Kebudayaan Dayak | Narasi dari Dalam

Kini Dayak telah punya banyak penulis. Sedemikian rupa, sehingga citraan dan branding Dayak berbeda dengan dahulu –ketika suku bangsa yang populasinya sekitar 7 juta itu belum literat.

Tahun 1990-an, boleh dikatakan era mulai munculnya penulis Dayak yang menulis “dari dalam”. Ketika orang Dayak mulai sadar bahwa pendidikan adalah salah satu jalan menuju pembebasan dari keterbelakangan dan kemiskinan, banyak yang kemudian tergelitik menulis narasi tentang diri sendiri.

Penulisan yang baku adalah “Dayak” sebagai hasil konsensus pada bulan November 1992, ketika IDRD menyelenggarakan Seminar Nasional Kebudayaan Dayak di Pontianak. Seminar ini dihadiri sekitar 350 peserta dari Indonesia, Belanda, Perancis, Sabah dan Sarawak. 

Dorongan menulis dari dalam ini semakin menggebu-gebu, dengan asumsi bahwa “Kita yang lebih tahu tentang siapa diri kita.” Bermunculan sejak tahun 1990-an akademisi, cendekiawan, serta penulis-penulis Dayak yang menarasikan tentang dirinya sendiri.

Salah satu tonggak penting adalah buku, yang merupakan prosiding seminar Kebudayaan Dayak: Aktualisasi dan Transformasi (1994) yang disunting Paulus Florus, dkk. yang ditrbitkan PT Grasindo, Jakarta – salah satu anak perusahaan Kompas Gramedia Grup.

Dikatakan “tonggak baru”, sebab dalam seminar antarbangsa yang diadakan di kota khatulistiwa, Pontianak, ini penulisan dan kesepakatan “Dayak” sebagai nama etnis penduduk asli Borneo ini, tetapkan.

Sebelumnya, terdapat 6 versi penulisan etnis asli pulau Borneo itu, yakni: Daya, Daya’, Dajaks, Dyaks, Dya, dan Dayak. Penulisan yang baku adalah “Dayak” sebagai hasil konsensus pada bulan November 1992, ketika IDRD menyelenggarakan Seminar Nasional Kebudayaan Dayak di Pontianak. Seminar ini dihadiri sekitar 350 peserta dari Indonesia, Belanda, Perancis, Sabah dan Sarawak. 

Terutama dalam literatur berbahasa Belanda, penulisan adalah “Daya”tanpa k. Hal itu karena dalam tata bahasa Belanda senantiasa menyelipkan huruf konsonan di antara dua huruf vokal untuk membentuk kata benda-orang.

Maka penambahan ER terjadi pada DAYA –> Dayaker. Jadi, Dayak adalah manusia yang mendiami/ tinggal di hulu atau darat, jauh dari pesisir kepulauan Borneo. Hal yang demikian, sepadan dengan Nederland (harfiahnya: negeri/ tanah berada di bawah permukaan laut), orang yang mendiami tanah itu disebut: Nederlander.

Buku ini adalah prosiding hasil seminar penting itu. Diterbitkan PT Grasindo, salah satu anak perusahaan di lingkungan Kompas – Gramedia, ketika saya salah seorang editor yang menjadi jangkar terbitnya buku penting ini.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply