Leviathan Hobbes dan Masyarakat Politik yang diarahkan pada Ketakutan

Judul narasi di atas adalah intisari buku yang relevan untuk situasi Indonesia saat ini.

Hobbes menyatakan bahwa ada summum malum, atau kejahatan terbesar. Yakni ketakutan akan kematian, yang kejam. Sebuah masyarakat politik dapat diarahkan pada ketakutan ini.

Baca Hayam Wuruk: Proof from History that Young Leaders Can be Exceptionally Great

Baik dan buruk hanyalah istilah yang digunakan untuk menyatakan keinginan dan hasrat individu, sedangkan keinginan dan hasrat ini hanyalah kecenderungan untuk bergerak menuju atau menjauhi objek. Harapan hanyalah keinginan untuk suatu hal yang dikombinasikan dengan pendapat bahwa itu dapat dicapai.

Hobbes  menyarankan bahwa teologi politik dominan pada saat itu, Skolastik, berkembang pada definisi yang bingung dari kata-kata sehari-hari, seperti substansi tak berwujud, yang bagi Hobbes adalah kontradiksi dalam istilah (contradictio in terminis)

Relevan untuk situasi kapan pun
Buruk buruk papan jati. Demikian buku ini. Meski terbit 3 abad silam. Pemikiran dan deskripsi di dalamnya tentang Negara, politik, rakyat, dan manipulasi; aktual tetap.

Baca Slippery Slope: Challenges in Indonesia’s Political Landscape

Lethiatan adalah sebuah karya klasik yang ditulis oleh filsuf politik terkenal, Thomas Hobbes, pada abad ke-17. Buku ini, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1651, adalah karya monumental yang memberi kontribusi besar terhadap pemikiran politik dan filsafat. Dengan lebih dari seribu halaman, Lethiatan menguraikan pandangan Hobbes tentang alam manusia, bentuk pemerintahan yang ideal, dan konsep kedaulatan.

Pertama-tama, Hobbes memulai karyanya dengan membahas konsep alam manusia sebelum adanya masyarakat dan pemerintahan. Menurutnya, keadaan ini ditandai oleh apa yang disebutnya sebagai “perang semua lawan semua” atau “bellum omnium contra omnes.” Dalam keadaan ini, manusia hidup dalam keadaan ketidakpastian dan anarki, di mana kehidupan menjadi “pendek, brutish, and nasty” (singkat, kejam, dan buruk).

Hobbes kemudian memperkenalkan konsep kontrak sosial untuk menjelaskan bagaimana masyarakat dan pemerintahan muncul sebagai hasil dari kebutuhan manusia untuk kelangsungan hidup dan perlindungan. Kontrak sosial ini mengarah pada pembentukan leviathan atau “monster laut,” yaitu pemerintahan yang kuat yang bertanggung jawab atas perlindungan dan menjaga keteraturan sosial.

Lebih lanjut, Hobbes mengembangkan teori kedaulatan. Menurutnya, kedaulatan harus bersifat absolut dan terpusat dalam otoritas tunggal, dengan rakyat menyerahkan hak-hak individual mereka kepada pemerintah. Kedaulatan absolut ini diperlukan untuk menghindari kembali ke keadaan perang dan anarki yang ada dalam keadaan alam manusia.

Bentuk pemerintahan dan agama
Dalam membahas bentuk pemerintahan, Hobbes memberikan preferensi pada monarki absolut. Menurutnya, pemerintahan yang paling efektif adalah pemerintahan yang dipimpin oleh seorang monarki yang memiliki kekuasaan penuh untuk menjaga ketertiban dan keamanan. Baginya, pemerintahan yang terlalu terfragmentasi atau yang memberikan terlalu banyak kebebasan kepada rakyat dapat mengancam stabilitas dan membawa kembali kekacauan.

Namun, Hobbes juga mencatat bahwa monarki absolut harus diatur oleh hukum yang sah, yang diterapkan baik oleh pemerintah maupun warga negara. Hal ini bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan memastikan keadilan dalam masyarakat.

Pandangan Hobbes tentang agama juga mencerminkan pemikiran kontroversialnya. Ia menyatakan bahwa otoritas agama harus diintegrasikan ke dalam struktur pemerintahan untuk menjaga ketaatan warga negara terhadap kekuasaan yang ada.

Konsep kebahagiaan
Dalam menutup bukunya, Hobbes mengeksplorasi konsep kebahagiaan dan mengklaim bahwa tujuan akhir manusia adalah kelangsungan hidup dan pencapaian kebahagiaan melalui keamanan sosial dan politik.

Dengan gaya penulisan yang tajam dan argumen yang mendalam, Lethiatan terus menjadi karya yang memprovokasi dan relevan dalam diskusi tentang filsafat politik dan teori pemerintahan. Meskipun kontroversial, pemikiran Hobbes tetap memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman kita tentang struktur sosial dan politik.

Baca The Governor-General’s Office of the VOC in Batavia: Will the Administrative Center Become a Museum in 200 Years?

Pemikiran Hobbes juga membuka jalan bagi pembahasan mengenai hubungan antara kekuasaan politik dan individu. Konsepnya tentang kedaulatan yang terpusat menjadi perdebatan utama dalam diskusi tentang sejauh mana pemerintahan memiliki hak untuk mengintervensi kehidupan pribadi warga negara. Pertanyaan ini tetap relevan dalam konteks debat kontemporer tentang batasan kekuasaan pemerintah dan privasi individu.

Selain itu, Lethiatan juga menciptakan landasan untuk memahami konflik dan kekerasan sebagai konsekuensi alam manusia yang bersifat kompetitif. Hobbes percaya bahwa manusia memiliki dorongan dasar untuk mencari keuntungan sendiri, dan ini dapat menyebabkan konflik dan ketegangan dalam masyarakat. Pemikiran ini memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman kita tentang dinamika sosial dan politik yang terjadi di dalam dan antara bangsa-bangsa.

Epistemologi dan filsafat
Selain aspek-aspek politiknya, Hobbes juga memberikan perhatian khusus pada epistemologi dan metodologi filsafat. Penggunaannya yang hati-hati terhadap logika dan bahasa menciptakan dasar untuk metode ilmiah yang berkembang selanjutnya. Meskipun karya-karya filsuf seperti René Descartes lebih dikenal dalam hal metode ilmiah, kontribusi Hobbes tidak boleh diabaikan dalam evolusi pemikiran ilmiah.

Baca Dinasti atau Wangsa? Eittt! Jangan Keliru!

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa pandangan Hobbes mengenai manusia dan masyarakat telah menuai kritik yang tajam. Beberapa kritikus menyoroti kurangnya ruang bagi kebebasan individual dalam teorinya, sedangkan yang lain meragukan pandangannya yang pesimistis terhadap manusia. Meskipun begitu, kontroversi inilah yang menjadikan Lethiatan sebagai salah satu karya yang paling mempengaruhi sejarah pemikiran politik.

Lethiatan bukan hanya sebuah karya yang mendefinisikan pemikiran Hobbes sendiri, tetapi juga memberikan fondasi untuk pemikiran-pemikiran besar yang muncul di kemudian hari.

Melalui konsep-konsepnya yang mendalam, Hobbes menawarkan sudut pandang yang merangsang pemikiran dan membantu membentuk landskap pemikiran politik dan filsafat yang terus berkembang hingga saat ini.

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 211

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply