Idealis bukan Perfeksionis

“Kamu harus punya idealisme!” begitu kata senior kamu saat ospek. Apakah seniormu pernah menjelaskan apa itu idealisme? Kamu pasti setuju kata tersebut tidak berasal dari kata “ideal” ditambah “isme”, karena makanya akan menyerupai “perfeksionisme”.

Setiap konsep yang kita gunakan mesti disadari sejarahnya, pengertiannya, dan boleh jadi setelah membaca esai ini kamu gak mau gunakan lagi kata tersebut, karena malah jadi gak ngerti. No problem! Gak harus segera dimengerti juga, karena ada ilmu-ilmu yang harus ditatah ke kerasnya batu untuk melekat kuat selamanya.

Secara kata, ia berasal dari dari kata Yunani idein yang berarti ‘melihat’. Tapi apa yang “dilihat” para idealis Jerman? Sampai begitu pentingnya sejarah konsep ini bagi Jerman, berbagai referensi selalu menuliskan “Idealisme Jerman”, tak pernah dua kata itu ditulis terpisah.

Idealisme Jerman lebih banyak dikaitkan dengan pemikiran-pemikiran Johann Gottlieb Fichte (1762-1814), Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling (1775-1854) dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831), dan pada dasarnya masing-masing merupakan para penyempurna pikiran-pikiran Kant mengingat sifat Idealisme Jerman menyangkal keberadaan benda-benda dalam dirinya sendiri.

Kita ini, menurut Idealisme Jerman, menciptakan dunia melalui persepsi. Namun “persepsi” yang sudah sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari sudah jauh dari  makna aslinya. Dalam konsep aslinya terdapat pelajaran penting Kant tentang subjektivitas yang meng-ada-kan ruang dan waktu.

Jika kamu masih memandang ruang dan waktu itu ada, terlihat, tersentuh, aktual, kamu belum layak menggunakan kata “persepsi”, belum layak pula menggunakan kata “idealisme”, karena bukan itu yang Kant maksud.

Menurut Kant, ruang dan waktu itu tidak aktual sebelum kita mempersepsinya. Kemunculan keduanya dari kelindan pembacaan empiris di satu sisi (sisi ini dalam rangka memahami yang masuk akal, sensible), dan di sisi lain ada versi fenomenologis tentang keberadaan sebagai penampakan yang bermakna bagi kesadaran.

Psikologi empiris kemudian memanfaatkan isu persepsi ini sebagai hubungan psikologis antara representasi dan sensasi, terkesan berbeda dengan Idealisme Jerman, padahal mereka sendiri sebenarnya berangkat dari “Transcendental Aesthetic[1] Kant. Mereka menafsirkan persepsi Kant sebagai sesuatu yang bisa dirasakan: apa yang ada-aktual adalah apa yang dapat dirasakan oleh indra.

Menurut pandangan tersebut, “wujud” yang ditambahkan ke dalam pengetahuan kita tentang predikat sebenarnya dari suatu objek —misalnya, warna, ukuran, bentuk— bukanlah suatu substansi ontologis transenden, melainkan suatu sikap psikologis sifatnya transenden.

Apabila kita mengikuti Idealisme Jerman dalam melihat bahasa, maka dengan segera kita akan menyadari bahasa dan dunia itu terputus secara radikal: bahasa dan pikiran bersifat otonom dan orang yang mempersepsi dunia memainkan peran aktif dalam mengkonstruksi dunia tersebut. Kebenaran tidak mungkin lagi didasarkan pada korespondensi antara bahasa dan dunia.

Pandangan Idealisme Jerman pada gilirannya sangat mempengaruhi fungsi kebenaran dalam bahasa. Dari sini lahir dua teori penting tentang kebenaran.

1)    Teori kebenaran koherensi, yakni teori yang menyatakan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar jika pernyataan tersebut koheren atau konsisten dengan pernyataan lain, dan

2)    Teori kebenaran pragmatis, yang menyatakan bahwa suatu pernyataan dapat dikatakan benar sejauh ada relevansi praktisnya dengan pengalaman dan tindakan.

Bagi mahasiswa sastra dan seni secara umum, mungkin pernah berkenalan dengan strukturalisme. Sebagai isme yang berkembang dari linguistik modern, ia lebih berkembang di lapangan pengkajian seni dan bukan bahasa. Teori kebenaran koherensi paling tidak dapat kamu rasakan dalam strukturalisme intrinsik yang di bidang kritik sastra, misalnya, mempelajari sifat-sifat struktural suatu teks untuk menghubungkannya dengan sekelompok teks yang lebih besar yang memiliki ciri-ciri yang sebanding di ruang isolasinya[2].

Akan tetapi, teori koherensi juga mengantarkan kajian sastra pada keseluruhan yang koheren, melibatkan karya-karya bersentuhan di sekitarnya, dalam ruang kebudayaan yang lebih luas, yang nilai-nilai di dalamnya mengambil fungsi untuk keseluruhannya (disebut kajian ekstrinsik). Kedua praktik ini berangkat dari teori kebenaran koherensi.

Dan teori kebenaran pragmatis sendiri berkembang sebagai pendekatan filosofis dari melalui pemikiran Peirce dan dialah yang menjelaskan bahwa kebenaran suatu pernyataan hanya dapat dipastikan dengan mengacu pada praktik. Di lapangan ilmu Pragmatik (saya menyarankan disebut Pragmatika Bahasa) nama Charles Sanders Peirce (1839-1914) yang melahirkan pragmatisme itu sendiri agak jarang disebut-sebut (lebih sering disebut-sebut di lapangan semiotika). Bagi Peirce, makna dari suatu kata harus didasarkan pada hubungan antara keadaan praktis saat kata tersebut digunakan.

Pragmatisme Bahasa juga berkembang dalam sejarah perkembangan Positivisme Logis di abad ke-20. Ia dapat dikatakan sebagai pendekatan dalam urusan bahasa secara langsung, tidak seperti Idealisme Jerman dan empirisme, dan pertama-tama dirumuskan oleh Alfred Jules Ayer (1910 – 89).

Menurut Ayer ada dua jenis pernyataan yang bermakna, yakni

  • pernyataan yang dapat dikonfirmasi secara empiris, dan
  • pernyataan yang benar berdasarkan aturan linguistik.

Pernyataan yang dapat dikonfirmasi secara empiris itu menyangkut pernyataan-pernyataan ilmiah sekaligus pernyataan-pernyataan faktawi umum, sedangkan pernyataan yang benar berdasarkan aturan linguistik berkaitan dengan matematika dan logika.

Mari kita cobakan dengan melihat pernyataan-pernyataan keagamaan dan metafisika. Apakah pernyataan-pernyataan di bidang-bidang terebut termasuk dalam kategori salah satunya atau keduanya? Ayer bilang tidak, salah satu pun tidak! Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan agamawi dan metafisika dianggap gak ada maknanya. Hal-hal etis dengan demikian juga tidak mempunyai makna dari sudut pandang faktual kendati mampu membawa makna afektif.

Idealisme Jerman belum melahirkan hal lain lagi dalam cara mengkaji bahasa hingga abad ke-21 ini, abad bagi kelahiran dan kematian Pragmatika Bahasa. Dan ngomong-ngomong, apakah kamu kini masih mau menggunakan kata “idealisme”? Serumit itu lho perjalanan sejarahnya dan tidak mudah juga menerapkannya dalam obrolan sehari-hari. Ia sebaiknya disimpan sebagai istrumen pembacaan kita pada bahasa keberadaan.

“Pokoknya, kamu harus punya idealisme!” begitu kata senior kamu atau dosen kamu, entah apa maksud mereka.[]

 

[1] Terdapat dalam Immanuel Kant, 1999, Critique of Pure Reason, New York: Cambridge University Press. Terbit pertama kali tahun 1781.

[2] Untuk pengembangan dan praktik pengkajiannya dalam kritik sastra pernah saya tulis dalam buku Roti Semiotika yang Memadai, 2015.

Share your love
Avatar photo
Arip Senjaya

Pemenang Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022, alumni Batu Ruyud Writing Camp Kaltara, dosen filsafat Untirta, anggota Komite Buku Nonteks Pusbuk Kemdikbud, sastrawan, editor. Alumni UPI dan UGM.

Articles: 24

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply