Membaca TEMPO dari Bias Media

TEMPO kerap menyajikan menu konten yang kontroversial. Terutama terkait Jokowidodo (Jokowi), sikap dan tindakannya serta Jokowi Effect (pegaruh Jokowi). Seperti sajiannya yang ini! Yang sebenarnya lebih tepat dikatakan: Berita Imajiner TEMPO untuk Pembaca.

Benar bahwa media perlu mencari, dan mengemas, konten yang punya news value.  Namun, jika “imajiner”, apakah dapat dikatakan media berita dan informasi?

Media massa dan media sosial di era digital

Media massa dan media sosial di era digital, sama-sama punya pengaruh. Dan saling kait. Kadang media massa kalah cepatm bahkan mengambil sumber dari media sosial, dan dijadikan sumber setidaknya awal investigasi. Namun, bisa juga media masa menu kontennya bukan berita, tapi imajiner pengasuhnya, seperti Tempo ini.

Mari saksikan degan saksama judulnya. Lalu cari sumber primer dan baca dengan saksama: Surat Imajiner Tempo untuk Grace Natalie.

Baca Jokowi Leads Where Does the Ball Go?

Penyelidikan terhadap bias media memang merupakan aspek yang penting dalam mengkritisi dan memahami dinamika pemberitaan. Cirrino (1971) memapatkan beberapa bias media. Dan dua di antaranya yang Anda sebutkan, yaitu “Interest penulisnya (wartawan)” dan “Latar belakang pemilik media (ideologi dan keberpihakan).

Dalam konteks “bias media” ini kita menempatkan dan memahami sajian Tempo ini! Sedemikian rupa, sehingga sarat dengan subjektivitas dan orientasi keberpihakan wartawan serta pemilik media.

  1. Interest Penulis (Wartawan):
    Wartawan cenderung membawa kepentingan dan pandangan pribadi mereka ke dalam tulisan mereka. Dalam konteks Tempo, penekanan yang kuat pada berita yang berkaitan dengan Jokowi dan pemilihan berita tersebut sebagai Laporan Utama bisa mencerminkan kecenderungan tertentu dalam sudut pandang dan keberpihakan wartawan. Keterlibatan emosional atau preferensi pribadi wartawan dapat memengaruhi bagaimana berita disusun, dipilih, dan ditulis.
  2. Latar Belakang Pemilik Media (Ideologi dan Keberpihakan):
    Ideologi dan keberpihakan pemilik media, yang mencakup nilai-nilai, pandangan politik, dan tujuan bisnis mereka, juga dapat memberikan warna pada pemberitaan. Jika pemilik media memiliki afiliasi politik atau kebijakan tertentu, hal ini dapat tercermin dalam keputusan editorial, penekanan pada isu tertentu, dan pemilihan sudut pandang dalam pemberitaan. Dalam konteks Tempo, jika ada keberpihakan tertentu dari pemiliknya, hal tersebut dapat menciptakan kecenderungan dalam pemilihan dan penyajian berita yang dapat memengaruhi persepsi pembaca. Yang dalam istilah Cirrino disebut sebagai “how to spoon”, menyendok, memilih yang makanan yang disukai saja ke dalam mulut. Yang tidak suka, tidak diambil dan dimasukkan ke dalam mulut sebagai santapan-media, untuk disajikan kembali kepada Pembaca.

Dalam menganalisis subjektivitas dan keberpihakan media, penting untuk mempertimbangkan kerangka kerja editorial, etika jurnalistik, dan transparansi dalam memberikan informasi kepada pembaca.

Baca Gibran is Moving Forward, while Jokowi is Moving Backward

Pemahaman lebih lanjut terkait kebijakan redaksi dan prinsip-prinsip editorial Tempo dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang bagaimana berita dipilih dan disajikan.

Imajiner yang dibagi

Lalu imajiner yang dibangun media, dibagi ke media sosial. Apa maksudnya? Dari 4 fungsi pers, salah satunya: mempengaruhi opini publik!

Proses imajinatif yang dibangun oleh media seringkali menjadi bagian integral dari dinamika informasi yang berkembang di era digital, terutama melalui media sosial. Berita/ dan imajiner yang dibangun media, dibagi ke media sosial” adalah bahwa naratif, opini, dan persepsi yang dibentuk oleh berbagai media tradisional (seperti televisi, koran, dan majalah) seringkali disebarkan atau dibagi lebih lanjut melalui platform media sosial.

Dalam konteks ini, media sosial memainkan peran penting sebagai saluran distribusi yang mempercepat penyebaran informasi.

Baca Clear Thinking & Clear Writing

Ketika media tradisional membentuk imajinatif tertentu atau memberikan sorotan pada suatu isu, pengguna media sosial dapat dengan cepat berbagi konten tersebut kepada khalayak mereka sendiri. Hal ini menciptakan lingkaran umpan balik di mana opini dan persepsi yang dibangun oleh media tradisional dapat menjadi semakin signifikan melalui interaksi dan berbagi di media sosial.

Pentingnya peran media sosial dalam membagikan dan memperkuat imajinatif yang dibangun oleh media tradisional dapat dilihat dalam konteks fungsi pers, terutama dalam hal mempengaruhi opini publik.

Fungsi ini, yang termasuk dalam salah satu dari empat fungsi utama pers, menunjukkan bahwa media tidak hanya menyajikan fakta, tetapi juga memiliki peran dalam membentuk dan memengaruhi pandangan masyarakat terhadap suatu isu atau tokoh tertentu.

Dengan adanya media sosial, pengaruh media terhadap opini publik tidak lagi terbatas pada penyiaran satu arah dari media tradisional ke konsumen.

Sebaliknya, pengguna media sosial juga memiliki peran aktif dalam membentuk, menyebarluaskan, dan memperdebatkan imajinatif yang dibangun oleh media, menciptakan ekosistem informasi yang dinamis dan kompleks. *)

 

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 235

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply