Ghost Writer (2)

Saya tak pernah membilang buku yang saya no name writer, alias ghost writer-nya, sebagai buku saya. Mengapa? Sebab buku karya saya berbeda dengan buku saya.

Buku paling keren, sekaligus luks, sepanjang karier kepengarangan saya. Sebenarnya, ghost writer bersama YB Sudarmanto. Akan tetapi, menghormati Lembaga, tercatat sebagai Editor.

Buku kerja sama dengan Angkatan Laut ini memperingati 50 tahun kemerdekaan Indonesia ini bilingual: Indonesia pada kolom kiri dan Inggris pada kolom kanan. Jadi, telah 27 tahun lalu.

Tetap apik dan resik, saya simpan sebagai harta karun. Kertas isi art paper 120 gram, ukuran buku 24 x 32 cm. Tebal: 232 halaman. Full color. Hard cover, dengan jacket dan flap, serta dilindungi box.

Waktu menggarap kontennya, kami –berdua sejarawan YBS– riset sejarah. Kami tahu siapa Vlekke yang pertama melukiskan keadaan Nusantara dalam aksara, kami membaca naskah kuna Amanna Gappa, dan buku Max Havelaar.

Demikianlah. Nulis buku itu, tak ubahnya sebuah riset. Data is something given. Ibarat pasir, batu, tanah –ia (data) ada di mana mana. Tuhan yang punya. Akan tetapi, jika dikumpulkan, dikategorikan, dan dibangun/ disusun menjadi bangunan –rumah misalnya– atau ditumpuk di tepi jalan –maka sudah ada yang punya.

Di mana hak cipta, dan kepemilikannya? Ada pada kemampuan mengkategori. Kepiawaian menyintesekan. Kepandaian di dalam mengemas. Dan kehebatan di dalam menarasikan, serta menjelaskan fakta secara saksama dan benar.

Jadi, semudah itu menulis (buku)!

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply