Epistolary Novel

Ada 9 genre. Atau ragam novel. Salah-sembilannya adalah: Epistolary Novel. Dari kata Latin “epistola” yang berarti: surat. Dalam khasanah creative writing, Epistolary Novel adalah novel berbentuk surat. Ia lepas-lepas sebagai surat. Namun, diikat dengan topik sama.

Sederhana proses kreatif menjadikan novel genre ini. Boleh dikatakan, novel ini bukan pendekatannya kronologis; melainkan tematik. Mengerucut pada satu tema yang sama.

Rajin-rajinlah membuat catatan harian. Bila suatu saat dikenal, atau karena sesuatu dan lain hal Anda menjadi seorang tokoh  kontroversial, catatan harian akan menjadi tambang emas.

Ada banyak buku laris yang diangkat dari catatan harian. Misalnya,  catatan harian Anne Frank, atau catatan harian Soe Hok Djie yang mengalami cetak ulang beberapa kali, Catatan Seorang Demonstran.

Siapa nyana. Siapa menduga. Bahwa kemudian  catatan harian Anne Frank menjadi sebuah karya yang sangat monumental. 

Asalkan berisi sesuatu yang unik dan lain dari yang lain, catatan harian dapat dikemas menjadi komoditas yang laik jual.

Buku harian Anne Frank ini laris manis dan menjadi karya monumental

Kalau bukan catatan harian pribadi, Anda dapat mengumpulkan, menyunting, dan menerbitkan catatan harian seseorang yang dianggap laik terbit dan laris sebagai komoditas.

Selain dipublikasikan begitu saja, catatan harian bisa dijadikan sebagai dasar membuat novel.  Bukankah salah satu genre novel ialah novel berbentuk catatan harian atau surat (epistolary novel)?

Di negeri kita, Dealova karya Dyan Nuranindya ini, contoh epistolary novel.

Selain ini. Pernahkah Anda membaca novel berbentuk surat?

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply