. Selesai. Dan hasilnya pun: sampoerna.

Hebat? Bukan! Tidak ada yang luar biasa, kata “guru” kami, Aristoteles. Yang ada adalah: habit, kebiasaan, kebaikan yang dilatih. Dan diulang-ulang.

Proses kreatif, hingga dihasilkannya sebuah tulisan yang baik, dapat diibaratkan dengan membangun sebuah rumah. Dari mulai membangun fondasi hingga finishing, sebuah rumah melalui tahap-tahap penyelesaian. Ketika sudah jadi, materi atau bahan rumah itu tidak lagi terpisah, melainkan menjadi satu kesatuan yang utuh

Dalam hal menulis, mengasah keeterampilan menuangkan gagasan jadi tulisan yang hebat, tepat peribahasa Latin ini.Repetitio mater studiorum. Latihan, pengulangan, berkanjang, adalah Ibundanya dari belajar. Apa pun!

Proses kreatif menulis
Sebaiknya perlu untuk diperbedakan terminologi antara menulis dan mengarang. Mengapa? Sebab, dilihat dari proses kreatifnya, keduanya berbeda. Menulis ialah proses kreatif di dalam menghasilkan tulisan nonfiksi, sedangkan mengarang ialah proses di dalam menghasilkan tulisan fiksi. 
Baca https://bibliopedia.id/creative-writing-sejarah-dan-perkembangannya-2/?v=b718adec73e0

Menulis dapat distrategikan, tidak harus menunggu ide datang. Jika tahap invention (menemukan ide atau topik yang hendak ditulis) sudah dilakukan sementara bahan-bahan sudah siapmaka proses menulis sudah dapat dimulai. Sementara mengarang kerap harus menunggu ilham datang karena namanya juga mengarang maka proses penciptaannya jauh lebih rumit dan memakan waktu.

Akan tetapi, dilihat dari proses kreatif atau mata rantai penciptaan, baik menulis maupun mengarang sama saja. Proses kreatif menulis dan mengarang hampir sama dengan proses retorika.

  1. Invention (mencari/menemukan)
  2. Collection (mengumpulkan)
  3. Organization (mengorganisasikan
  4. Drafting (menulis/membuat draft)
  5. Revising (merevisi)
  6. Proofreading (memeriksa cetak coba/pruf).

Proses kreatif, hingga dihasilkannya sebuah tulisan yang baik, dapat diibaratkan dengan membangun sebuah rumah. Dari mulai membangun fondasi hingga finishing, sebuah rumah melalui tahap-tahap penyelesaian. Ketika sudah jadi, materi atau bahan rumah itu tidak lagi terpisah, melainkan menjadi satu kesatuan yang utuh. 
Baca https://bibliopedia.id/creative-writing-sejarah-dan-perkembangannya-1/?v=b718adec73e0

Sementara topik tetap fokus, tidak melebar, sebagaimana tampak dalam gambar berikut ini. Gaya selingkung Tempo menyebut kesetiaan pada topik ini sebagai “unting-unting”.
(bersambung)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply