Filsafat Kebudayaan Dayak

Dayak adalah topik kajian yang sangat luas. Rumpun besar sukunya sendiri ada 7, terdiri atas 405 subsuku. Tesebar di seantero Borneo, pulau terbesar ke-3 dunia, dengan luas yakni 743.330 km²

Kebudayaan yang diterima universal adalah sebagaimana yang dikemukakan Kroeber dan  Kluckhohn dalam buku Culture: A. Critical Review of Concepts and Definitions (1952). Apa yang Kroeber dan  Kluckhohn kemukakan, diterima di mana-mana sebagai suatu aksioma.

Dalam kaitan dengan itu, antropolog dan penulis terpandang Indonesia, Koentjaraninrat (1971: 12) mengemukakan bahwa terdapat berbagai aspek atau ujud kebudayaan manusia yang muncul dalam 7 bentuk, yakni:

1) Sistem religi dan upacara keagamaan,
2) Sistem dan organisasi kemasyarakatan,
3) Sistem pengetahuan,
4) Bahasa,
5) Kesenian,
6) Sistem mata pencaharian hidup, dan
7) Sistem teknologi dan peralatan.

Salah satu dari unsur kebudayaan  yakni bahwa sistem mata pencaharian suatu kaum atau suku bangsa adalah bagian dari kebudayaan. Mata pencaharian atau usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup suatu kelompok masyarakat biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama situasi dan kondisi geografis dan faktor musim di mana suatu kaum/ suku bangsa itu hidup dan berada.

Demikian juga halnya dengan sistem mata pencaharian suku Dayak.

Buku-buku dan referensi selama ini menyatakan sistem mata pencaharian suku Dayak: buruh, tani, berladang, bercocok tanam, berkebun, menoreh, berburu, mencari hasil hutan dan seterusnya. Mengacu ke sistem mata pencaharian suku suku-suku nomaden dan terbelakang di masa lampau.

Pada masa 40 tahun yang lalu, sebagian gambaran itu benar. Namun, kini, sistem mata pencaharian suku Dayak sudah berubah dan mengalami peningkatan.

Kita dapat menulis sistem mata pencaharian suku Dayak kini sebagai berikut: berkebun (sawit), berdagang, guru, PNS, pegawai kantor, rohaniwan, politikus, pengusaha (walet, hotel, agrobisnis, kafe/restoran, transportasi dan wisata), pekerja media/literasi.

Itulah, antara lain, konsepsi atau image sistem pencaharian suku Dayak yang wajib dikoreksi. Inilah cara kerja filsafat itu: berpikir hingga ke akar-akarnya, membongkar sesat-pikir, mengkritisi realitas, dan menyadarkan masyarakat akan keBENARan.

Demikianlah, antara lain sajian menu gizi buku ini. Semuanya fokus pada bagaimana mendefinisikan kembali dan menemukan deep structure dan dinamika dari Kebudayaan Dayak masa lampau yang telah berubah wajah pada masa kini.

Salah satu tugas filsafat adalah: membongkar asumsi yang keliru!

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply