Dayak Diaspora Jakarta yang Kisah Serunya Dibungkus Buku Ini

Buku ini merupakan salah satu dari 50 buku ber-ISBN yang akan diluncurkan dan akan dibahas pada Hari Studi dan Peresmian kampus baru Institut Teknologi (ITKK) Keling Kumang Sekadau, Kalimantan Barat, pada 4-5 hari bulan Agustus 2024.

Baca Buku tentang Sejarah Dayak yang Mungkin kan Menyentak

Mungkin akan menyentak. Mengapa? Sebab ini adalah pustaka berpotensi mengguncang dunia akademik, terutama mengenai asumsi bahwa orang luar yang datang ke Borneo, yang secara lambat-laun menjadi penduduk asli.

Diaspora Dayak Kalbar pertama ke Jakarta
Tentu bukan Frans Conrad Palaunsoeka, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong 1966–1971, nomor anggota: 139.

Lelaki jangkung  yang lahir pada 19 April 1923 di Melapi, sebagai Dayak Taman Ambaloh ini kemudian tinggal dan menetap di bilangan Grogol, Jakarta Barat. Namun, belum tercatat namanya dalam “kitab kehidupan” bernama buku-sejarah. Buku mengikat ilmu. Ia abadi. Sebagai dokumen. Yang mencatat kejujuran sebagai fakta sejarah.

Bukti yang diungkap dalam buku ini menggambarkan bahwa Dayak dari Borneo melakukan perantauan jauh dari pulau tersebut, meninggalkan insula terbesar ke-3 dunia.

Diaspora Dayak Kalbar naik kapal laut dari Pelabuhan Pontianak dan merapat di Sunda Kalapa, jauh sebelum bandara Soekarno-Hatta dibuka.

Tekad kuat untuk mengubah nasib terlihat dalam perjalanan sekelompok Dayak Kalbar diaspora yang membangun komunitas.

Meskipun tidak sebesar kisah perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Tanah Terjanji yang memakan waktu 40 tahun, namun ada kesamaan dalam berjuang, bertahan, dan dibimbing oleh kemauan sekeras baja serta kehendak sekuat tunggul kayu belian untuk meningkatkan nasib.

Pendekatan ini memberi perspektif baru terhadap sejarah migrasi dan perkembangan masyarakat di Borneo. Potensi untuk mengubah arah narasi sejarah. Memicu diskusi dan penelitian lebih lanjut tentang asal usul dan perjalanan sejarah suku Dayak.

Hasil C-5 (karbon) oleh Museum Sarawak
Bahwa Dayak, seperti hasil uji C-5 (karbon) oleh Museum Sarawak bekerja sama dengan Inggris memberi clue yang pasti. Bahwa penghuni bumi Borneo telah ada 40.000 tahun lalu di Gua Niah, Miri, Sarawak.

Pada ketika ini, pewaris situs arkais sejarah Varuna-dvipa, nama Borneo era Hindu-India, adalah orang: Iban. Studi arkeologi, juga etno-linguistik menyimpulkan: siapa yang mewarisi, dan tinggal, di sebuah situs kuno itulah: pewaris sah dan sejatinya. No debate!

Buku ini meneguhkan  hasil uji C-5 (karbon) oleh Museum Sarawak. Bahwa pola migrasi orang Borneo: dari Borneo keluar, bukan sebaliknya. Bukti-bukti artefak, dokumen, narasi/ peristiwa, dan tokoh menjadi bukti-kuat historiografi. Sedemikian rupa, yang membedakannya dari: mitos dan dongeng yang serba: katanya.

Niscaya pustaka yang sarat dengan catatan kaki ini akan menjadi langkah besar dalam memperluas pemahaman tentang sejarah dan identitas masyarakat Dayak, merangsang refleksi lebih lanjut tentang konsep-konsep yang telah diterima secara umum.

Kiranya buku ini dapat menginspirasi dan memantik diskusi ilmiah serta pemikiran kritis tentang identitas budaya dan sejarah masyarakat Dayak diaspora di ibukota Jakarta.

Cerita menarik ini juga menyajikan banyak pengalaman dari warga Dayak Kalbar yang datang ke Jakarta hanya dengan bekal modal dengkul, bahkan ada yang hanya membawa kolor dan satu dua helai baju tanpa modal uang. Meskipun menghadapi tantangan tidur di terminal, gardu hansip, dan mandi di rumah ibadah, mereka akhirnya mampu menjalani kehidupan layak, bahkan ada yang mencapai kesuksesan sebagai pengusaha.

Inilah rangkaian panjang perjalanan, suka duka, derai tangis, dan cucuran air mata dari Dayak diaspora asal Kalbar yang berhasil menundukkan ibukota Jakarta, yang konon katanya lebih kejam daripada ibutiri itu.*)

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 235

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply