Homo Faber

Di media sosial, terutama di Facebook, saya menemukan tangkapan layar sebuah twit yang sangat menarik perhatian. Seakan-akan, ia bekerja dengan sangat terpaksa. Bekerja untuk orang lain. Bukan untuk diri sendiri.

Saya segera memberikan komentar seperti ini:

Bekerja untuk diri sendiri! Jangan merasa Anda bekerja untuk orang lain. Apakah dia mempertimbangkan risiko kegagalan, kerusakan, dan bahan produksi lainnya?

Baca Do ut Des

Sejujurnya, hati nurani saya terganggu oleh twit seperti itu. Satu sisi. Sangat satu sisi. Selain itu, pikirannya sempit dan dangkal. Seperti katak di dalam tempurung.

Kemuliaan kerja

Setelah bekerja di Kompas-Gramedia selama 20 tahun, saya diajarkan oleh pendiri utama tentang kemuliaan kerja manusia. Kata-katanya masih teringat di benak saya, bahkan sampai saat ini, yaitu kata-kata Pak JO (Jakob Oetama). Bahwa bekerja adalah ciri, sekaligus, hakikat manusia.

Baca Casus

Homo faber. Apa artinya? Artinya, manusia (ditakdirkan), atau pada dasarnya bekerja untuk hidup (baik). Setelah jatuh dalam dosa, manusia berjuang, bekerja, bertahan, bekerja keras untuk hidup. Bekerja adalah perwujudan kemuliaan, martabat, dan hakiki dari manusia.

Ini adalah nilai-nilai pekerjaan manusia yang diturunkan dari Kompas-Gramedia kepada kami. Sehingga kebiasaan, perilaku, dan budaya kerja orang Kompas-Gramedia (saya dan Kang Pep) sama. Meskipun dalam 15 tahun terakhir, budaya kerja ini sudah mulai menurun. Tidak seperti zaman kami lagi. Saya bisa bersaksi tentang tergerusnya nilai-nilai inti ini.

Kerja dan gerak tandanya hidup

Kembali pada kemuliaan kerja.

Apa yang tidak memerlukan tenaga dan pikiran manusia? Bahkan untuk makan, diperlukan usaha. Mengambil makanan. Kemudian mengsendoknya dan memasukkannya ke dalam mulut. Setidaknya, membuka mulut. Jika perlu, untuk disuapi.

Dalam konteks filosofis, homo faber mengacu pada gagasan bahwa manusia adalah makhluk yang secara alamiah cenderung untuk menciptakan, memproduksi, dan mengubah dunia sekitarnya melalui kerja keras dan kreativitasnya.

Homo faber boleh dikatakan adalah esensi manusia yang secara intrinsik terkait dengan kerja keras dan penciptaan. Bahwa pekerjaan adalah bagian integral dari keberadaan manusia dan merupakan cara untuk mengekspresikan potensi, martabat, dan identitas manusiawi.

Homo faber hakikat

Jadi, homo faber adalah hakikat!

Selama menjadi karyawan, selama 23 tahun, saya tidak pernah berpikir untuk menuntut berlebihan kepada majikan. Sebaliknya, saya selalu bertanya: Apa yang bisa saya sumbangkan kepada majikan?

Baca Dulce et Utile

Jika kita menghitungnya dalam perusahaan, perusahaan juga akan menghitungnya dengan kita!

Balasan bukan selalu instan. Tidak selalu uang. Suatu saat, jika ada promosi, kita akan diingat karena kita merupakan bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah!

Sekarang saya berada di posisi penyedia/pemberi kerja. Meskipun saya tidak memiliki karyawan sebanyak Pak Jakob, hingga puluhan ribu. Saya mendidik karyawan saya.

Sama seperti Pak Jakob, Alfons Taryadi, Parakitri, St. Sularto, Teddy Surianto, Frans Meak Parera dahulu mendidik saya.

Tentang hakikat pekerjaan. Kemuliaan manusia yang tercermin dalam proses, hasil, dan dampak positif dari pekerjaan kita.

Bekerja untuk kemuliaan. Untuk kemanusiaan dan martabat.

Bekerja, oleh karena itu, bukanlah untuk diri sendiri dan perusahaan terlebih dahulu! *)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 719

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply