Dulu Semen, Minyak Goreng, Lalu…..

Isu minyak goreng baru saja berlalu. Muncul masalah baru: anjlognya harga sawit. Petani teriak. Mereka protes keras. Ekonom berkata, “Bagaimana sih? Mengelola barang melimpah saja kita gak becus, apalagi mengeloa barang langka?”

Muncul sas sus. Minoritas (petani) dikorbankan untuk kepentingan mayoritas (konsumen migor). Benarkah?

Karena menyangkut hajat hidup banyak orang. Minyak selama  berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan telah pun menjadi topik trending.

 
Siapa saja membahasnya. Menjadi kata kunci manakala kita membaca di berbagai media sosial tetap saja ini dibahas. Dari sisi ekonomi, politik, maupun dari berbagai dimensi Migor menjadi semacam isu. Yang bukan saja enak digoreng melainkan juga seksi untuk dijadikan isu.
 
Ya kalau lama-lama digoreng, minyak memang akan jadi panas.
 
Bahkan ada pula Q, atau pertanyaan, dari Borneopedian: apa sebab minyak goreng langka?
 
Pertama-tama itu adalah hukum ekonomi. Ihwal permintaan dan penawaran. Pun pula, kita kini berada dalam satu dunia yang oleh Luhan tahun ’67 diramalkan sebagai big village.
 
 
Dunia yang dahulu pun bulet dan maha luas itu kini telah benar-benar menjadi sebuah kampung besar. Kita tidak lagi hidup sendirian. Kita hidup  koeksistensi dengan warga dunia lainnya.
 
Sedemikian rupa, sehingga produksi sawit dalam negeri menjadi komoditas atau konsumsi global.
Saya mengantongi senarai 10 besar pemain industri sawit dalam negeri. Seperti diketahui, sawit bukan semata-mata dijadikan minyak goreng.
 
Ada banyak produk yang bahan dasarnya dari buah sawit. Misalnya sabun, kosmetika, mentega, bahkan biodiesel dan telah ditemukan pula bisa menjadi bahan bakar sepeda motor.
 
Komoditas yang menyangkut hajat hidup banyak orang, bisa dipolitisasi!
 
Di India, saya melihat bagaimana orang-orang kampung dapat mengolah buah sawit menjadi di migor untuk dikonsumsi sendiri dan oleh rumah tangga dalam skala besar.
 
Kemarin saya menemani putra yang yang ber tkanjang dalam industri kuliner. Saya menemaninya belanja di grosir. Di Jakarta, ternyata tersedia stok minyak goreng dari berbagai macam bahan.
 
Ada minyak goreng dari kedelai, dari bunga matahari, dari zaitun; semuanya tersedia. Apalagi yang dari bahan kelapa sawit. Tinggal pilih. Mana suka, sesuai dengan keperluan kita.
 
Bahwa langkanya migor dari sawit memang juga fakta. Setelah digoreng menjadi isu, semakin panas.
 
Saya tidak tahu persis. Mesti berpihak di mana. Di kampung halaman di Kalimantan, saya punya beberapa hektar kebun sawit. Yang juga telah berproduksi dan menghasilkan.
 
Tapi saya memelihara ingatan, melalui arsip tulisan. Saya ingat betul.
 
Dalam sejarah beberapa kali kita langka dalam hal produk tertentu, yang yang posisinya sangat vital.
 
Saya masih menyimpan ingatan.
Salah satu arsip artikel saya tahun ’90-an. Tentang langkanya produksi dan distribusi: semen nasional.
Ke depan, barang apa lagi yang langka? Ternyata, komoditas yang menyangkut hajat hidup banyak orang, bisa dipolitisasi!
 
Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 719

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply