Gereja dan Reformasi

Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota –kata syair lagu anak-anak. Tapi biarlah di hari nan cerah dan agung ini (02/07-2023). Usai ibadah dan misa. Ada baiknya kita renungkan kembali relasi antara Gereja (umat Allah yang hidup, bukan bangunan) dan Reformasi.

Apa saja yang patut, dan perlu di-reformasi? Apakah yang lama,  yang bernilai, dan yang membuat kita ada dan hidup, senantiasa perlu di-reform?

Dari kata latin “re” (kambali) dan “formata” (dibentuk), reformasi ternyata tidaklah sederhana serta dangkal maknanya. Ia mesti diponir dan dipahami dalam konteks teori 4 causa dalam filsafat, yakni salah satu causa formalis yaitu:–sebab yang menjadi bentuk. Sederhananya begini: kayu jati bulat adalah materi, bahan. Kayu bulat in bisa dibentuk sesuai tujuan kita. Bisa apa saja. Kita bentuk jadi meja misalnya. Inilah causa formalis, yakni sebab yang menjadi bentuknya, namun materinya sama, jika kayu yang sama dijadikan kursi.

Sebab yang menjadi bentuk ini, tidak lepas dari causa materialis yakni sebab-yang menjadi materinya. Jadi, bentuk adalah bagian dari materi. Apa pun makanannya, minumannya teh botol sosro –begitu iklan. 

Jadi bentuk itu bisa berubah. Materi tidak!

Inilah makna hakiki REFORMASI. Dibentuk kembali, dari materi yang tidak berubah, yang sama itu!

***

Maka di sinilah konteks buku ini. Ia relasi (dan). Hubungan antara Gereja dan Reformasi.

Reformasi tiba-tiba menjadi sangat popular, begitu Orde Baru sampai pada antiklimaksnya awal tahun 1998. Berbagai ketidakpuasan atas penyelenggaraan negara menyebabkan masyarakat, dipelopori mahasiswa, menuntut pemerintah segera melakukan reformasi.

Harus diakui, yel-yel reformasi yang menuntut pembaruan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pertama kali digulirkan mahasiswa. Ketika semua lembaga sosial politik bungkam, mandul, dan tak berfungsi termasuk DPR/MPR, kalangan perguruan tinggi berhasil tampil sebagai pendobrak.

REFORMASI makna hakikinya: Dibentuk kembali, dari materi yang tidak berubah, yang sama itu! Tapi tidak membuangnya.

Mahasiswa bergerak keluar kampus. Mereka meneriakkan yel-yel reformasi, dengan tuntutan hapuskan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Karena, apa yang dituntut mahasiswa klop dengan aspirasi rakyat, segera aksi itu bersambut.

Mahasiswa berhasil menggerakkan potensi seluruh rakyat untuk suatu perubahan radikal, sehingga akhirnya terakumulasi menjadi people power melawan penguasa.

Sejarah mencatat pada 21 Mei 1998 Orde Baru tumbang dan ditandai dengan Pak Harto lengser. Angin reformasi mulai berhembus ke segenap pelosok negeri ini dan segera menjadi buah bibir di mana-mana. Semua orang tiba-tiba merasa akrab dengan reformasi.

Meski demikian banyak orang belum paham betul makna reformasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Dep P dan K) menjelaskan, reformasi adalah, “Perubahan radikal untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau agama) suatu masyarakat atau negara”.

Perubahan radikal
Menurut definisi, reformasi memang mengandung sifat radikal. Jadi, reformasi adalah perubahan hingga akar-akarnya. Barangkali karena mengandung makna “radikal”, ketika pertama kali kata reformasi digulirkan, ABRI menolak tegas.

ABRI mengidentikkan reformasi dengan revolusi. Karena itu, ABRI menyerukan agar reformasi dilaksanakan secara bertahap.

Namun, sejak kapan istilah reformasi dikenal? Reformasi perama kali dikenal pada abad ke-16, ketika terjadi revolusi agama Kristen di Eropa, disertai dengan aspek politik yang bermula ada bentuk gerakan untuk menuntut perbaikan dalam intern agama Kristen Katholik Roma.

Gerakan ini nantinya melahirkan Protestanisme, dipelopori oleh Martin Luther, ketika ia menempelkan 95 dalil berisi pandangannya mengenai doktrin iman Katholik di pintu gereja Wittenberg pada 31 Oktober 1517.

Begitu Luther usai menempelkan dalil jaran dan kekuasaan Gereja (Paus), sebab Paus saat itu dilihat sebagai simbol status quo yang tidak reformis.

Gerakan reformis setelah itu merebak cepat ke wilayah lain di Eropa, mulai dari Prancis, Swiss, Inggris, Belanda, hingga ke Amerika Serikat. Harus diakui, reformasi internal Gereja itu membuahkan hasil evolusioner di banyak aspek kehidupan.

Gereja dan Reformasi di Indonesia
Terlihat benang merah anatara reformasi Luther dan gerekan reformasi di Indonesia: keduanya bersemangatkan pembaruan.

Topik ini dibahas pada bagian pertama buku ini, menampilkan Eka Darmaputra yang mengevaluasi kehadiran Gereja di tengah-tengah reformasi, AA Yewangoe yang menyoroti eksistensi Gereja di era reformasi, Eddy Paimoen yang mengupas Gereja-gereja dalam hubungan dengan reformasi di Indonesia. Bagian ini ditutup oleh Indriani Bone yang membahas komunitas keadilan, persahabatan, dan solidaritas sebagai wujud nyata dari ekklesia (Gereja) yang sejati (halaman 1-70).

Bagian dua buku ini menyoroti Gereja dari dimensi politik, sosial, dan budaya dengan menampikan tujuh pakar di bidang masing-masing. Hotman M. Siahaan, salah satu kontibutor naskah pada bagian ini antara lain menyoroti betapa Gereja selama Orde Baru ditekan sedemikian rupa dan sering dihadapkan pada konflik agama secara horizontal.

Konflik itu terlihat pada perusakan dan pembakaran gereja yang semakin meningkat jumlahnya. Selama periode 1991-1997 tercatat 145 gereja dirusak, dibakar, ditutup, atau diresolusi di berbagai tempat (halaman 78).

Akhirnya, bagian tiga adalah refleksi teologis yang menampilkan AA Yewangoe, Fridolin Ukur, Albert Widjaya, dan SAE Nababan. Gereja disarankan berpartisipasi aktif dalam era reformasi. Bukan saja aktif melakukan reformasi dalam Gereja, juga reformasi di luar Gereja di dalam upaya menata kehidupan yang dilandasi kasih dan persaudaraan.

Reformasi yang diperankan Gereja seperti yang disarankan Alber Widjaya, “… kehidupan gereja tidak ditentukan oleh nafsu kedagingan dan senjata, tetapi oleh Roh Allah yang mereformasi orang-orang yang percaya dan membentuk persaudaraan sebagai murid Kristus (brotherhood in Christ). Namun, orang percaya harus tunduk kepada kekuasaan dunia, sepanjang kekuasaan ini tidak bertentangan dengan Firman Allah (halaman 200).

Buku ini tentu saja cukup inspiratif. Pemimpin jemaat, politikus Kristen dan awam biasa dapat memanfaatkan buku ini dalam upaya mencari tali-temali antara Gereja dan reformasi.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply