Jokpin : Celana Pas kah yang Jenaka

Kami, yang akrab dengan dia, selalu memanggilnya dengan inisial “Jokpin,” yang merupakan kependekan dari nama lengkapnya, Joko Pinurbo. Kenalan kami berawal dari waktu kami bekerja bersama di sebuah kantor pada tahun 1989. Meskipun kami bukan rekan kerja dalam arti sebenarnya, saya bekerja di penerbit PT Grasindo, yang merupakan salah satu perusahaan saudara dari Kompas Gramedia Grup, beberapa tahun sebelum Jokpin bergabung.

Saya adalah salah satu editor di penerbit tersebut, sementara Jokpin, meskipun lulusan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia seperti saya, tidak ditempatkan di departemen editorial. Sebaliknya, ia memulai karirnya di bagian pemasaran di perwakilan Grasindo di Yogyakarta. Namun, posisinya memang sangat mengesankan, karena dia diangkat menjadi kepala perwakilan.

Baca Koleksi Spesial 50 Tahun Majalah Bobo

Saya lebih dulu menulis di berbagai media cetak, yang era 1980-an sedang jaya-jayanya. Persaingan anta-penulis waktu itu belum seketat era 2000-an.

Jokpin masihlah seorang muda ideal, yang berpuisi dan ber-cerpen! Belum hendak mengirimkan karya tulisnya ke ke media. Sementara saya sangat gencar. Bahkan, sebulan bisa diterbitkan 12 artikel!

Dari sini, saya memutuskan untuk mengembangkan bakat menulis kreatif, dan saya memulainya sebelum Jokpin. Di akhir tahun 1980-an, saya sudah aktif sebagai seorang kolumnis di berbagai publikasi, baik di tingkat regional maupun nasional. Menulis kolom adalah passion saya, dan saya memiliki kesempatan untuk berkontribusi ke media ternama seperti Kompas, Media Indonesia, dan Suara Pembaruan.

Baca Berani Nulis, Berani Kaya

Karya-karya saya menjadi incaran dalam media-media tersebut, bukan hanya karena honorariumnya yang besar, tetapi juga karena mereka memiliki tingkat prestise yang sangat tinggi. Hanya segelintir orang yang bisa berhasil menembus Kompas, salah satu koran papan atas di Indonesia. Mencapai hal tersebut merupakan sebuah prestasi yang membanggakan, dan saya, bersama dengan Jokpin yang kemudian mengikuti jejak saya, mampu menorehkan nama kami di dunia jurnalistik dengan moto yang kami yakini: “Tanpa Kompas, serasa belum pas.”

Perlahan, tapi pasti Joko terjun ke dunia praktis penulisan. Mau tak hendak. Sebab, ia terutama, berkutat pada industri buku sekolah yang wajib berliterasi. Sebagai “pintu masuk sekolah” Jokpin menyelenggarakan pelatihan Jurnalistik Sekolah di DIY dan Jawa Tengah. Saya diundang jadi salah satu narasumber, bersama narasumber lokal.

Satu sesi pelatihan yang saya masih ingat, Jokpin mengadakan pelatihan menulis untuk guru0guru –agar kemudian mereka menggunakan buku terbitan Grasindo– adalah mengundang sastrawan dan penulis Jogja ketika itu, Linus Suryadi. Kami berdua ke rumah Linus di Wonosobo. Saya diinapkan Joko di sebuah guest house yang nyaman, dekat hotel tempat pelatihan. Joko memang sangat perhatian pada sahabat dekatnya.

Aaanleg, passion, Joko pada puisi!

Ia kisahkah pada saya, untuk mulai, ia riset semua penyair Nusantara (bukan hanya Indonesia) masa ke masa. Dalam benak ia berkata, “Mana mungkin saya mengalahkan penyair seperti Chairil, Sapardi, Rendra, Goenawan Mohammad, Linus, atau Darmanto Jatan? Bisa asalkan punya ciri khas.”

Baca Menulis dan Mengarang: Bagi Penulis dan Pengarang Pro, Berbeda!

Maka Joko menemukan ciri-khasnya. Ia memutuskan masuk dan berkanjang pada genre puisi (untuk diketahui ada 51 jenis puisi)” FUNNY POEM. Atau puisi humor yan lucu.

Maka, Jokpin menjadi seorang penyair yang terkenal dengan puisi-puisi jenakanya, seperti “Celana” dan “Burung”, yang mengangkat berbagai topik keseharian yang membuat kita tertawa atau setidaknya mengundang senyuman di wajah kita.

Persisnya, puisi jenaka naratif. “Paskah” sala satu pusinya yang terkenal lucu bukan alang kepalang. Tapi sembari lucu, juga dalam dari sisi makna.

Dengan tekun menulis puisi-puisi lucu, Joko sering kali memenangkan berbagai penghargaan.

Baca 2 Ekstrem dalam Menulis: Hindari!

Suatu kali, dengan rendah hati, dia berkata, “Jika saya berhasil memenangkan sayembara menulis ini, hadiahnya akan kusumbangkan kepada kaum fakir miskin. Dan kaum itu adalah keluarga saya sendiri!”

Tindakan baik hati Jokpin untuk memberikan penghargaannya kepada keluarganya yang mungkin kurang beruntung adalah cerminan dari karakter yang baik dan nilai-nilai yang dia anut dalam kehidupan sehari-harinya. Selain membuat orang tertawa melalui puisi-puisinya, dia juga memiliki hati yang besar dan penuh empati terhadap orang-orang yang membutuhkan.

Hadirin yang mendengarnya, tertawa!

Joko tampangnya tidak lucu. Tapi kata dan puisinya, lucu!

Puisi dan diksinya “kudus” sekali. Banyak dipetik dari Injil. Maklum, dia didikan para romo Jesuit, mulai dari  SMA Sri menari (orang Jawa menyebut Seminari) Mertoyudan hingga kuliah di Sanata Dharma.

Tapi rasanya lebih pas menyimak kata sorang cerdik cendikia. Dia profesor bidang sastra atas kumpulan puisi (KP) Celana-nya Jokpin ini:
Saya membayangkan akan lebih banyak orang Indonesia suka sastra setelah membaca Celana. Mungkin mula-mula tergelitik untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya. Tetapi, siapa tahu, setelah itu orang jadi tergila-gila pada sastra karena imajinasinya dibebaskan, pikirannya diputarbalikkan, dan jiwanya digetarkan. Apalagi setelah berpuluh tahun manusia Indonesia terkungkung oleh birokrasi, basa-basi, dan kekeringan akhlak. —Melani Budianta, 1999

Baca Gerai Toko Buku Impor di Bandara Soetta

Simak video-nya ini. Tak ubahnya seorang uskup, yang sedang menyampaikan “surat gembalanya”.

Jokpin emang jenaka! Membuat kita suka jadi temannya. *)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 719

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply