Hermeneutika dan Positivisme Logis

Kurang lebih dua bulan lalu saya dan istri berkesempatan mengunjungi Masri Sareb Putra di Karawaci Tangerang.  Satu jam saja kami berbincang, dan saat kembali ke Serang tangan saya tidak hampa lagi, ada tiga buku karangan beliau yang diberikan cuma-cuma.

Dua hari kemudian, Prof Masri —demikian panggilan kami di komunitas Batu Ruyud Writing Camp yang mempertemukan kami— mengirimkan fail buku Hermeneutika untuk Penelitian Komunikasi. Saya memang seorang pengarang, tapi lebih senang mengedit tulisan-tulisan orang, terutama buku teks, dan kali itu ternyata Prof Masri tidak meminta saya mengedit bukunya, tetapi menjadi penulis kedua! Maka bertualanglah pikiran saya ke sumber-sumber utama bidang hermeneutika dan memikirkan bagaimana komunikasi jadi bagian dari gamitannya.

Sempat saya dengan semangat mengubahnya agar buku tersebut menjadi pengantar, tetapi ternyata saya lebih ngos-ngosan menulis buku untuk para pemula yang saya bayangkan. Karena itu, saya tidak memaksakan diri membawa jiwa editor saya, tetap bertahan dengan pola Prof Masri dan malah menambah “rumit” beberapa bagiannya.

Kerumitan sebuah buku tidak dalam rangka membuatnya jadi sulit, melainkan dalam rangka membuatnya tambah jelas. Karenanya buku ini —dan sudah menjadi risiko buku yang dikarang berdua— memiliki beberapa “alamat pembaca”. Beberapa kami usahakan dapat dipahami para pemula, beberapa memang untuk mereka yang sudah mulai melek filsafat, hermeneutika, dan komunikasi itu sendiri. Beberapa menjadi diskusi reflektif untuk memikirkan kemungkinan kemandegan dalam bidang hermeneutika mengingat begitu banyak akademisi yang mudah mengutip alih-alih menjadikan sumber yang tertulis sebagai bahan dialog.

Pengalaman saya sendiri dalam hermeneutika lebih banyak disebabkan bidang filsafat dan sastra serta linguistik yang saya tekuni, sehingga subjek tersebut berkelindan dan ikut mempertebal buku kami ini.

Berikut saya kutipkan sebagian kecil isi buku tersebut, bagaimana ia dikembangkan di masa kontemporer sebagai reaksi terhadap positivisme logis.

Pemulihan dan signifikansi

Dalam beberapa literatur Barat diterangkan bahwa setelah filsafat, kritik sastra adalah yang ambil bagian banyak dalam perkembangan hermeneutika terutama karena peran kritik dalam menggeser makna asalnya, dari “pemulihkan makna” ke “signifikansi”. Namun beberapa sumber tidak mengatakan hal yang sama. Kita dapat melihat bahwa hermeneutika kembali diperhatikan setelah positivisme dicurigai oleh berbagai kalangan yang membutuhkan alternatif sehingga pemikir seperti Esa Itkonen (1978) mengatakan hermeneutika sebagai cara berpikir non-positivistik.

Dengan kata lain, bukan disebabkan sastra itu membutuhkan penafsiran sehingga menempati posisi kedua setelah filsafat, melainkan karena semangat zaman yang mulai berubah dan mencurigai positivisme.

Di tahun 1930-an ia lebih populer dengan sebutan “positivisme logis” yang kadang dalam banyak hal satu semangat juga dengan “empirisme logis”.

Apabila kami melihat berbagai literatur Indonesia, dalam tradisi ilmu-ilmu di luar filsafat, hermeneutika itu sering kali sudah tampak matang, dewasa, siap kutip dan celakanya selalu siap pakai. Banyak sudah skripsi-tesis-disertasi dan artikel-artikel jurnal yang menggunakannya sebagai ilmu-final. Berbeda halnya dengan/dalam tradisi kefilsafatan: ia masih terlihat seakan masih muda, masih bertumbuh, dan masih perlu digodok sana-sini. Bahkan beberapa meragukan juga keampuhannya sebagaimana Julia Kristeva yang tidak melihat masa depan dari ketajaman bidang ini dalam memahami kesewenang-wenangan relasi petanda dan penada dalam linguistik Saussurean dan semiotika yang mendapatkan pengaruh dari tradisi strukturalisme.

Dalam buku The Kristeva Reader (1986), Kristeva melihat kebuntuan hermeneutika dalam hal menghindari kerangka teori yang sudah ada sebelum objek (tanda) yang jadi teka-tekinya. Apabila kita menafsirkan teka-teki baru dan mendapatkan makna-makna tertentu karena ia sesuai dengan teori yang kita siapkan, kita sebenarnya ada dalam kebuntuan. Dengan kata lain, hermeneutika dalam proses tersebut baru nama belaka, tidak menjadi bagian dari cara kita menjadikannya paling depan dalam penafsiran, dan yang demikian itu amat berkembang subur dalam beragam karya ilmiah Indonesia.

Pandangan Kristeva tersebut menurut kami dilatari oleh kekhawatirannya melihat hermeneutika pun sangat mungkin akan menjadi bagian dari korban positivisme logis yang ingin meng-unified-science-kan dunia, sehingga pengalaman observatif harus sesuai dengan pernyataan teoretik.

Kami kira cara terbaik memahami hermeutika, dengan demikian, mengembalikannya terlebih dahulu pada semangat awalnya: jangan jadikan ia teori-matang, tapi melihatnya sebagai bidang alternatif yang selalu bertumbuh dan bersikap kritis pada metasains yang tidak menguntungkan, termasuk cara pikir otonom seperti linguistik Saussurean.

Hermeneutika sebagai “suara lain”

Secara singkat, hermeneutika dapat dikatakan sebagai sebuah konsep dan metode interpretasi yang digunakan untuk memahami teks, budaya, atau fenomena lainnya. Ia berasal dari bahasa Yunani Kuno “hermēneutikos“, dari kata kerja “hermēneu“, yang artinya adalah “menerjemahkan” atau “menafsirkan.” Kata tersebut terkait erat dengan Hermes, dewa dalam mitologi Yunani yang dikenal sebagai penerjemah dan pembawa pesan antara dewa dan manusia.

Di pertengahan abad ke-20, di saat modernisme-strukturalisme-positivisme mulai memasuki antiklimaks, para ahli bidang penafsiran Barat melihat hermeneutika menjanjikan untuk “suara lain” di luar doktrin sains alam yang me-unified.

Hermeneutika pada dasarnya adalah seni atau ilmu interpretasi yang digunakan untuk mengungkapkan makna di balik teks atau pesan yang tidak selalu jelas dalam bahasa aslinya (Kristeva, ibid. menyebutnya “enigma”). Ia juga sering disebut-sebut sebagai ilmu penafsiran khusus bidang manusia yang membuat manusia dibedakan dari benda-benda lainnya. Jika benda-benda yang “diamati” dapat direduksi ke dalam “pemahaman”, manusia tidak demikian. Hubungan antara manusia dengan pemahaman atasnya masih tertunda dalam kaca mata hermeneutika-manusia.

Dengan menggunakan kerangka pemikiran Itkonen (1978), hermeneutika sebagai ilmu menafsirkan manusia sebagaimana yang kami maksud dapat dirumuskan sebagai

1) seperangkat teori ilmu-ilmu tertentu (bidang manusia) dan

2) sebagai teori tentang hakikat dan anggapan-anggapan ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah secara umum.

Berdasarkan rumusan kedua tersebut, hermeneutika tampak berkelindan dengan apa yang disebut “filsafat transendental” sehingga dengan segera kita dapat memahami ketiadaan metode hermeneutika yang seragam sebagaimana yang terdapat dalam gagasan positivisme mengenai penjelasan (eksplanasi) atau pengujian (testing). Hal itu disebabkan pokok bahasan hermeneutika tidak seragam dengan pokok bahasan ilmu alam yang sifatnya terukur.

Hermeneutika memperoleh data melalui pemahaman makna, perkiraan maksud, pertimbangan nilai, corak norma, atau aturan tertentu, dan dalam praktik analisisnya melakkan refleksi atas apa yang telah dipahami. Namun sebagai metode, hermeneutika dapat juga kita kombinasikan dengan metode lain yang lebih berorientasi empiris.

Hermeneutika dalam konteks akademik

Penerapan hermeneutika dalam konteks akademik mencakup berbagai bidang yang beberapa di antaranya sudah menjadi disiplin-disiplin tersendiri, antara lain:

  1. Hermeneutika Sastra:  digunakan untuk memahami makna dalam karya sastra: puisi, cerita pendek, novel, dan teks sastra lainnya; melibatkan analisis karakter, tema, simbolisme, dan struktur naratif.
  2. Hermeneutika Alkitab: sangat penting dalam penafsiran teks-teks agama, terutama dalam agama Kristen; digunakan untuk memahami dan menafsirkan Alkitab dengan lebih kontekstual.
  3. Hermeneutika Budaya: membantu memahami dan menganalisis fenomena budaya, seperti musik, seni, dan tarian, dengan fokus pada makna dan simbolisme di balik karya seni tersebut.
  4. Hermeneutika Filosofis:  digunakan untuk memahami dan menganalisis pemikiran-pemikiran kefilsafatan, terutama teks-teks filsafat klasik;  membantu penggalian makna dan implikasi dari teori-teori filsafat.
  5. Hermeneutika Sosial: digunakan untuk memahami dan menafsirkan interaksi sosial, perilaku manusia, dan fenomena sosial lainnya;  membantu dalam memahami perbedaan budaya dan konteks sosial yang berbeda.

Tradisi postivisme

Secara umum, tradisi positivisme memandang bahwa tampaknya tidak ada perbedaan antara ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan manusia. Jika manusia diselidiki secara ketat dari sudut pandang fisik atau biologis, maka tidak diragukan lagi bahwa deskripsi yang dihasilkan adalah murni ilmu pengetahuan alam. Psikologi eksperimental, sebagai contoh, meskipun mempelajari manusia sebagai manusia, namun hasil-hasil riset bidang ini sebanding dengan ilmu pengetahuan alam.

Salah satu sebab riset-riset manusia mereduksi manusia sama dengan objek lainnya adalah karena ada keserempakan semangat akademik untuk berpikir objektif, seakan-akan hanya dengan tunduk pada aturannya para sarjana dapat memperoleh kebenaran mutlak.

Dalam hal ini kita dapat menduga kritik Wittgenstein terhadap bentuk-bentuk eksperimen mengarahkan kita pada hermeneutik sebagai alternatif yang dapat membebaskan kita dari kecenderungan/semangat objektivisme yang menyamaratakan dunia. Ia menjelaskan bahwa dalam eksperimen selalu ada andaian saling pengertian (1967, II, § 71), yakni bahwa ketika kita melakukan eksperimen, kita harus tahu apa yang kita lakukan. Dengan kata lain pengetahuan yang kita dapatkan dari suatu eksperimen sebenarnya tidak berdasarkan eksperimen tersebut!

Itkonen (ibid) memandang situasi akademik yang menggunakan tradisi eksperimental bukan sekadar tidak lagi memadai, tetapi juga sudah tidak diperlukan, dan akhirnya ia katakan tidak mungkin lagi digunakan jika dengannya hanya menciptakan kemunduran ilmu. Satu-satunya cara untuk menghentikan proses kemunduran, menurutnya adalah dengan kemampuan melakukan refleksi.

Di wilayah akademik, hermeneutika dapat “disembunyikan” —jika Anda tidak terang-terangan menggunakannya— sebagai semangat yang turut membentuk kerja riset objektif untuk mematangkan objektivisme tersebut. Refleksi adalah satu alat hermeneutika yang denganya memungkinkan kita menyadari ada hal-hal yang memang tak dapat semua dieksternalisasi.

Kita tahu refleksi jarang digunakan dalam pengujian-pengujian yang bersifat empiris. Refleksi itu beroperasi pada pengetahuan, sedangkan pengujian empiris beroperasi pada peristiwa dalam ruang dan waktu. Sebagaimana yang dikatakan secara ringkas oleh Habermas (1968), kurangnya refleksi adalah ciri dari positivisme. Refleksi itu sendiri sebenarnya merupakan metode objektif dan mengarah pada hasil objektif, namun objektivitasnya berbeda dengan objektivitas terukur ilmu alam.

Meskipun tidak semua menyebut-nyebut hermeneutika sebagai jalan alternatif yang bisa dibangun, para pemikir filsafat ilmu termasuk yang mencurigai semangat objektivisme. Kami menyarankan Anda membaca buku A.F. Chalmers What is This Thing Called Science? yang tanpa mengangkat hermeneutika dapat memporakporandakan cara berpikir ilmiah dari tubuhnya sendiri, dan hal itu mengiplikasikan para sarjana bidang apa pun harus mampu melirik alternatif seperti hermeneutika.

Begitu banyak yang kami bincangkan dalam buku ini, sehingga isu Ilmu Komunikasi pun ada dalam kompleks dan kaitan-kaitannya dengan berbagai disiplin dan kemungkinan untuk pengembangannya. Kami menyarankan Anda membaca dan menjadi bagian dari pengembang tersebut. []

Rujukan

Chalmers A. F. 2013. What is this thing called science? 4th ed 4th ed. University of Queensland Press.

Habermas, Jürgen. 1968. Erkenntnis und Interesse. Frankfurt/Main: Suhrkamp.

Itkonen, Esa. 1978. Grammatical Theory and Metascience: A Critical Investigationinto the Methodological and Philosophical Foundations of ‘Autonomous’ Linguistics. Amsterdam: John Benjamin Publishing.

Kristeva, Julia. 1986. The Kristeva Reader, ed. Toril Moi. New York: Columbia University Press.

Wittgenstein, Ludwig. 1967. Remarks on the Foundations of Mathematics. 2nd ed. Transl, by G. Elisabeth M. Anscombe. Oxford: B. Blackwell.

Share your love
Avatar photo
Arip Senjaya

Pemenang Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022, alumni Batu Ruyud Writing Camp Kaltara, dosen filsafat Untirta, anggota Komite Buku Nonteks Pusbuk Kemdikbud, sastrawan, editor. Alumni UPI dan UGM.

Articles: 11

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

108 Comments

  1. Khaila Riyanni_2222230018_2C

    Izin bertanya pak, Bagaimana hermeneutika membedakan manusia dari benda-benda lainnya dalam konteks penafsiran, dan mengapa hubungan antara manusia dan pemahaman atasnya dianggap tertunda dalam perspektif hermeneutika?

  2. Siti Muntapiroh_2222230087_2C
    Izin bertanya mengenai esai yg bapak paparkan diatas menjelaskan tentang Hermeneutika dan Positivisme Logis, menurut bapak adakah persamaan dan perbedaan mendasar antara hermeneutika dan positivisme logis dalam memahami makna linguistik? dan apakah hermeneutika dan positivisme logis dapat saling melengkapi dalam memahami realitas?

    Sekian Terimakasih.

    • Adinda Samihah Salma_2222230012
      dilihat dari pengertian dan macam-macamnya saja hermeneutika sangat beragam seperti hermeneutika sosial, budaya dan lainnya, saya izin bertanya bapak, apakah ada tantang tersendiri dalam menjadikan hermeneutika filsafat saat ini?
      Terima kasih.

    • Adinda Samihah Salma_2222230012_2B
      dilihat dari pengertian dan macam-macamnya saja hermeneutika sangat beragam seperti hermeneutika sosial, budaya dan lainnya, saya izin bertanya bapak, apakah ada tantang tersendiri dalam menjadikan hermeneutika filsafat saat ini?
      Terima kasih.

      • Amellia_0064_B: bagaimana pandangan Julia Kristeva terhadap hermeneutika dalam konteks kemungkinan terpengaruh oleh positivisme logis, dan apa yang membuat cara terbaik memahami hermeneutika dengan mengembalikannya terlebih dahulu pada semangat awalnya?

  3. Muhamad Suhepi _2222230032_C

    Hermeneutika itu sebuah konsep dan metode interpretasi yang digunakan untuk memahami teks, budaya, atau fenomena lainnya. Ijin bertanya Pak, apakah terdapat kelemahan Hermeneutika dalam menafsirkan atau memahami sebuah tafsiran?

    Terima kasih

    • Yang benar itu bukan “kekurangan”, melainkan keterbatasan. Ada! Jika si penafsir, sebagai Hermes, tidak punya cukup pengetahuan di kepalanya untuk menjembapati gap antara “dunia atas” yang belum diketahui dan “dunia bawah” yang sudah diketahui. Sedemikian rupa, sehingga peneliti/ penafsir Hermneutika adalah jembatan yang menghubungkan dua gap tadi agar makna objek dan kepenuhannya, dapat diketahui/ dimengerti.

  4. Wahyuana Endah Setianingrum_0125_2B

    Izin menanggapi Pak, pada penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa hermeneutika sebagai metode filsafat yang dapat diandalkan, namun sebagai metodelogi, hermeneutika tidak dapat disejajarkan dengan metode penelitian ilmiah yang sifatnya ketat dan baku. Jadi pertanyaannya, apakah setiap filsafat memiliki metode yang berbeda?

    Terima Kasih

  5. Bagaimana cara hermeneutika membantu memahami fenomena budaya, apakah ada cara yang lebih mudah bagi hermeneutika untuk membantu memahami nya? Khusus bagi kaum awam.

    • Sintia Agustin_2222230020_1C
      Bagaimana cara hermeneutika membantu memahami fenomena budaya, apakah ada cara yang lebih mudah bagi hermeneutika untuk membantu memahami nya? Khusus bagi kaum awam.

  6. Indah Khairunnisa_2222230023_2C

    Izin bertanya Pak, dari esai yang Bapak tulis, Esa Itkonen (1978) mengatakan hermeneutika sebagai cara berpikir non-positivistik, mengapa dikatakan demikian? Apakah hermeneutika termasuk kedalam cara berpikir non-positivistik? Lalu kenapa pandangan Kristeva dalam hermeneutika dilatari oleh kekhawatiran? Mohon penjelasannya.
    Terima kasih, Pak.

  7. Fadhilah Nur Salsabila_0123_2A

    izin bertanya pak, hermeneutika menekankan penting nya konteks historis dan budaya dalam memahami makna. Bagaimana positivisme logis menanggapi kritik ini? dapatkah pendekatan positivistik benar benar bebas dari kontekstual ?
    terimakasi pak

  8. Fadhilah Nur Salsabila_0123_2A

    izin bertanya pak, hermeneutika menekankan penting nya konteks historis dan budaya dalam memahami makna. Bagaimana positivisme logis menanggapi kritik ini? dapatkah pendekatan positivistik benar benar bebas dari kontekstual ?

    terimakasi pak

  9. Indriyani_2222230085_2C
    Izin bertanya pak, seperti yang bapak jelaskan bahwa hermeneutika itu ilmu memahami teks, budaya, dan pengalaman manusia yang lebih kompleks,nah pertanyaan saya mengapa pokok bahasan hermeneutika itu tidak seragam dengan pokok bahasan ilmu alam yang sifatnya terukur, apakah pokok bahasan hermeneutika ini tidak dapat diukur dengan cara yang sama seperti dalam ilmu alam?

  10. Rizkia_0061_B: apa hubungan antara hermeneutika dengan pemahaman atas manusia, dan mengapa hal tersebut menarik perhatian dalam konteks ilmu penafsiran?

  11. Haura Zhafira Nur Azizah_0127_2B
    Berdasarkan penjelasan di atas, hermeneutika pada dasarnya adalah seni atau ilmu interpretasi yang digunakan untuk mengungkapkan makna di balik teks atau pesan yang tidak selalu jelas dalam bahasa aslinya. Bagaimana cara penggunaan hermeneutika dalam pemahaman dan penafsiran teks?, dan bagaimana positivisme menjadi dasar bagi munculnya saintisme?

  12. Eka Dwi Sasmita Putri_0013_2B

    Berdasarkan penjelasan di atas, Hermeneutika pada dasarnya adalah sebagai ilmu memahami manusia. Lalu apakah ada kekurangan dan kelebihan hermeneutika sebagai teori ilmu memahami manusia?

  13. Nurfalida_0016_2B
    Berdasarkan teori hermeneutika sosial dalam konteks akademik, bagaimana cara mengintegrasikan hermeneutika dengan metode lain yang lebih berorientasi empiris dalam analisis interaksi sosial dan perilaku manusia?

  14. Fahada Naina Hakim_0010_2B: seperti yang sudah dijelaskan bahwa, singkatnya, hermeneutika dapat dikatakan sebagai sebuah konsep dan metode interpretasi yang digunakan untuk memahami teks, budaya, atau fenomena lainnya. Pertanyaannya, apa saja contoh dari hermeneutika yang telah diterapkan untuk menganalisis fenomena sosial, budaya, atau historis. Dan apakah hermeneutika dapat memengaruhi disiplin ilmu lain?
    Terima kasih.

  15. Nadia Mayasari_2222230022_2C
    Apakah hermenutika akan tetap berjalan sebagai ilmu tanpa adanya positivisme logis yang memengaruhi? atau positivisme tidak bisa berdiri tanpa adanya refleksi sebagai satu alat hermeneutika?
    Terima kasih.

  16. Anita amelia 2222230029_2D
    Apakah hermeneutika berpengaruh dengan lingkungan kuliah atau kehidupan sehari-hari?
    Apakah hermeneutika sangat berpengaruh pada Linguistic?

    • Dhiah Fatma Pratiwi_0062_2B: Izin bertanya Pak, berdasarkan teori hermeneutika filosofis dalam konteks akademik, apa keterlibatan terpenting hermeneutika terhadap pemahaman dan interpretasi teks klasik dalam filsafat?

      Terima kasih.

  17. Anisa Isnaeni Faturohmah_0124_2B: Izin bertanya Pak, Bagaimana hermeneutika membedakan dirinya dari positivisme logis dalam pendekatannya terhadap pemahaman teks atau fenomena sosial, dan apakah ada proses mekanis untuk menafsirkan teks atau fenomena sosial di dalam kehidupan sehari-hari?

    • Dhiah Fatma Pratiwi_0062_2B: Izin bertanya Pak, berdasarkan teori hermeneutika filosofis dalam konteks akademik, apa keterlibatan terpenting hermeneutika terhadap pemahaman dan interpretasi teks klasik dalam filsafat?

      Terima kasih

  18. Adinda Samihah Salma_2222230012_2B
    dilihat dari pengertian dan macam-macamnya saja hermeneutika sangat beragam seperti hermeneutika sosial dan budaya, saya izin bertanya Pak, apakah ada tantang tersendiri dalam menjadikan hermeneutika filsafat saat ini?
    Terima kasih.

  19. Munjiah_0028_2D
    Pada penerapan hermeneutika konteks akademik terdapat hermeneutika sosial, lalu bagaimana penerapan hermeneutika tersebut untuk kita memahami interaksi kita sehari-hari dengan orang lain?
    Dan apa sebenarnya tujuan dari hermeneutika sosial ini?

  20. Widiyah_2222230090_2C

    Izin bertanya, Bapak.
    Hermeneutika artinya menerjemahkan atau menafsirkan, mengapa ada ilmu hermeneutika di dunia ini dengan beberapa bidang yang sudah menjadi disiplin-disiplin tersendiri? Apa yang menjadi latar belakang adanya hermeneutika sehingga para pakar tidak jenuh membahas hermeneutika sampai saat ini? Lalu apakah hermeneutika dan tradisi positivisme berperan penting dalam ilmu filsafat dan linguistik?
    Terima kasih, Bapak.

  21. Dwi Putri Ardini_0009_2A

    Izin bertanya, pak.
    Mengapa hermeneutika dianggap sebagai alternatif yang penting dalam memahami fenomena manusia yang tidak selalu dapat direduksi menjadi objek yang dapat diamati dan diukur?
    Terima kasih.

  22. Keisha Aulia Majid_222230097_2C
    Izin bertanya pak, Apakah pengembangan hermeneutika sebagai “suara lain” di luar paradigma positivisme logis mengindikasikan adanya pergeseran epistemologis yang mendasar dalam pemahaman manusia terhadap realitas, dan bagaimana konsekuensi dari pemikiran ini terhadap keragaman metodologis dalam penelitian ilmiah serta persepsi terhadap interaksi antara manusia dan pemahaman atasnya dalam konteks hermeneutika-manusia?
    Terima kasih pak.

  23. Siti Nurjanah_0001_2A
    Izin bertanya pak, bagaimana cara kita agar tidak mengalami kebuntuan saat memahami hermeneutika? Lalu apa penyebab kekhawatiran menurut pandangan Kristeva melihat hermeneutika?

  24. Rahma Annisa_2222230098_2C

    Seperti yang bapak jelaskan bahwa ilmu hermeneutika di luar lingkup ilmu filsafat itu tampak dewasa dan matang sedangkan di dalam ilmu filsafat sendiri seperti ilmu yang baru dan masih bertumbuh. Kenapa dari kedua sisi tersebut bisa dikatakan berbeda? Apakah ada perbedaan yang mendasar antara keduanya?

    Mohon maaf jika ada kekeliruan.
    Terima kasih.

  25. Cici Juvian_0060_B
    Saya hendak bertanya, Pak. Untuk memahami teks atau budaya, apa kah seseorang mesti menggunakan konsep dari hermeneutika? Apa jadinya bila seseorang tidak menerapkan ilmu tersebut untuk menafsirkan teks, budaya, atau fenomena lainnya? Terima kasih, Pak.

  26. Aina Zulfatun Nisa_2222220065_C
    Izin bertanya pak, apa hubungan hermeneutika dengan positivisme logis? dan bagaimana bisa hermeneutika dijadikan sebagai alternatif?

  27. Isnayni Kalamsyah_2222230130_2C

    Izin bertanya, Pak. Dijelaskan bahwa hermenutika dibagi menjadi beberapa disiplin tersendiri, seperti hermeneutika budaya dan hermeneutika sosial. Hermeneutika budaya sendiri memahami dan menganalisis fenomena budaya, sedangkan hermeneutika sosial memahami dan menafsirkan interaksi sosial, dimana disiplin ini membantu memahami perbedaan budaya dari konteks sosial. Apakah hermeneutika budaya dan hermeneutika sosial dapat bersinggungan?

  28. Nadea Juliana_044_2A

    Seperti di artikel bahwa hermeneutika memperoleh data melalui pemahaman makna, perkiraan maksud, pertimbangan nilai, pola norma, atau aturan tertentu, dan dalam praktiknya analisis melakukan refleksi atas apa yang telah dipahami. Izin bertanya Pak, apakah manusia menafsirkan sesuatu bisa melalui pengalaman seseorang? dan bagaimana teori hermeneutika dapat membantu dalam memahami kondisi hidup manusia dan ilmu alam atau fenomenologi di dunia ini?
    Terimakasih.

  29. Aulia_0047_A
    Hermeneutika dapat dikatakan sebagai alat yang amat penting dalam keberlangsungan sebuah kehidupan. Meskipun masih terdapat kekurangan, hermeneutika tetap digunakan para peneliti dan akademisi untuk membuka ruang interaksi, mendorong refleksi kritis, bahkan memperkaya kontekstual. Lantas, adakah metode lain yang lebih baik daripada hermeneutika yang dapat digunakan untuk membuka jalan pengetahuan baru bagi manusia agar kulitas hidup dapat meningkat?

  30. Aulia Najla Huwaida_0043_2A : Dalam tulisan tersebut terdapat kalimat “pokok bahasan hermeneutika tidak seragam dengan pokok bahasan ilmu alam yang sifatnya terukur”, apakah itu artinya hermeneutika merupakan ilmu tidak terukur dan tidak seragam? apakah hal tersebut disebabkan ketika dalam memahami makna/penafsiran tentang sesuatu (dalam pandangan hermeneutika) dilihat dari pendapat dan data yang diperoleh oleh masing-masing individu sehingga menyebabkan adanya perbedaan makna yang diperoleh (menyebabkan ketidakseragaman), atau faktor penyebab yang lain? dan jika demikian, mengapa hermeneutika dapat dijadikan sebagai alternatif jika hermeneutika sendiri merupakan ilmu/paham yang tidak seragam? Terima kasih

  31. Eka Septiawati_0015_2B

    Bagaimana hermeneutika dapat membantu kita memahami dan menafsirkan dunia digital yang semakin kompleks dan penuh dengan informasi yang berlimpah?

  32. Nurkaila Navita_0017_2B
    Izin bertanya pak, Apakah positivisme logis dapat diadaptasi untuk mengatasi kompleksitas dan ketidakpastian dalam bidang ilmu pengetahuan modern, seperti biologi, psikologi, dan ilmu sosial?

  33. Arum Handayani _0067_B

    Apakah dalam pendekatan interpretasi tekstual dan interpretasi kontekstual dalam konteks hermeneutika bersifat saling melengkapi? Serta bagaimana cara hermeneutika memandang dua perbedaan pandangan interpretasi tersebut?

  34. RISMA FITRIYANI-30050-2A
    Mohon izin bertanya Pak.
    Dalam essay ini mengatakan bahwa hermeneutika memperoleh data dari pemahaman makna. Apabila dalam bahasa seperti bahasa bahasa yang tidak sopan misalnya “anjing” yang ditujukan pada seseorang dan hewan akan memiliki beda makna. Berarti hermeneutika tidak bisa mencakup keseluruhan bahasa? Jika hermeneutika sejalan dengan positivisme berarti alam ini tidak ada bedanya dimata hermeneutika? Apakah akan mempengaruhi seluk beluk bahasa jika di kaitkan atau mungkin akan berdampak buruk bagi bahasa itu sendiri?
    Terima kasih Pak

  35. Sulisthya Dewi_30049_2A
    Izin bertanya, pak. Dijelaskan bahwa di essay tersebut, dengan kata lain pengetahuan yang kita peroleh dari suatu eksperimen sebenarnya tidak berdasarkan eksperimen tersebut! Berarti selama ini pengetahuan yang kita peroleh tidak berdasarkan eksperimen yang sebenarnya?
    Menurut Esa Itkonen (1978) mengatakan hermeneutika sebagai cara berpikir non-positivistik. Dan menurut pandangan Kristeva tersebut menurut kami dilatari oleh kekhawatirannya, mengapa demikian?
    Terima kasih

  36. Nanda Solehah _0100_2D
    Hermeneutika sendiri memiliki berbagai ruang lingkup dalam proses memahami dan menafsirkan sesuatu. Apakah segala sesuatu harus dipahami dan kemudian ditafsirkan oleh hermeneutika?
    Selain itu, dalam esai disebutkan bahwa “Refleksi itu beroperasi pada pengetahuan, sedangkan pengujian empiris beroperasi pada peristiwa dalam ruang dan waktu.”, yang saya ingin ketahui adalah:
    1. Apakah penerjemahan sebuah puisi/kitab suci merupakan contoh dari refleksi yang beroperasi pada pengetahuan?
    2. Apakah proses pemahaman dan penafsiran dari tingkah laku manusia merupakan salah satu pengujian empiris yang beroperasi pada peristiwa ruang dan waktu?
    Apabila pernyataan dalam pertanyaan saya salah, mohon bimbingannya, Pak.
    Terima kasih.

  37. Nufaisa Nisrina_0069_2B
    ___Hal itu disebabkan pokok bahasan hermeneutika tidak seragam dengan pokok bahasan ilmu alam yang sifatnya terukur.
    Nah yang saya ketahui mengapa pokok bahasan keduanya tidak seragam karena kedua bidang tersebut memiliki pendekatan epistemologis yang berbeda. Seperti Hermeneutika, sebagai studi tentang interpretasi dan pemahaman teks atau fenomena manusia, lebih yang lebih berkutat pada subjektivitas, konteks historis, dan bahasa. Sementara ilmu alam cenderung berfokus pada pengukuran, observasi empiris, dan generalisasi yang dapat diulang. Namun dibalik itu apakah ada alasan lain yang membuat kedua Bidang ini berbeda pokok bahasan?

  38. Rizkia Mulyani_0038_2A : Berdasarkam pemahaman saya positivisme ini merupakan sebuah argumen yang diambil berdasarkan ilmu alam atau sains (eksperimen), dan hermeneutika memiliki sifat yang menuju pada kebebasan (refleksi) dan objektif karena berdasarkan pandangan manusia. Saya izin bertanya, mengenai positivisme apabila dikaitkan dengan linguistik apakah antara keduanya akan saling menguatkan pandangan masing-masing atau justru saling melemahkan bahkan bertentangan?

  39. Saeli_0039_A : Izin bertanya Pak, Mengapa beberapa pemikir filsafat ilmu mencurigai eksperimen sebagai bentuk yang mengarahkan pada kecenderungan objektivisme? Dan bagaimana hermeneutika dapat menjadi alternatif yang membebaskan kita dari keterbatasan eksperimen dan menghadirkan refleksi sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam?

    Terimakasih, Pak.

  40. Asterina Akbariani Suseno_2222230110_D: Jika teks dan konteks berubah seiring waktu, lalu apakah ada penafsiran yang menghasilkan tafsiran tersebut benar? Jika ada, bagaimana cara melakukan penafsiran tersebut Pak?

  41. Kamilatun Nabilah_0003_2A
    Izin bertanya pak, setelah apa yang dijelaskan bapak bahwa hermeneutika dapat dikatakan sebagai sebuah konsep dan metode interpretasi yang digunakan untuk memahami teks, budaya, atau fenomena lainnya. Lalu bagaimana keterkaitan antara filsafat transendental dengan hermeneutika sebagai suara lain?

  42. Muhammad Wildan Atqya_0041_2A

    Hermeneutika sering kali dianggap sudah sempurna dalam tradisi ilmu-ilmu di luar filsafat, tetapi dalam filsafat masih dalam proses pengembangan. Apakah ini menunjukkan perbedaan pemahaman atau penggunaan hermeneutika di antara disiplin ilmu tersebut? Mengapa terjadi perbedaan? Untuk ke depannya bagaimana sebaiknya hermeneutika dipandang dan digunakan dalam pengembangan ilmu pengetahuan secara umum? Apakah perlu menyatukan pemahaman atau justru dibiarkan dengan banyaknya perbedaan untuk kekayaan pandangan ilmu?

    Terima kasih Pak.

  43. Amelia Firdaus_0078_2B

    Izin bertanya Pak, Mengapa kita perlu untuk memahami atau mempelajari konteks hermeneutika dalam menafsirkan Alkitab?

    Terima kasih.

  44. Kaman Jaya Saputra _2222230094_2C: Dalam konteks hermeneutika, bagaimana kita memungkinkan untuk bisa mengungkapkan makna di balik suatu teks ataupun pesan yang tidak selalu jelas dalam bahasa yang aslinya? Dan biasanya dalam menafsirkan hal itu, setiap individu memiliki pemahaman yang berbeda.
    Terimakasih banyak pak

  45. Alfatika _0046_2A
    Hermeneutika diartikan sebagai sebuah seni atau ilmu untuk mengungkapkan makna dibalik teks, tetapi jika sebuah makna itu tidak dapat dipahami oleh manusia, lantas apakah hal tersebut tetap disebut sebagai hermeneutika? Jika memang tidak, apakah itu berarti hermeneutika sifatnya terbatas?

  46. Ananda Putri Prameswari_2222230030_2D

    Izin bertanya, Pak. Dalam esai di atas dikatakan bahwa hermeneutika merupakan konsep untuk memahami teks, budaya, atau fenomena lainnya. Dalam bidang sastra, penafsiran atau pemahaman setiap orang terhadap karya sastra tersebut berbeda-beda. Apakah hermeneutika tetap bisa berjalan walau penafsiran atau pemahaman tersebut berbeda-beda? Dan apakah mungkin dalam penafsiran karya sastra akan ada orang-orang yang menafsirkan karya sastra tersebut dengan penafsiran yang sama?

    Terima kasih, Pak.

    • Izin bertanya kembali, Pak. Dalam esai dikatakan bahwa Itkoen memandang situasi akademik yang menggunakan tradisi eksperimental bukan sekedar tidak lagi memadai, tetapi juga sudah tidak diperlukan dan akhirnya ia katakan tidak mungkin lagi digunakan jika dengannya hanya menciptakan kemunduran ilmu. Mengapa Itkoen berpendapat seperti itu? Tradisi eksperimental yang dikatakan Itkoen seperti apa? Apakah sama seperti eksperimental yang kita ketahui, misalnya eksperimen di laboratorium? Jika iya seperti itu, bukankah eksperimental berguna untuk para peserta didik karena mereka bisa merasakan atau mencoba secara langsung teori yang mereka pelajari?

      Mohon koreksi jika ada kesalahan, Pak. Terima kasih.

    • Keti Wahdania_2222230086_2C
      Bapak bagaimana konsep agar kita bisa cepat mempelajari ilmu kajian ini baik dalam dunia pengetahuan maupun dalam kehidupan sehari-hari?, lalu relasi antara hermeneutika dengan filsafat itu sendiri, apakah hermeneutika itu bagian dari filsafat atau malah sebaliknya?

  47. Tifara Revalina Iryanti_2222230051_2A
    Esa Itkonen (1978) mengatakan hermeneutika sebagai cara berpikir non-positivistik. Bisa diberikan contohnya dengan ringkas dan bahasa yang mudah dipahami pak, contoh cara berpikir non-positivistik? Apakah berpikir selalu negatif atau bagaimana pak? Terimakasih

  48. Herawati_2222230113_2D
    Izin bertanya, Pak. Hermeneutika secara singkat adalah ilmu penafsiran. Jika dalam teks, validasi yang dihasilkan dari penafsiran itu bergantung kepada pembaca teks atau penulis teks?

    Terima Kasih.

  49. Herawati_2222230113_2D
    Izin bertanya, Pak. Hermeneutika secara singkat adalah ilmu penafsiran. Lalu, validasi yang dihasilkan dari penafsiran itu bergantung kepada pengirim atau penerima?

    Terima kasih.

  50. Mufidatuz_0014_B

    Bagaimana pengaruh tradisi positivisme terhadap pengembangan dan penerimaan hermeneutika dalam konteks akademik di Indonesia, dan bagaimana hal ini mempengaruhi pendekatan terhadap penafsiran dan interpretasi dalam berbagai disiplin ilmu?

  51. Aura Shafa Apriliana_2222230134_2C

    Izin bertanya Pak, bagaimana hermeneutika digunakan dalam memahami konteks ataupun fenomena budaya dalam hal ini merujuk pada karya seni?

    Terima kasih, Pak.

  52. Aura Shafa Apriliana_2222230134_2C

    Izin bertanya Pak, bagaimana hermeneutika digunakan dalam memahami konteks ataupun fenomena budaya dalam hal ini merujuk pada karya seni? Terima kasih, Pak.

  53. Keti Wahdania_2222230086_2C
    Bapak bagaimana konsep agar kita bisa cepat mempelajari ilmu kajian ini baik dalam dunia pengetahuan maupun dalam kehidupan sehari-hari?, lalu relasi antara hermeneutika dengan filsafat itu sendiri, apakah hermeneutika itu bagian dari filsafat atau malah sebaliknya?

  54. Alifah Zahra_0129_2A: Izin bertanya Pak, Dilihat dari hermeneutika dan positivisme logis, dapat diterapkan pada bidang tertentu seperti ilmu sosial, ilmu alam, dan humaniora. Lalu bagaimana hermeneutika dan positivisme logis dapat mempengaruhi pandangan kita tentang realitas dan pengalaman kita sebagai manusia?

    Terima kasih Pak.

  55. Hanin Mumtazah Putri Widyaningtyas_2222230083_2C

    Izin bertanya pak, apa yang membuat hermeneutika disebut-sebut sebagai ilmu penafsiran khusus bidang manusia? lalu, mengapa pemahaman terhadap manusia tidak dapat direduksi sama seperti benda-benda yang diamati dalam hermeneutika?
    Terima kasih pak

  56. Dwi Lutfiah Aini_2222230092_2C

    Setelah saya membaca esai yang ditulis Bapak di atas, ada banyak hal yang belum saya mengerti, beberapa di antaranya itu,
    1. Bagaimana hermeneutika itu muncul sebagai alternatif terhadap positivisme logis dalam memahami manusia dan fenomena sosial? Lalu, bagaimana hermeneutika itu sendiri berkembang sebagai reaksi positivisme logis?
    2. Kemudian, perbandingan penggunaan hermeneutika dalam ilmu-ilmu di luar filsafat dengan tradisi kefilsafatan itu seperti apa?

    Terima kasih, Bapak. Maaf jika dalam pertanyaan saya terdapat kekeliruan.

  57. Rafa Althaaf Sobari_2222230073_2C
    Izin bertanya pak
    Bagaimana perbandingan antara hermeneutika dan positivisme logis dalam memahami teks atau fenomena sosial?

  58. Nabila Dea_0005_2A

    Izin bertanya Pak,
    Apa kegunaan hermeneutika untuk seorang ahli bahasa? Lalu, apakah ada perdebatan dalam penggunaan hermeneutika? Jika ada, bagaimana cara kita menolak hermeneutika tersebut?

  59. Nama: Siti Maulida
    NIM: 2222230055
    Kelas: 2A

    Sebelumnya terima kasih atas esai yang sangat menarik dan informatif mengenai hermeneutika ini, Pak. Saya mendapatkan banyak wawasan baru yang membuka cakrawala pemikiran saya. Saya merasa esai ini memberikan perspektif yang sangat menarik dan membuka wawasan baru tentang hermeneutika. Sejujurnya, sebelum membaca esai ini, pengetahuan saya tentang hermeneutika sangat terbatas. Saya hanya tahu bahwa hermeneutika berkaitan dengan penafsiran teks atau karya, tetapi tidak terlalu memahami latar belakang dan signifikansinya dalam dunia akademik.

    Namun, esai ini membuat saya menyadari betapa hermeneutika memiliki peran penting sebagai tandingan terhadap positivisme logis yang cenderung mengobjektifikasi dan menyamakan segala hal, termasuk manusia. Pandangan bahwa hermeneutika muncul untuk memberikan “suara lain” yang lebih menghargai interpretasi, pemahaman makna, dan refleksi dalam mempelajari manusia dan karyanya benar-benar membuka perspektif baru bagi saya.

    Saya juga merasa tercerahkan dengan penjelasan komprehensif tentang penerapan hermeneutika di berbagai bidang seperti sastra, agama, budaya, filsafat, dan ilmu sosial. Selama ini saya mengira hermeneutika hanya relevan untuk kritik sastra atau penafsiran teks keagamaan. Tetapi kenyataannya, pendekatan ini bisa diterapkan untuk memahami fenomena budaya, interaksi sosial, bahkan pemikiran filosofis.

    Meskipun demikian, saya masih memiliki beberapa pertanyaan terkait hermeneutika yang ingin saya ajukan:

    Pertama, dalam praktiknya, bagaimana cara menjamin agar hermeneutika tidak terjebak dalam kungkungan teori/metateori tertentu seperti yang dikhawatirkan Kristeva? Kedua, apakah hermeneutika benar-benar menolak metode empiris dan eksperimental, atau masih ada ruang untuk mengombinasikannya dalam praktik?

    Ketiga, bagaimana menjembatani kesenjangan antara pendekatan hermeneutika dengan tuntutan objektivitas yang kuat dalam tradisi akademik arus utama? Keempat, Apakah ada batasan atau kriteria tertentu dalam menggunakan pendekatan hermeneutika? Maksudnya, apakah bisa diterapkan untuk mengkaji sembarang fenomena atau hanya yang terkait dengan dimensi kemanusiaan?

    Terakhir, kritik apa yang mungkin diajukan terhadap hermeneutika dari perspektif lain seperti positivisme, strukturalisme, atau pendekatan kontemporer lainnya?

  60. Fitri Novia Rahma_2222230024_2C

    Izin bertanya Pak. Pada tahun 1930 Hermeneutika lebih populer dengan sebutan Positivisme Logis, namun dilihat dari sastra Hermeneutika sendiri sudah menempati tingkat dewasa, lalu dalam filsafat Hermeneutika ini masih nampak muda, mengapa demikian? Lalu bagaimana bisa sastra yang lebih menonjol, sedangkan dalam literatur Barat dikemukakan bahwa setelah filsafat baru adanya sastra?
    Terima kasih Pak.

  61. Fauziyah Azizah_2222230021_2C

    Dalam essai Bapak tertulis “Kita dapat melihat bahwa hermeneutika kembali diperhatikan setelah positivisme dicurigai oleh berbagai kalangan yang membutuhkan alternatif sehingga pemikir seperti Esa Itkonen (1978) mengatakan hermeneutika sebagai cara berpikir non-positivistik.”

    Mengapa hermeneutika dianggap sebagai cara berpikir non-positivistik, Pak?

    Terimakasih, Pak

  62. Tiara Melya Pirgayani_0066_2B
    Izin bertanya, Pak. Berdasarkan paparan yang telah saya baca bahwa hermeneutika dapat dikombinasikan dengan metode lain yang berorientasi empiris. Selain penerapan melalui metode akademik, metode apa yang dapat dengan mudah diartikan atau perbedaan dari hermeneutika pada metode lain?

  63. Arinda_0101_2D
    Bagaimana pandangan Julia Kristeva terhadap hermeneutika, dan bagaimana hal itu berkaitan dengan pendekatan hermeneutika di Indonesia?

  64. Tia_30011_2B

    Berikut adalah pernyataan dan pertanyaan saya.
    Pertama, Pada pemaparan paragraf utama dijelaskan bahwa Hermeneutika sangat mungkin menjadi bagian positivisme logis sehingga pengalaman observatif harus sesuai dengan pernyataan teoretik dan turut membentuk kerja riset objektif untuk mematangkan objektivisme. Dalam pemahaman saya maka saya memungkinkan hal tersebut, Karena pada Hermeneutika dalam contoh konteks akademik yaitu Hermeneutika Kitab serta Hermeneutika Budaya tentunya sudah memiliki nilai sehingga manusia hanya menafsirkan sesuai dengan konteksnya. Kedua, Pada paragraf selanjutnya dipaparkan bahwa Hermeneutika membebaskan kita dari kecenderungan/semangat objektivisme yang menyamaratakan dunia, Dengan pemahaman saya maka adanya subjektivitisme dalam hal ini. Dengan demikian, Manusia menafsirkan berbagai fenomena untuk memperluas pemahaman dunia dan menemukan makna yang sesuai dengan pemahaman manusia tersebut. Dari pernyataan diatas Hermeneutika tidak memiliki salah satu pondasi yang kuat sehingga apakah hal tersebut yang membuat Hermeneutika harus dipandang sebagai bidang alternatif? Dan dalam mengkaji suatu fenomena apakah perlu adanya hal-hal tertentu untuk dapat menggunakan teori Hermeneutika sebagai sebuah alternatif?

    Terima Kasih.

  65. Elsa Agustina Manurung_2222230091_2C

    Bagaimana aplikasi hermeneutika dalam konteks akademik, seperti dalam sastra, alkitab, budaya, filsafat, dan sosial memperkaya pemahaman dan analisis di bidang-bidang tersebut? Apa implikasi dari penggunaan hermeneutika dalam bidang-bidang akademik ini?

  66. Muarif Husyandi_2222230019_2C

    Saya ingin bertanya pak, Bagaimana kita dapat mengatasi kebuntuan Hermeneutika yang terjebak dalam kerangka teori yang sudah ada terutama dalam konteks Kristeva yang menghubungkan Hermeneutika dengan positivisme logis., lalu bagaimana kita dapat mengembangkan pendekatan Hermeneutika yang lebih inovatif dan kritis, yang tidak terikat oleh teori yang sudah ada dan dapat mencapai penafsiran yang lebih objektif dan terbuka?

  67. Afina Aulia_2222230119_2A

    1. Bagaimana Hermeneutika dan Positivisme Logis memandang peran bahasa dalam konstruksi pengetahuan?

    2. Apa implikasi praktis dari perbedaan antara Hermeneutika dan Positivisme Logis dalam bidang-bidang ilmu sosial dan humaniora?

    3. Bagaimana Hermeneutika dan Positivisme Logis memandang konsep objektivitas dalam penelitian ilmiah?

  68. Husna Rifdah_2222230070_2B

    Secara singkat hermeneutika dapat dikatakan sebagai sebuah konsep dan metode interpretasi yang digunakan untuk memahami teks, budaya, atau fenomena lainnya. Lalu, bagaimana implikasinya?

  69. Zilfa Ghifara_222230037_2A

    Dalam konteks komunikasi antar budaya, bagaimana hermeneutika dapat membantu kita memahami kesalahpahaman yang mungkin timbul akibat perbedaan asumsi dan latar belakang budaya?

    • Salsabila Azahra _2222230082_2C
      Izin bertanya pak, Bagaimana peran kritik sastra dalam perkembangan hermeneutika dibandingkan dengan filsafat, serta Apa yang menjadi kekhawatiran Julia Kristeva terhadap hermeneutika dalam konteks linguistik Saussurean dan semiotika?

    • Cahya Putri Andini_2222230109_2D

      Izin bertanya Pak, apa hubungan hermeneutika dengan filsafat? dan apakah hermeneutika dapat digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an?
      Terima kasih

  70. Nama: Tri Fitriani
    NIM: 2222230121
    Kelas: 2A

    Apa implikasi praktis dari perbedaan antara Hermeneutika dan Positivisme Logis dalam bidang-bidang ilmu sosial dan humaniora?

    • Nama: Tri Fitriani
      NIM: 2222230121
      Kelas: 2A

      Jika hermeneutika tentang pemahaman dan penafsiran pada sastra, sosial, budaya dan lain sebagainya. Apakah ada objek atau ilmu yang tidak dapat menggunakan hermeneutika? Lalu jika tidak ada, apakah hermeneutika sangat berkaitan dengan nominalisme? Karena kedua ilmu tersebut seperti berhubungan karena untuk memahami atau menafsirkan sesuatu tentunya sangat berkesinambungan dengan cara pandang seseorang.

  71. Nabil Handika Putra_0054_2A

    Pak saya akan bertanya, Jika hermeneutika adalah proses pemahaman terhadap makna di balik suatu teks yang tidak selalu jelas, apakah mungkin juga manusia purba menggunakan hermeneutika untuk memahami tentang tatanan dunia dan juga sesamanya? Bagaimana mereka memahami tentang “benda bulat terang di langit” dan berinteraksi antar sesamanya, seperti melalui gambaran di dinding gua. Apakah mungkin juga manusia menerapkan hermeneutika untuk memahami apa yang leluhur mereka tidak pahami, layaknya proses “benda bulat terang di langit” menjadi “matahari”.

  72. Najwa_0106_2D
    Dalam esai ini, tertulis “Apabila kita menafsirkan teka-teki baru dan mendapatkan makna-makna tertentu karena ia sesuai dengan teori yang kita siapkan, kita sebenarnya ada dalam kebuntuan. Dengan kata lain, hermeneutika dalam proses tersebut baru nama belaka, tidak menjadi bagian dari cara kita menjadikannya paling depan dalam penafsiran, dan yang demikian itu amat berkembang subur dalam beragam karya ilmiah Indonesia.”

    Pertanyaan saya adalah apakah selama ini kebanyakan karya ilmiah di Indonesia hanya berusaha membuktikan teori yang sudah ada dan bukan memberikan pandangan baru mengenai teori yang sudah ada?
    Kalau memang hanya bertujuan untuk membuktikan teori yang sudah ada, maka tidak akan ada pandangan baru yang mungkin akan mengembangkan teori tersebut?

  73. Eka Edinda Yuliana Andriyani_0033_2D

    Pertanyaan:
    Izin bertanya Pak, Apakah tradisi positivisme benar-benar memberikan pemahaman yang komprehensif terhadap realitas manusia, atau apakah pendekatan yang mengabaikan aspek-aspek subjektif dan interpretatif justru menghasilkan kesenjangan dalam pemahaman kita tentang fenomena manusia?

  74. Salsabila Azahra_2222230082_2C
    Izin bertanya pak, Bagaimana peran kritik sastra dalam perkembangan hermeneutika dibandingkan dengan filsafat, serta Apa yang menjadi kekhawatiran Julia Kristeva terhadap hermeneutika dalam konteks linguistik Saussurean dan semiotika?

  75. Said Mirsalin_0107_2D:
    Izin bertanya, Apakah tantangan dalam penafsiran konteks agama dalam bahasa asing contohnya dalam kitab suci Al-Quràn dapat mempengaruhi validitas dan kedalaman pemahaman hermeneutika terhadap makna itu sendiri?
    Terima kasih

  76. Saffanah Dhiyaan_2222230088_2C
    Izin bertanya pak, mengapa hermeneutika dalam tradisi ilmu-ilmu di luar filsafat berbeda dengan hermeneutika dalam tradisi kefilsafatan?

  77. Tiara Ashifa_0071_2B : Bagaimana peran hermeneutika sebagai “suara lain” dapat merespons atau mengatasi tantangan yang dihadapi oleh paradigma positivisme dalam mereduksi manusia sebagai objek penelitian semata?

  78. Izin bertanya, Pak.
    Apa pengaruh hermeneutika dalam kehidupan? Dan bagaimana penerapan hermeneutika alkitab untuk orang-orang awam mengerti akan hal itu?

  79. Fitri Dwi Cahyani_2222230048_2A
    Seiring dengan upaya hermeneutika untuk menawarkan alternatif terhadap positivisme logis, apakah hermeneutika bisa terjebak dalam kebutuhan teoritis yang sama? Sebagaimana yang diungkapkan oleh Julia Kristeva dalam esai diatas, apakah ada risiko bahwa pendekatan hermeneutika juga dapat menjadi terhambat oleh kerangka teoritis yang ada sebelumnya?

  80. Yansen Yehuda_2222230065_2D
    Izin bertanya pak, Bagaimana dapat dikatakan bahwa Refleksi merupakan alat hermeneutika yang memungkinkan kita menyadari hal-hal yang memang tidak dapat semua di eksternalisasi?

  81. Rakha Nurfauzi Abdillah_0111_D. Izin bertanya, Pak.

    “Hermeneutika Sastra digunakan untuk memahami makna dalam karya sastra” Peratanyaanya, apakah hermeneutika dapat memahami makna yang sebenarnya dari karya sastra atau hanya mendapatkan pemahaman yang sifatnya subjektif? Mengingat karya sastra yang sifatnya multi tafsir. Pemahaman pembaca tentang makna sastra belum tentu sama dengan makna yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulisnya.

  82. Muhamad Ferdy Setiawan_2222230056_2B

    Izini bertanya pak, dikutip dari essai bapak di tuliskan bahwa dengan menggunakan kerangka pemikiran Itkonen (1978), hermeneutika sebagai ilmu menafsirkan manusia sebagaimana yang kami maksud dapat dirumuskan sebagai seperangkat teori ilmu-ilmu tertentu (bidang manusia) dan sebagai teori tentang hakikat dan anggapan-anggapan ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah secara umum. Pertanyaan saya Bagaimana hermeneutika bisa membantu memahami teks-teks ilmiah yang mungkin dianggap objektif menurut paradigma positivisme logis?

    Terima Kasih Pak

  83. Aulia Nur Afifah_0074_2B
    Jika hermeneutika memperoleh data melalui pemahaman makna, perkiraan maksud, pertimbangan nilai, corak norma, atau aturan tertentu. Apakah pemahaman dari setiap manusia berbeda itu akan menjadi satu makna yang sama?

  84. Firli Azkiya Rahmania_0027_D
    Izin bertanya Pak.
    Sebagai metode, hermeneutika dapat dikombinasikan dengan metode lain yang lebih empiris. Apa metode yang cocok untuk dikombinasikan dengan hermeneutika? Sebagai seorang pemula bagaimana cara untuk memahami dan mengembangkan hermeneutika secara objektif? Lalu,
    apa hubungan antara hermeneutika dan positivisme logis?
    Terima kasih.

  85. Decinta Nesa_0004_2A: Apakah dalam hermeneutika perlu suatu metode, agar kita sampai pada interpretasi yang benar? Bila perlu, metode apa itu? Atau, hermeneutika sama sekali tidak memerlukan metode apapun?

  86. Fera Oktapia _2222230104_2D

    Pertanyaan saya Pak, seberapa jauh pendekatan hermeneutika dapat diterapkan dalam studi linguistik, dan bagaimana pendekatan hermeneutika dapat membantu dalam menafsirkan makna yang terdapat dalam variasi bahasa dan pola komunikasi yang berbeda?

    Terima kasih.

  87. Zenitra Alzena_0131_2D : Hermeneutika tidak menjadi bagian dari cara kita menjadikannya paling depan dalam penafsiran, yang demikian itu amat berkembang subur dalam beragam karya ilmiah Indonesia, dimana kita bisa menemukan contohnya dalam beragam karya ilmiah di Indonesia?

  88. Astria Novianti Nugroho_2222230116_2D

    Izin bertanya Pak, Dalam konteks hermeneutika mengapa penting untuk mengungkapkan makna yang tersembunyi dibalik teks atau pesan yang tidak selalu jelas dalam bahasa aslinya, seperti yang disebut sebagai “enigma” oleh Kristeva?

    “Sastra itu membutuhkan penafsiran”
    Pertanyaan berikutnya, Mengapa penafsiran terhadap suatu karya bisa digunakan sebagai landasan untuk hermeneutika? Dan bagaimana dampaknya jika penafsiran tersebut tidak dapat dipahami sebagai karya?

    Terima kasih, Bapak.

  89. Nama : Sintha Novela
    Kelas :2D
    Nim :222223003
    izin bertanya pak Apakah implikasi dari perubahan semangat zaman yang mencurigai positivisme terhadap peran hermeneutika dalam kritik sastra dan pemahaman makna?

  90. Nazwa Archika Chynta_2222230079_2C

    Izin bertanya pak terkait hermeneutika sebagai cara berpikir non-positivistik itu bagaimana ya maksudnya dan apa perbedaan hermeneutika dengan tafsir??
    Terimakasih

Leave a Reply