Karya Tulis| Dikutip, Tidak (Lagi) Mengutip

Hari gini. Saat setiap suku-bangsa maju peradabannya. Terutama melek literasi dasar, yakni baca-tulis. Kita sendirilah yang meneliti, kemudian melakukan publikasi tentang diri kita: keluarga, klan, lingkungan, ekonomi, dan sebagainya.
 
Zaman dahulu kala. Memang bangsa kita iliterasi. Meski sebelumnya terdapat banyak munsyi, juga pujangga di Jawa, tetap saja suku bangsa lain –bule– yang menulis sejarah Jawa, The History of Java. Dialah Sir Stamford Raffles.
 
Bahkan, Kamus Jawa Kuno, yang menyusun Zoetmulder.
Keluarga Jawa ditulis Hildred Geertz.
Etika Jawa oleh Magnis Suseno.
Padahal, kurang apa orang Jawa? Banyak yang pandai-pandai. Tapi mengapa buku-babon seperti itu, ditulis orang luar?
 
WAKTU dan BERKANJANG kuncinya. Berkanjang, jika Anda membolak kamus, maknanya lebih dalam dari persisten.
 
Tentang Zoetmulder. Saya dengar langsung testimoni dari YB Sudarmanto, kawan satu komunitasnya. Betapa sang padri tekun dalam karyanya. Setiap hari. Seperti “kawin” saja dengan apa yang dikerjakannya. Bukan setahun dua. Belasan, bahkan puluhan tahun baru karya itu jadi. Dan siap diluncurkan. Sekali luncur, menggetarkan jagad dunia persilatan literasi.
Semua geger dibuatnya.
Saya tidak hendak Sejarah Dayak (The History of Dayak) ditulis orang luar.
Sedjarah Kalimantan –telah pun ditulis dari dalam, olo itah, Tjilik Riwut.
Itu agaknya kunci melahirkan mahakarya dalam literasi. Berkanjang pada apa yang menjadi bidang kita. Sedemikian rupa, sehingga konten yang kita dalami dan teliti; kita hafalkan  di dalam kepala (in our mind), bukan di luar kepala yang malah jadi lupa.
 
Setidaknya, ada hal yang saya bisa belajar dari sejarah literasi ini. Saya tidak hendak Sejarah Dayak (The History of Dayak) ditulis orang luar.
Sedjarah Kalimantan –telah pun ditulis dari dalam, olo itah, Tjilik Riwut.
 
Nah, dalam hal ini. Meski literasi Dayak baru saja menggeliat. Dan Dayak punya 4 Penerbit (dan Percetakan) baru pada 2015. Tapi nyatanya Dayak  selangkah lebih maju! –dalam hal menulis sejarah-diri dan suku ini. Kamus Dayak juga disusun orang Dayak. Dalam waktu dekat, fisafat dan etika Dayak pun ditulis Dayak –Dr. Mgr. Valentinus Saeng, uskup Sanggau, Kalbar.
 
Sejak 1984, saya mendalami topik DAYAK. Membaca dan mengoleksi buku-buku terkait topik.
 
Jika Anda melihat banyak karya saya diKUTIP, bahkan oleh profesor seperti ilustrasi, itu bukan tiba-tiba.
 
Mengaji dari alif –kata pepatah. Semua, yang banyak itu, mulai dari angka: alif (1).
Kuncinya: berkanjang pada bidang.
 
Anda niscaya akan jadi ahlinya.
Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply