Learning from the Vereenigde Oostindische Compagnie (5)| Landbouw Warisan Kompeni yang Menghidupkan

Landbouw, karet warisan Kompeni Hindia Belanda, diakui menghidupkan orang Dayak selama berabad-abad. Tanpa karet, tidak dapat dibayangkan bagaimana masyarakat pedalaman Borneo mengasapi dapur. Sekaligus membeli seons dua ons gula kopi sejak zaman kolonial hingga kemerdekaan, hingga tahun 1980-an.

Tak terbilang ribuan anak pedalaman yang berhasil menyelesaikan sekolah di kota karena karet.

Karet, sebagaimana diketahui, memiliki peranan penting bagi masyarakat-basis sebagai:

  • Sumber pendapatan,sekaligus lapangan kerja penduduk,
  • Sumber devisa negara dari ekspor non-migas,
  • Menstimulasi tumbuhnya agro-industri di bidang perkebunan, dan
  • Sumber daya hayati,sekaligus pelestarian lingkungan.

Sayangnya, sejak 2014 menjadi tahun tersulit bagi petani karet. Betapa tidak! Pada tahun inilah hargakaret terjun bebas, sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana masyarakat benar-benar dibuat frustasi sebab harga karet di tingkat petani berkisar antara Rp 4.500 – Rp 7.000 saja. Tahun-tahun sebelumnya, harga terendah adalah Rp 7.000, sedangkan harga tertinggi adalah Rp 13.000 per kilogram.

Ditengarai terdapat berbagai sebab harga karet merosot. Selain mutu, juga petani sejak lama dibelit masalah oligopoli di tingkat tengkulak dan pabrik bokar di Kalbar (lihat: 3 pemain utama pabrik bokar), selain fluktuasi harga di tingkat importir.

Diyakini bahwa saat ini posisi karet alam belum tergantikan. Karena itu, sebenarnya para penyadap kulit pohon “Hevea Braziliensis” itu tidak perlu gamang, dan terus larut dalam kegalauan. Bukankah karet alam memiliki berbagai keunggulan dibanding karet sintetik, terutama dalam hal elastisitas, daya redam getaran, sifat lekuk lentur (flex-cracking) dan umur kelelahan (fatigue)?

Berdasarkan keunggulan tersebut, maka saat ini karet alam sangat dibutuhkan terutama oleh industri ban. Hanya saja, karena keterbatasan relasi dan sumberdana, belum ada satu pun pabrik ban –dan pabrik end-products—dari bahan karet alam beroperasi di Kalimantan Barat.

Padahal, bahan bakunya sangat dekat dan mudah didapat, dengan biaya yang relatif murah. Ada apa dengan tanaman komoditas industri ini? Sudah lebih 10 tahun harganya merosot.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply