Mazhab Frankfurt | Wajib Dipelajari di Perguruan Tinggi di Indonesia

Mazhab Frankfurt, atau pemikiran Sekolah Frankfurt, cukup mempengaruhi dunia. Sedemikian rupa, sehingga dipelajari di perguruan tinggi. Tulisan ini serial yang ke-2, lanjutan dari yang sebelumnya di Web ini.

Memahami Mazhab Frankfurt, lepas dari Marx dan Marisme, suatu yang mustahil.

Mengapa demikian?

Sebab Mazhab Frankfurt disebut juga, atau adalah, Neo-Marxisme. Sedemikian rupa, sehingga membahas Mazhab Frankfurt melewati Marxisme, bagai menghitung 2 tanpa angka 1. Mata-rantainya lepas.

Syukurlah. Narasi, atau bahasan kita ini, terjadi setelah Reformasi.

Pemikiran Marxisme tidaklah secara hitam dan putih dapat dikatakan buruk dan jahat sebab harus dilihat dalam konteks. Bahkan, untuk beberapa hal, terutama menyangkut fenomena sosial dan budaya media, pemikiran Marx hingga hari ini masih relevan dan belum ada duanya.

Pada era keterbukaan. Silang pendapat di jagat internasional, utamanya pemikiran dan aliran ilmiah, suatu keniscayaan. Hal yang tidak dapat dipasung adalah: kebebasan pikiran.

Sebelum reformasi, merupakan hal yang tabu untuk mendalami, apalagi mempraktikkan serta menyebarluaskan, pemikiran Marxisme. Oleh negara (Pemerintah Orde Baru), menyebarluaskan dan mempraktikkan paham Marxisme-komunisme dilarang yang dituangkan dalam Tap XXV/1966.

Pengalaman sejarah menyebabkan Orba melarang paham Marxisme-komunisme dipraktikkan dan disebarluaskan di Indonesia, sebetulnya terkait kegiatan serta tindak kekerasan disertai upaya makar yang dituduhkan pada G-30S/PKI tahun 1965.

Ketika Abdurrahmad Wahid naik kursi predisen RI pada 20 Oktober 1999, beliau melemparkan wacana pencabutan Tap XXV/1966, namun menuai pro dan kontra. 

Terlepas dari pro dan kontra, yang jelas bahwa membicarakan dan mendalami, apalagi mengkritisi pemikiran Marxisme sudah tidak lagi tabu. Bahkan, bersamaaan dengan angin reformasi, banyak buku seputar pemikiran Marxisme-Leninisme beredar secara luas di Indonesia.

Apabila dikritisi, pemikiran Marxisme tidaklah secara hitam dan putih dapat dikatakan buruk dan jahat sebab harus dilihat dalam konteks. Bahkan, untuk beberapa hal, terutama menyangkut fenomena sosial dan budaya media, pemikiran Marx hingga hari ini masih relevan dan belum ada duanya.

Artikel ini menelusuri pemikiran Karl Marx dan Neo Marxisme, dan mencoba melihat relevansinya untuk menjelaskan fenomena perubahan sosial, budaya, dan komunikasi (di Indonesia).

Marx dan -ismenya
Sebelum masuk ke penjelasan mengenai ajaran Marxisme dan perbedaannya dengan Neo-Marxisme, alangkah baik jika terlebih dahulu diketahui asal usul istilah tersebut.

“Marxisme” berasal dari kata Marx dan isme. Marx ialah kependekan dari Karl Marx, sedangkan isme berarti aliran atau paham. 

Menurut Miriam Budiardjo, Marxisme ialah aliran atau paham yang berasal atau dikembangkan oleh Karl Marx yang mengkritik kapitalisme karena kapitalisme meyakini bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi, selain lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi.

Karena itu, masyarakat yang ideal di benak Marx ialah masyarakat tanpa kelas. Marx lalu menyatakan bahwa untuk membentuk masyarakat baru atas runtuhan masyarakat lama tersebut harus dilakukan melalui pola yang sama, yakni dengan suatu revolusi. 

Riwayat Hidup Karl Marx
Karl Marx lahir pada 1818 di Trier, Jerman. Ayahnya seorang pengacara yang beberapa tahun sebelumnya pindah dari agama Yahudi menjadi Kristen Protestan.

Pada masa-masa kuliahnya di Universitas Bonn, Marx berada di bawah pengaruh Hegel dan mempelajari filsafat bukan hukum yang lebih diinginkan ayahnya.

Selama hampir setahun Marx menjadi pimpinan redaksi sebuah harian radikal pada 1843, sesudah harian itu dilarang oleh pemerintah Prussia, ia kawin dengan Jenny Von Westphalen, putri seorang bangsawan, lalu pindah ke Paris.

Di sana ia tidak hanya berkenalan dengan Friedrich Engels (1820-1895) yang akan menjadi teman akrab dan “penerjemah” teori-teorinya, melainkan juga dengan tokoh-tokoh sosialis Perancis. 
(bersambung)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply