Melacak Jejak Sejarah dan Asal Usul Lambang Burung Garuda (4)

Pengingat cerita ke-3 yang lalu.
Darajuanti, dara berdarah Dayak-Senganan, putri raja kerajaan Sintang diutus membebaskan Abang Jubair yang terperangkap di Majapahit. Agar misi sukses, ia disarankan para penasihat dan kaum cerdik cendikia menyamar sebagai laki-laki. Namun, tatkala bertarung dengan Loh Gender, ia terbang di udara. Ketika terbang itulah, tersingkap kain yang melilit pinggangnya. Seketika, silau mata Loh Gender melihat ada aura cahaya memancar dari selangkangannya. Menjadi mafhumlah Loh Gender, ia bukan pria. Ia wanita. Dan Loh Gender mengaku kalah. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?

***

Tiba di dermaga Tuban. Kapal merapat dekat darat.
Tidak ada yang mengganggu. Seakan semua berjalan normal, seperti tidak terjadi apa-apa.

Menjelang malam. Rombongan membuang sauh dan jangkar di tempat penambatan kapal-kapal asing.

Karena sudah mengatur siasat sejak keberangkatan dari Sintang, selain kapten dan beberapa prajurit piket, para penumpang tidur lebih dulu pada siang hari itu sementara kapal berlayar. Hal itu untuk menghindari agar nanti mereka tidak penat dan tidak mengantuk sepanjang malam.

Demikianlah yang terjadi pada malam itu. Sebagaimana yang diduga. Menjelang subuh tiba, ketika orang-orang sedang berada pada puncak tidur yang nyenyak, pasukan-pasukan cekatan Majapahit turun ke pelabuhan. Mereka sudah tahu harus memasang perangkap di kapal yang mana.

Tercium sesuatu seperti aroma tembakau berasal dari asap mengepul yang ditiup dari ujung buluh bambu, disertai bunyi seperti seruling.

Itu adalah buluh yang membuat siapa saja yang mencium bau asap dan mendengar bunyinya akantertidur tak sadar.

Begitu yakin para awak kapal berbendera Kerajaan Sintang tersihir semua oleh asap dan mendengar bunyi, pasukan pasukan-pasukan cekatan segera bergerak.

Mereka dengan cepat memasang perangkap kura-kura emas ke lambung kapal berbendera Kerajaan Sintang yang baru berlabuh. Awak kapal tidak bereaksi sama sekali.

Para awak kapal malah membiarkan saja para pemasang perangkap melaksanakan aksinya. Mereka sudah membawa dari tanah Borneo obat penangkal sihir tidur lelap itu. Dan agar tidak dicurigai, mereka berpura-pura tidur lelap ketika pasukan-pasukan cekatan Kerajaan Majapahit lewat.

Yakin bahwa misi telah dituntaskan dengan baik, pasukan-pasukan cekatan Kerajaan Majapahit segera kembali ke pos penjagaan masing-masing.

Demikianlah, sebagaimana biasa, siasat pun dijalankan. Bersamaan waktunya dengan subuh tiba, terdengar genderang ditabuh bertalu-talu. Kerumunan pun datang bersamaan dengan bunyi itu.

“Perhatian, perhatian!” terdengar teriak keras seiring bunyi tetabuhan. “Ayo berkumpul sekitar kapal asing ini, sebab mereka punya niat jahat terhadap
kerajaan!”

Surjo Modjopahit. Diletakkan sebagai perangkap di lumbung kapal maka disebut demikian.

Di antara samar-samar subuh, sosok gagah perkasa tampak memimpin pasukan menggeledah kapal. Ia sama sekali yakin dengan apa yang akan dilakukan. Merangsek masuk ke dalam kapal seraya berkata,
“Kami akan memeriksa awak dan seisi kapal ini!”

Penggeledahan pun dilakukan. Di dalam kapal tidak ditemukan satu pun barang milik kerajaan Majapahit sebagaimana yang dituduhkan dicuri.
Loh Gender tahu bukan di dalam kapal orang-orang suruhannya memasang perangkap stempel kerajaan melainkan di lambung kapal. Maka dengan senyum kemenangan, seperti mengejek, Loh Gender berkata,
“Periksa sampai ke dalam-dalam, termasuk lambung kapal ini. Siapa tahu ada yang mencurigakan di sana?”
Para penyelam pun melaksanakan perintah. Mereka memeriksa lambung kapal dengan saksama, berharap menemukan di sana perangkap sebagaimana biasa.
Akan tetapi, betapa kaget mereka. Kura-kura emas*) tak ditemukan di sana. Sesampainya di daratan, dengan gugup para penyelam melaporkan hasil penggeledahan mereka.
“Ampun tuanku, Patih.”
“Ada apa ini? Kalian sudah memeriksa semuanya di lambung kapal?”
“Sudah, Patih. Kami tak menemukan sesuatu apa pun yang mencurigakan!”
“Tak menemukan apa-apa? Dasar goblok!” bentak sang patih. “Dasar prajurit bodoh dan tidak berguna!” katanya, seraya mencampakkan mereka.

“Terimalah ini sebagai hukuman kalian!” Diliputi angkara murka, Loh Gender menendang. Lalu menceburkan penyelam-penyelam itu ke dalam air.

*)Surjo Modjopahit. Diletakkan sebagai perangkap di lumbung kapal maka disebut demikian.

 

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply