Hongaria dari Imajinasi Lazio Kamondy

Fuad Hassan, Prof. Dr. Apa jabatannya semasa Orde Baru di Kabinet, pasti semua orang mafhum. Namun hanya segelintir yang mafhum ia seorang psikolog, pakar filsafat eksistensialisme, dan penerjemah.

Sejak mahasiswa ujung tahun 1980-an, saya telah membaca buku-buku Fuad. Sala satunya Berkenalan dengan Eksistensialisme. Dan buku terjemahannya ini. Dua-dua buku masih ada menghisasi di perpus pribadi saya.

Judul Buku    : Sang Mahasiswa dan Sang Wanita
Penerbit: PT Grafiti Pers, Jakarta, Cetakan II, 1986
Tebal : 106 halaman
Terjemahan: Prof. Dr. Fuad Hassan 

JUDUL kumpulan cerpen yang dialih-bahasakan oleh Mendikbud Prof. Dr. Fuad Hassan ini diangkat dari cerpen “Sang mahasiswa dan Sang Wanita”, karya pengarang Hongaria terkenal Lazio Kamondy yang hidup tahun 1828-1972.

Sebagaimana yang diakuinya sendiri – karena alih bahasa yang dilakukan adalah alih bahasa yang kedua, yaitu setelah karya aslinya dalam bahasa Hongaria kedalam bahasa Inggris-maka hasil terjemahan ini oleh pengalih bahasa dikatakan tidak sempurna. Agaknya dalam hal ini Fuad Hassan menyadari  bahwa menterjemahkan bukanlah suatu pekerjaan yang terlampau gampang, apalagi menterjemahkan karya sastra dimana penterjemah mau tak mau dihadapkan pada kenyataan sukar untuk menstransformasikan ide, suasana, peristiwa, tokoh serta gaya bercerita kedalam bahasanya sendiri.

Tetapi dalam dasacarita (sepuluh cerita – Red.) pilihan pengalih bahasa dari kumpulan cerpen bunga rampai terbitan UNISCO, 44 Hungarian Short Strories (1979), ini diusahakan  dalam terjemahannya tidak sampai mengubah arti dan maksud pengarang semula, apalagi mengubah suasana yang hendak ditampilkan oleh pengarangnya.

Kita barangkali bertanya tanya mengapa Hongaria yang berpenduduk tak lebih dari sepuh juta jiwa itu terkenal. Bahkan bagi kebanyakan orang, termasuk Indonesia, negeri itu masih  tetap merupakan sebuah misteri. Bagaimana tidak! Karena  Hongaria begitu banyaknya menghasilkan manusia-manusia maestro.

Bila ingin mengambil contoh sarjana-sarjana kelas wahid, ambillah dari Hongaria. Tak berlebihan, sebab kenyataan membuktikan bahwa John von Neumann, Eugene Wigner, Albert Szent, Gyor gyi, Edmund Teller, Leo Szilard adalah nama ilmuwan terkenal  kelas dunia; bahkan dua diantaranya pernah meraih hadiah Nobel.

Tak hanya berhenti di situ keunggulan Hongaria. Di bidang ekonomi dan film, misalnya mereka sangat unggul. Siapa yang tidak mengenal aktor Leslie Howard yang selama bertahun-tahun lamanya mendominasi film-film di Inggris? Apalagi tentang sastra yang memberikan gambaran suatu masyarakat, Hongaria telah banyak melahirkan pengarang internasional yang terkumpul sekitar berkala Nyugat, yang berhaluan menentang tradisi-tradisi sastra konservatif.

Demikian bermutunya cerpen-cerpen dalam antologi ini, sehingga CP Snow dalam kata pengantarnya untuk edisi UNESCO collection of Repre sensitive work Europan series mengatakan bahwa cerpen-cerpen ini akan mengajarkan sesuatu  kepada kita,  sesuatu yang sangat penting, tentang suatu negeri yang hebat dan suatu kesusasteraan yang hebat pula.

Sebagaimana sub judulnya, antologi cerpen ini mengetengahkan sepuluh cerita yang ditulis sepuluh pengarang terkenal. Antara lain Dezo Kosztolanyi, Jozsi Jeno Tersanzky, Sandor Hunyadi, Pal Szabo, Emil Kolozsvari Grandpierre, Gabor Goda, Imre Dobozy, Endre Fejes, Ferenc Santa dan Laszio Kamondy.

Dengan segala talenta yang ada pada dirinya masing-masing pengarang menampilkan coraknya sendiri. Saya begitu terpukau  ketika mengikuti  cerpen ini satu demi satu, dan tak ingin berhenti sebelum ceritanya tamat. Tentu saja itu disebabkan karena tajamnya pengarang memantau setiap  persoalan dan situasi manusia serta menggarap di dalam bentuk kesusasteraan yang sangat bermutu

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply