Gerakan Mahasiswa 1974, 1978, dan 2024: Perbedaannya di Mana? Baca Buku ini!

Tahun 1988, di tengah getaran penuh semangat perubahan di Indonesia. Tiga serangkai cerdik cendekia, termasuk penulis, diberi tugas istimewa oleh pimpinan di Kompas Gramedia untuk riset. Sekaligus menulis dan menerbitkan buku ini.

Mengapa meminta “penulis dari dalam”? Selain bisa speed and quality, penulisan “dari dalam” berusaha menepis bias. Berupaya untuk netral. Menulis berdasarkan pada dokumen sejarah. Mencatat fakta-peristiwa apa adanya.

Baca Biography of D.N. Aidit Published During the Open Era

Misi yang diemban tim penulis adalah menangkap dan merangkum esensi serta latar belakang Gerakan Mahasiswa dari masa ke masa. Suatu tugas yang tidak mudah. Selain menuntut ketekunan, juga memerlukan kecerdasan intelektual.

Selain memperlengkapi diri dengan dokumen-sejarah guna memperoleh pemahaman mendalam tentang semangat perjuangan.

Dokumen arsip KITLV
Sebelum mengambil pena dan kertas. Saya bersama kedua sahabat memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan intelektual melalui setumpuk majalah kampus di seluruh Indonesia.

Di antara stapel-stapel halaman yang berserakan, mata dan pikiran kami tertumbuk pada majalah-majalah kampus dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Kampus yang dijuluki sebagai “kampus intelek” dan “kampus perjuangan” itu memberikan sebuah panggung bagi pemikiran progresif dan semangat perlawanan.

Baca Sobron Aidit dan Suratnya kepada Tuhan ketika tak Ada Lagi yang Mendengar Keluh Kesahnya

Dari mana kami mendapat sebanyak-banyaknya bahan untuk menulis sejarah Gerakan Mahasiswa masa ke masa?

Kami mendapatnya dari rekan dan sahabat orang Belanda, Jaap Rrkelens. Sejumlah besar dokumen yang menjadi arsip KITLV. Sungguh usaha berjanjang menyimpan dokumen sejarah yang luar biasa! Nulli secundus. 1, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Tak ada 2-nya!

Agar pembaca mafhum. KITV adalah singkatan Koninklijk Instituut voor Taal –, Land – en Volkenkunde yang berdiri sejak 1851. Suatu lembaga intelektual mengkhususkan pada pengumpulan informasi dan memajukan penelitian mengenai keadaan masa kini dan lampau daerah-daerah bekas koloni HIndia Belanda dan wilayah sekitarnya.

Baca Politeía: Risalah Politik Kuna Plato Sekali Lagi

Dengan setiap halaman yang kau baca, kau meresapi atmosfer kebebasan berpikir dan semangat juang mahasiswa ITB. Kau merasakan denyut energi perlawanan dan kesadaran yang membara, memperkuat tekadmu untuk menggali lebih dalam lagi ke dalam sejarah gerakan mahasiswa.

Setelah berbulan-bulan menyelam dalam literatur kampus, saya dan sahabat-sahabat mulai merangkum pengetahuan menjadi sebuah narasi yang mendalam dan kaya akan warna. Setiap pta kata yang kami tulis menjadi semacam doa. Media untuk menyampaikan semangat dan keberanian para mahasiswa yang telah membentuk sejarah perubahan di negeri ini.

Buku yang kami ciptakan menjadi jendela melintasi waktu, membuka pintu pada era mahasiswa yang penuh gairah dan idealisme. Judulnya, sebagaimana dapat Anda lihat dalam ilustrsi, menjadi saksi bisu dari penelusuran kami yang tak kenal lelah untuk sebuah buku sejarah, yang mengabadikan fakta.

Diperkuat dan diperkaya pelaku Gerakan Mahasiswa
Untuk memperkaya wawasan sejarah, kami juga mewawancarai pelaku Gerakan Mahasiswa tahun 1974: Sjahrir dan Arif Budiman, tokoh Gerakan Mahasiswa 1977 Rizal Ramli dan Hilal Hamdi. Diperkuat oleh penulis, intelektual, dan pengamat politik waktu itu: Mochtar Pabottingi.

Ketika buku itu pertama kali meluncur ke pasar, tanggapan tak terduga menyambutnya. Bukan hanya sebagai kumpulan fakta sejarah. Lebih dari itu, sebagai karya yang menyalakan kembali semangat perjuangan dalam benak pembacanya.

Diskusi-diskusi bermunculan di kalangan masyarakat. Membangkitkan semangat keadilan dan kebebasan.

Baca Yukl: Leadership in Organization

Dalam perjalanan menulis buku, para penulis tidak hanya menyusun sejarah, tetapi juga merayakan roh perlawanan yang abadi. Pengalaman tahun 1988 itu, seolah menjadi sebuah kapsul waktu yang membuka jendela pada kegigihan dan tekad yang mewarnai perjuangan mahasiswa. Dan di setiap halaman buku, tetap bergetar terasa semangat tak terkalahkan Gerakan Mahasiswa Indonesia.

Aksi Mahasiswa masa ke masa 1971 – 2024

Dalam perjalanan intelektual dan penulisan buku, penulis memerinci sejarah Gerakan Mahasiswa Indonesia melalui fase-fase kritis yang mencerminkan semangat dan tekad perubahan.

Fase-fase Aksi Mahasiswa menjadi garis waktu yang menghubungkan perjuangan mahasiswa dari masa ke masa. Buku ini merangkai kisah-kisah yang menggugah jiwa di setiap episodenya.

1) 1974 (Malari): Di tengah gejolak politik pasca-Peristiwa Malari, mahasiswa menjadi pionir perlawanan. Penulis mengungkapkan bagaimana mahasiswa, dengan semangat keadilan yang membara, berdiri di garis depan melawan kebijakan yang dianggap merugikan rakyat.

Malari menjadi sorotan utama, di mana mahasiswa menunjukkan keberanian mereka untuk menghadapi ketidakadilan dan memperjuangkan nilai-nilai demokrasi.

2) 1977 (Menolak dukungan atas pencalonan kembali Pak Harto): Dalam fase ini, mahasiswa sekali lagi menjadi suara kritis dan menolak memberikan dukungan terhadap pencalonan kembali Presiden Soeharto. Konsen buku ini menggali motivasi di balik penolakan ini, mengungkapkan bahwa mahasiswa tidak hanya menjadi pengamat pasif, tetapi juga agen perubahan yang menentang kekuasaan otoriter.

3) 1998 (Meminta Pak Harto mundur sebagai Presiden RI): Momen penting ini merupakan puncak perlawanan mahasiswa terhadap rezim otoriter. Kalian menyajikan detil tentang bagaimana gerakan mahasiswa menjadi katalisator bagi perubahan politik, menggiring menuju reformasi dan menuntut mundurnya Soeharto sebagai Presiden. Ini bukan hanya kemenangan politik, tetapi juga kemenangan semangat kebebasan dan demokrasi.

4) 2024 (Menuntut ditegakkannya etika politik): Melangkah ke masa kini. Berdasar dan membandingkannya dengan fakta sejarah Gerakan Mahasiswa 1971 dan 1998. Tuntutan yang diusung mahasiswa adalah tegaknya etika politik. Kali ini tidak bulat air dalam buluh. Selain tidak semua mahasiswa Indonesia bergerak, dan turun ke jalan, esensi gerakan berbeda dengan yang sebelumnya. Meskipun produk yang diminta secara hukum sah, gerakan ini menandakan bahwa mahasiswa tidak hanya memperjuangkan aspek legalitas, tetapi juga mengajukan tuntutan moral dan etika dalam dunia politik. Gerakan ini tidak semua masyarakat Indonesia merasa diwakili atau terwakili. Bahkan cukup banyak yang mengritik. Juga tidak seluruh mahiswa di Indonesia bergerak.

Baca Bagaimana mereduksi sistem sentralisasi dengan hidup mandiri agar mengarah ke otonomi

Buku yang menyoroti Gerakan Mahasiswa 2024, harus diriset, ditulis, dan diterbirkan.

Haruskah oleh saya lagi? Rasanya, tidak!

Persamaan dan perbedaan dalam Gerakan Mahasiswa antara tahun 1971-2024 memperlihatkan evolusi dan variasi dalam pendekatan serta tujuan pergerakan tersebut. Mari kita telusuri lebih jauh:

Persamaan: Sama-sama Bergerak Turun ke Jalan
Terdapat persamaan dalam partisipasi aktif mahasiswa yang turun ke jalan sebagai bentuk protes dan tuntutan terhadap kebijakan pemerintah.

Dalam kedua periode tersebut, mahasiswa memainkan peran kunci sebagai agen perubahan. Anak muda itu mengekspresikan keprihatinan terhadap isu-isu politik dan sosial melalui demonstrasi dan protes jalanan.

Perbedaan: People Power pada Gerakan Mahasiswa 1974 dan 1998 Perbedaan mencolok terletak pada skala dan karakter gerakan “People Power”.

Pada Gerakan Mahasiswa 1974 dan 1998, people power tidak hanya mencerminkan aspirasi mahasiswa tetapi juga mencapai dukungan luas dari seluruh lapisan masyarakat. People power pada tahun-tahun tersebut menjadi ekspresi massal dari kehendak rakyat yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

  1. 1974 (Malari):
    • People Power sebagai Representasi Jiwa Rakyat: Gerakan Mahasiswa 1974, yang dipicu oleh Peristiwa Malari, tidak hanya mencerminkan keberanian mahasiswa tetapi juga diadopsi sebagai gerakan bersama oleh berbagai segmen masyarakat. Ini menjadi semacam revolusi rakyat melawan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah.
  2. 1998 (Reformasi):
    • People Power sebagai Tuntutan Reformasi: Gerakan Mahasiswa 1998 menjadi titik puncak dari gerakan reformasi yang melibatkan tidak hanya mahasiswa tetapi juga elemen-elemen lain dalam masyarakat. Pada saat itu, people power menjadi simbol keinginan rakyat untuk perubahan politik dan demokratisasi.

Perbedaan: Motivasi Gerakan Mahasiswa Terdapat perbedaan dalam motivasi di balik Gerakan Mahasiswa 1974 dan 1998. Pada 1974, gerakan tersebut dapat dilihat sebagai tanggapan terhadap kondisi sosial dan politik yang tidak adil. Sedangkan pada 1998, gerakan itu secara khusus berfokus pada tuntutan reformasi dan pengunduran Soeharto sebagai Presiden.

Perbedaan: Sumber Pendorong Gerakan Mahasiswa Gerakan Mahasiswa 1974 dan 1998 juga memiliki perbedaan dalam sumber pendorongnya. Sementara Gerakan Mahasiswa 1974 mungkin lebih bersifat spontan dan muncul sebagai reaksi terhadap peristiwa tertentu, Gerakan Mahasiswa 1998 didorong oleh tuntutan reformasi dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang telah berlangsung cukup lama.

Extra-Constitutional Actions of the President of the Republic of Indonesia Throughout Time

Dengan merinci persamaan dan perbedaan ini, kita dapat memahami bahwa meskipun gerakan mahasiswa memiliki benang merah keinginan akan perubahan dan tuntutan akan keadilan, pendekatan dan dinamika gerakan dapat bervariasi tergantung pada konteks sejarah dan tuntutan khusus pada setiap periode.

Ingin tahu sejarah gerakan mahasiswa masa ke masa? Untuk membandinkannya dengan Gerakan Mahasiswa 2024?

Baca dengan saksama buku ini!

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply