Indonesianisasi Gereja Katolik bagai Sawit

Sawit.
Entitas yang kini dijuluki “emas hijau”. Tanaman asing yang kini memberi kehdiupan dan manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia.

Cukup kreatif penulis yang memberi judul Indonesianisasi: Dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja Katolik Indonesia buku ini.  Terbit telah lama (Kanisius, 2005), namun  kandungan gizi menu sajian buku ini senantiasa aktual, bahkan mencelikkan. Pustaka yang menggambarkan sebuah proses yang mencerminkan konsep “indonesianisasi.”

Indonesianisasi  adalah proses menjadi Indonesia. Suatu “proses menjadi “yang dapat dihubungkan dengan transformasi pohon sawit yang tiba ke Nusantara: dari produk asing menjadi komoditas lokal yang memberikan nilai tambah dan penghidupan bagi masyarakat.

Dalam kedua konteks ini, “indonesianisasi” mengacu pada proses mengadopsi, mengubah, atau mengadaptasi elemen asing agar sesuai dengan kondisi lokal dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Boelaars, penulis buku, menggunakan metafora pohon sawit sebagai contoh dalam buku tersebut, menggambarkan bagaimana produk asing dapat menjadi bagian integral dari kehidupan lokal dan ekonomi. Analogi ini dapat diperluas dengan mengaitkan Boelaars dengan peran seorang cendekiawan seperti Dr. Johannes Elias Teijsmann yang membawa pohon sawit dari Mauritius ke Indonesia.

Seperti itu Gereja Katolik yang diindonesiakan. Bagai pohon sawit juga telah diadaptasi dan diadopsi (adopt and adapt) secara lokal. Sedemikian rupa, sehingga memberikan dampak positif bagi berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Dalam konteks buku dan gagasan Indonesianisasi, terdapat beberapa persamaan.

Adaptasi Budaya dan Kearifan Lokal: Seperti gereja Katolik yang diadaptasi sesuai dengan budaya dan konteks Indonesia, pohon sawit juga mengalami adaptasi dalam menghadapi lingkungan dan kebutuhan lokal. Ini menunjukkan pentingnya menghormati dan memanfaatkan kearifan lokal dalam mengintegrasikan produk asing.

Sama seperti gereja Katolik yang diindonesiakan memberikan penghidupan rohaniah bagi umatnya, pohon sawit juga memberikan penghidupan ekonomi dan peluang pekerjaan bagi masyarakat lokal.

Indonesianisasi  adalah proses menjadi Indonesia. Suatu “proses menjadi “yang dapat dihubungkan dengan transformasi pohon sawit yang datang ke Nusantara: dari produk asing menjadi komoditas lokal yang memberikan nilai tambah dan penghidupan bagi masyarakat.

Dr. Johannes Elias Teijsmann berperan dalam membawa pohon sawit ke Indonesia, menggambarkan pentingnya peran ahli dan kolaborasi lintas negara dalam memperkenalkan dan mengembangkan produk asing.

Dengan menggabungkan konsep-konsep ini, kita dapat mengembangkan gagasan lebih lanjut tentang bagaimana proses indonesianisasi dapat mempengaruhi berbagai aspek masyarakat dan ekonomi. Selain relevansinya dengan adaptasi produk asing lainnya.

Usai membaca buku ini, kita dapat memahami “100% Indonesia 100% Katolik” ungkapan yang menjadi  filosofi hidup Soegijapranata selama ini. Jika dicermati lebih jauh, dasarnya memang ada yakni Dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium dan Ad Gentes yang spiritnya adalah “realis praesentia Dei” menghadirkan  wajah Sang Ada yang nyata dalam situasi di mana saja.

Gereja yang berakar Indonesia. Inilah sejarah, biang serta pilar bangun budayanya. *)

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 211

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply