Dari Ladang ke Eklesiologi Komunio (1)

Tulisan pada bagian ini akan menjadikan tradisi beduruk sebagai locus theologicus. Tradisi ini akan saya kaitkan dengan salah satu tema sentral dan fundamental yang diusung oleh Konsili Vatikan II. Yakni, membangun Gereja sebagai persekutuan (komunio).

Tidak semua aspek yang terkait dengan Gereja sebagai komunio akan saya jabarkan dalam artikel ini. Dengan menggali nilai-nilai dan semangat dalam beduruk, saya ingin memusatkan diri pada beberapa tema yang oleh Konsili Vatikan II diberi penekanan demi terciptanya Gereja sebagai komunio.

Seperti misalnya, pentingnya partisipasi umat beriman, laki-laki maupun perempuan (kaum awam), dalam hidup menggereja; perhatian atau solidaritas terhadap mereka yang kecil dan lemah.

Beduruk (begitu kami orang Dayak Desa menyebutnya) secara ringkas diartikan sebagai kerja bersama atau gotong royong oleh beberapa warga dalam mengerjakan ladang. Sebagai sebuah kegiatan komunal, beduruk menampilkan nilai-nilai esensial yang sangat penting untuk menunjang keberlangsungan hidup sebagai komunitas.

Nilai-nilai seperti solidaritas, kesetiakawanan, pelayanan, pengorbanan, tanggung jawab, penghargaan terhadap sesama, dan seterusnya, semua itu dijumpai di dalam beduruk.

Dengan hadirnya nilai-nilai tersebut, tradisi ini telah, sedang dan akan tetap selalu memainkan peran yang sangat penting bagi masyarakat Dayak dalam upaya  mereka bertahan hidup di era modern ini. Era di mana semangat gotong royong semakin digerus oleh individualisme dan pada saat mana hampir segala pekerjaan dinilai dengan uang.   

 

Sekilas tentang tradisi beduruk

Kemunculan tradisi beduruk tak bisa dilepaskan dari proses pengerjaan ladang yang cukup panjang. Setidaknya ada delapan tahap pengolahan ladang yang harus dilewati: 1) memilih dan menentukan lokasi (mangul), 2) menebas (nebas), 3) menebang (nebang), 4) membakar ladang (nunu), 5) mengumpulkan dan membakar kayu-kayu sisa pembakaran (nayak), 6) menanam (nugal), 7) menyiangi (mabau) dan 8) memanen (ngetau).

Melihat proses yang cukup panjang dan melelahkan ini rasanya tidak mungkin bila ladang dikerjakan seorang diri saja. Beduruk, kemudian, dipandang oleh warga sebagai jalan keluar yang efektif dan efisien untuk mengolah lahan pertanian. 

Lalu, bagaimana praktek beduruk ini dilaksanakan? Beduruk selalu dilaksanakan dalam tahap-tahap pengolahan ladang seperti yang telah disebutkan di atas. Dari kedelapan tahap tersebut, nebas, nebang, nayak, nugal, mabau dan ngetau biasanya dikerjakan dengan cara beduruk.

Sementara pada tahap nunu, meskipun memerlukan banyak tenaga, kerelaan dan kesediaan warga lain untuk membantu keluarga yang sedang nunu lebih ditonjolkan.

Sekurang-kurangnya ada dua jenis beduruk. Pertama, beduruk setengah hari. Beduruk jenis pertama ini dilaksnakan setelah jam makan siang. Dilaksanakan mulai pada siang hari dengan pertimbangan pada pagi harinya para anggotanya masih pergi menyadap karet (noreh), atau masih mengurus urusan rumah tangga lainnya. Aktivitas beduruk ini berakhir sekitar pukul 16.30. Untuk anggotanya sendiri berkisar antara 5-10 orang.

Kedua, beduruk satu hari penuh. Masyarakat Dayak Desa di kampung saya menyebut beduruk jenis ini dengan arisan. Arisan dilaksanakan dua kali dalam seminggu. Sejauh yang penulis amati arisan dilaksanakan pada hari Rabu dan Jumat. Jumlah anggota dalam beduruk jenis kedua ini lebih banyak dari anggota beduruk yang pertama. Anggotanya bisa berkisar antara 15-20 orang. Arisan biasanya dimulai pada pukul 09.00 dan berakhir pada pukul 16.30.

Dalam pelaksanaan arisan, setiap anggota akan membawa bekal dari rumah masing-masing. Sementara anggota yang nampil – istilah yang dipakai oleh masyarakat Dayak Desa untuk merujuk kepada anggota yang ladangnya mendapat giliran untuk dikerjakan – bertanggung jawab penuh untuk menyediakan lauk-pauk dan sayur-mayur.

 

Nilai dan semangat persekutuan dalam beduruk

Sebagai sebuah bentuk gotong royong, tradisi ini menampakkan dengan benderang semangat kebersamaan dan kekeluargaan. Bekerja dalam semangat kebersamaan dan kekeluargaan membuat setiap anggota akan saling menghargai keberadaan, peran dan fungsi satu sama lain.

Dalam sikap saling menghargai itu, warga disadarkan betapa kehadiran orang lain sungguh mendatangkan banyak berkat serta kemudahan dalam hidup. Kesadaran tersebutlah yang selalu membimbing dan menggerakkan mereka untuk sedikit pun tidak memandang atau pun memperlakukan orang lain sebagai alat/mesin. Apalagi sebagai budak.

Kesadaran akan berharganya orang lain menumbuhkan sikap solidaritas terhadap sesama. Terlebih terhadap mereka yang kecil, lemah dan tak berdaya. Dalam beduruk sendiri, solidaritas tersebut ditunjukkan lewat ketulusan dalam membantu anggota yang ladangnya masih banyak memerlukan pengerjaan.

Kesediaan untuk membantu ini semata-mata digerakkan oleh kasih dan rasa kekeluargaan, bukan karena mengharapkan upah.

Dalam semangat kebersamaan dan kekluargaan ini menjadi nyatalah apa yang telah diajarkan oleh St. Paus Yohanes Paulus II bahwa, kebaikan semua menjadi kebaikan masing-masing dan kebaikan masing-masing menjadi kebaikan semua (Christifideles Laici, 28).

Gereja sebagai sebuah communio merupakan keluarga Allah. Sebagai keluarga Allah, kasih merupakan landasan utama agar ia bisa tetap bertumbuh dan berkembang. Paus Benediktus XVI dalam ensikliknya menegaskan: “Gereja adalah keluarga Allah di dunia. Dalam keluarga ini tak seorang pun dapat dibiarkan tanpa mampu memenuhi kebutuhan hidupnya…jangan sampai di dalam keluarga Gereja ada orang yang mengalami penderitaan apapun juga” (Deus Caritas Est, 25).

Tingginya rasa solidaritas antarwarga sungguh mencerminkan nilai mendasar dari hidup manusia, yakni manusia sebagai pribadi bagi sesama (being for others; lih. Ensiklik Spe Salvi, 28).

Menghidupi nilai ini bukanlah perkara yang gampang. Apalagi sekarang beberapa komunitas adat tidak lagi hidup bersama di rumah panjang (rumah betang). Ditambah lagi dengan pesatnya kemajuan ilmu teknologi seakan semakin membuka ruang bagi individualisme untuk berkembang dengan subur.

Hadirnya beduruk, dalam hal ini, menjadi salah satu sarana untuk menangkal perkembangan tersebut. Sebab dengan mau melibatkan diri dalam kerja gotong royong warga sesungguhnya diajak untuk “keluar” dari dirinya.

Dengan mau membuka diri, keluar dari ruang sempit dirinya, maka seseorang bisa belajar dari orang lain. Dalam dunia perladangan, misalnya, seseorang bisa belajar dari yang lain bagaimana cara yang baik dan tepat untuk menghasilkan panen yang bagus.

Namun, lebih dari sekadar berbagi keterampilan, orang diajak untuk memaknai bahwa kepenuhan hidup akan tercapai bila mereka mau memberikan dirinya bagi orang lain dan berkorban bagi sesama. “Manusia tidak dapat menemukan diri sepenuhnya tanpa dengan tulus hati memberikan dirinya”, demikian ditandaskan oleh Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes (no. 24).

 

Foto: Ibu-ibu sedang beduruk mabau (menyiangi rumput). Sumber: dokumentasi pribadi.

Share your love
Avatar photo
Gregorius Nyaming
Articles: 33

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply