Dosen-dosen Milenial Institut Teknologi Keling Kumang Pelatihan Menulis Buku Teks

Dosen-dosen Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK) di Sekadau, Kalimantan Barat, dibekali oleh manajemen kampus Bumi Lawang Kuwari keterampilan menulis.

Para dosen milenial penuh antusias mengikuti dengan saksama workshop yang digelar di kampus Jalan Rawak pada tanggal 29 Januari 2024. 

Baca Filsafat Ilmu: Menang Hibah Buku Teks bukan Karena Pengantar Saya

Acara penting ini bertajuk “Tips dan Trik Menulis Buku Teks” yang disampaikan oleh narasumber Masri Sareb Putra, M.A., seorang penulis nasional dan peneliti asal Jakarta.

Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dosen-dosen dalam menulis

Workshop ini diadakan sebagai upaya untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan dosen-dosen dalam menulis, sebuah keterampilan yang menjadi keharusan di dunia akademis saat ini. 

Dr. Stefanus Masiun, Rektor Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK): Dari Sekadau untuk bangsa.

Dr. Stefanus Masiun, Rektor ITKK, dalam sambutannya menyatakan tujuan dari pelatihan ini, “Kita membekali dosen-dosen dengan keterampilan yang sangat mereka perlukan, yakni keterampilan menulis. Sebab saat ini dosen-dosen wajib menulis dan publikasi selain untuk kepentingan kenaikan Jabatan Fungsional, juga sangat berguna untuk keperluan akreditasi.”

Baca Tips Praktis Terampil Menulis: Duduk Manis (Saja) Depan Laptop dan Tuangkan Gagasan!

Pada acara pembukaan, Redemptus Musa, Ketua Yayasan Pendidikan Keling Kumang, yang turut hadir, menekankan pentingnya hasil publikasi bagi perguruan tinggi modern.

“Perguruan tinggi zaman sekarang tidak hanya dinilai dari segi mutu pengajaran, tetapi juga dari hasil publikasi atau terbitan sivitas akademika,” ujarnya.

Musa menekankan pentingnya dosen memiliki keterampilan menulis dan publikasi.

Dr. Stefanus Masiun juga menetapkan target ambisius untuk meningkatkan produktivitas akademik di ITKK, “Target kita akan menerbitkan 50 buku ber-ISBN.” Ia menekankan bahwa ini merupakan esensi dari peran perguruan tinggi, yakni menelurkan karya dan pemikiran akademik sebagai sumbangan nyata bagi masyarakat.

Workshop ini diharapkan dapat memberikan dorongan bagi dosen-dosen ITKK untuk lebih aktif dalam menulis dan berkontribusi pada peningkatan kualitas akademis serta reputasi institusi.

Dari Sekadau untuk bangsa

Masri Sareb menambahkan, “Publikasi hasil penelitian dari segi kuantitas dan kualitas juga membuktikan bahwa ‘Bukan tempat yang mengubah kita, tetapi kitalah yang mengubah tempat.’ Ini mencerminkan semangat inovasi dan keberanian untuk berkarya dari para dosen dan peneliti di ITKK.”

Baca Studium Generale, bukan Stadium General

Keberhasilan ini tidak hanya menjadi prestasi bagi ITKK tetapi juga merupakan model pendekatan baru dalam mengubah paradigma pendidikan di wilayah Sekadau. Dengan terus menghasilkan karya-karya yang relevan dan bermutu, ITKK berperan aktif dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademis tetapi juga memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional.

Konversi hasil penelitian ke buku teks

Masri, penulis nasional yang juga Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (Puslitdianmas) ITKK melakukan alih-keterampilan mengkonversi hasil penelitian (tesis) menjadi buku teks.

Masri Sareb Putra, M.A. : menulis suatu keterampilan yang bisa dipelajari dan diasah, bukan talent.

“Ini makan minum saya sehari-hari. Bukan soal hebat, tapi kebiasaan saja,” papar penulis 148 buku ber-ISBN yang salah satunya Dayak Djongkang memenangkan hibah buku teks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2010.

Baca Dayak Djongkang | Mendapat Dana Hibah Buku Teks Perguruan Tinggi Tahun 2010

“Dari tesis, skripsi, atau disertasi,” kata Masri, “ada bagian tertentu yang ditiadakan dalam buku teks. Namun, ada bagian yang dipertahankan, dan tinggal hanya sedikit menyentuhnya, dengan suatu keterampilan khusus.”

Masri mencontohkan, di dalam workshop sehari penuh, “Bab IV adalah Hasil Penelitian dan Pembahasan. Bisa jadi dua bab. Satunya Hasil Penelitian, ya hasil penelitian saja kontennya. Sedangkan Pembahasan bab tersendiri. Tinggal mengganti ‘Tesis / penelitian ini’ menjadi ‘buku/pustaka ini’, beres deh!” papar pria penyuka Koes Plus kelahiran Jangkang, yang menyelesaikan SMA di Sekadau itu.

Senada dengan Masiun dan Musa, Masri menekankan, “Keterampilan menulis bagi dosen saat ini suatu keharusan. Untuk naik Jabatan Fungsional, wajib hukumnya publikasi. Dan buku ber-ISBN paling tinggi kum (angka)-nya, yakni 40,” terang Masri.

Masri menekankan bahwa publikasi, juga Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) melekat pada dosen. Ditekankannya pula, “Perguruan tinggi yang berperingkat nasional dan internasional karena ditunjang oleh publikasi sivitas akademikanya yang juga subur. Salah satu kriteria yakni Webometrix, yakni terindeksnya karya para dosen di jagad sitasi dunia. Sitasi karya dosen juga penting untuk menambah angka di akun Google Scolar masing-masing.

Pada sesi workhop menulis buku teks itu, Masri membagi e-book utuh karyanya berjudul How to Write Your Own Text-book: Trik & Tips Menulis Buku Perguruan Tinggi kepada semua peserta.

“Agar dosen-dosen paham seluk beluk buku, terutama jenis-jenis buku perguruan tinggi. Tahu bedanya antara buku teks, buku pengayaan, buku ajar, dan modul,” kata Masri sembari menekankan, “Untuk menghasilkan produk berkualitas, diperlukan lebih dulu pemahaman yang mendalam dan menyeluruh.”

Menutup sesi workshop yang diikuti 18 dosen tetap ITKK, yang usia mereka rata-rata 30 tahun, Masri memberikan tips dan trik bagaimana mengikuti dan memenangkan hibah buku ajar, buku teks, dan artikel ilmiah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam pada itu, penulis produktif yang sehari-hari tinggal di Jakarta itu memberikan tipsnya dalam materi Power Point.

Masri Sareb Putra,  menyatakan, “Menulis suatu keterampilan yang bisa dipelajari dan diasah, bukan talent. Kuncinya adalah: mulai menulis!”

(Kris Lucas)

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 235

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply