Muzium Sarawak dan Jasanya Meneliti Uji Karbon Manusia Asli Borneo di Gua Niah, Miri

Museum Sarawak berperan sangat penting dalam menjalin kerja sama dengan Inggris untuk melakukan penelitian terhadap manusia asli penghuni Borneo di gua Niah.

Penelitian ini telah berhasil mengungkap keberadaan manusia penghuni Borneo yang ternyata telah ada sejak 40.000 tahun silam.

Uji karbon: Museum Sarawak dan para peneliti Inggris

Kerja sama antara Museum Sarawak dan para peneliti Inggris tidak hanya membuka jendela sejarah yang panjang, tetapi juga menghasilkan pemahaman mendalam tentang perjalanan dan evolusi manusia di wilayah tersebut.

Penemuan ini tidak hanya memberikan wawasan baru terkait sejarah manusia di Borneo, tetapi juga memperkaya khasanah ilmiah global terkait perkembangan manusia prasejarah.

Muzium Sarawak sebagai institusi penelitian dan pengarsipan memiliki peran strategis dalam memastikan pengetahuan ini dapat dipelajari dan diakses oleh generasi mendatang.

Baca The striking differences in many aspects secarabetween Sarawak (part of Malaysia) and West Kalimantan (part of Indonesia)

Selain itu, kerja sama internasional antara Muzium Sarawak dan Inggris menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam memahami warisan manusia.

Hasil penelitian ilmiah berupa uji karbon ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ilmu pengetahuan arkeologi, antropologi, dan sejarah manusia prasejarah.

Selain itu, memberikan pandangan yang lebih komprehensif tentang kehidupan dan budaya manusia di Borneo selama ribuan tahun.

Prasejarah Borneo dan dongeng nina bobok Dayak dari Yunan

Secara ilmiah, hasil uji karbon (C-5) menunjukkan bahwa suku Dayak telah tinggal di pulau Borneo sejak 40.000 tahun.

Penelitian prasejarah Blust menyimpulkan bahwa sebelum deglasiasi, Borneo sudah dihuni oleh kelompok manusia yang kemudian disebut “Dayak”.

Selain Blust, peneliti lain yang menulis mengenai prasejarah Varuna-dvipa, nama Kalimantan sebelum kedatangan orang Eropa, semasa pengaruh Hindu-India, adalah Peter Bellwood (1992).

Yang pasti, penelitian prasejarah Borneo dan uji karbon Gua Niah ini saintifik, tak terbantahkan dan teruji. Jauuuh lebih memuaskan daripada asumsi, lebih ke mitos karena tidak bisa dibuktikan, asumsi bahwa: orang Yunan yang imigran ke Borneo.

Tanyakan saja: Siapa nama imigran dari Yunan itu? Mendarat di mana? Mana pecinan (kampung) Cinanya? Tahun berapa? Di mana mereka mendarat?

Jika tidak bisa dijawab pertanyaan penelitian itu! Berarti: bukan-sejarah!

Gua Niah, tanpa syak wasangka lagi karena teruji secara ilmiah-hstoris, menjadi bukti konkret keberadaan manusia sebagai penghuni Borneo pada masa 40.000 tahun yang lalu. Temuan ini dikuatkan oleh uji karbon secara ilmiah dan juga mendukung sejarah penghuni asli Borneo, bukan berasal dari tempat lain (Masri, 2022).

Ilustrasi yang disajikan di bawah ini menunjukkan penampakan Gua Niah, sebuah situs bersejarah yang memberikan bukti kuat bahwa nenek moyang suku Dayak merupakan penghuni asli Borneo. Saat ini, Gua Niah ditempati oleh etnis Iban.

Fakta ini mendukung argumen bahwa bukti keberadaan suku Dayak tidak berasal dari tempat lain, tetapi justru ditemukan di Borneo dan sekitarnya. Dalam konteks ini, perlu ditekankan bahwa bukanlah orang Yunan yang datang ke Borneo, melainkan orang Borneo yang pernah sampai ke Yunan.

Gua Niah: Dari hasil uji karbon (C-5) secara saintifik diketahui Dayak telah ada di pulau Borneo sejak 40.000 tahun lalu. Membuktikan bahwa bukan orang Yunan ke Borneo, tapi orang Borneo yang ke Yunan.

Muzium Sarawak adalah destinasi wisata yang wajib dikunjungi saat berada di Kota Kuching. Meskipun mungkin kurang diminati oleh mereka yang kurang tertarik pada sejarah dan arkeologi, tetapi pengalaman yang berbeda dapat ditemukan di sana.

Kuching, sebagai ibu negeri Sarawak, Malaysia, memiliki sejarah yang kaya, terutama terkait pemisahan Sarawak dari Indonesia. Untuk warga yang tinggal di perbatasan, batas hanya merupakan konsep imajiner yang diciptakan oleh manusia. Ini, seperti garis waktu masa kanak-kanak, berfungsi untuk memisahkan egoisme kita dari teman, menandakan kekuasaan kita.

Baca Balai Sebut dan Jangkang dalam Catatan Misionaris asal Belanda

Kenyataannya, Sarawak dan Kaliantan-Indonesia memiliki saudara-saudara yang tinggal di berbagai negara. Saya memiliki keluarga di Sibu, teman-teman di Miri, Sabah, dan Sandakan, serta saudara-saudara etnis Bidayuh di Serian dan beberapa di Tebedu. Hubungan yang saling silang ini menciptakan persekongkolan yang erat.

Terbenam di Museum Sarawak

Saya sering terbenam di Museum Sarawak, di mana Dr. Ipoi Datan pernah menjadi Ketua Pengerusi. Saya menghabiskan waktu berhari-hari untuk meneliti artefak dan membaca buku-buku kuna di sana. Pada sore hari, sering kali saya duduk di tepi Sungai Sarawak, menikmati secangkir kopi dan makan malam.

Buku-buku mengenai suku Dayak di Sarawak sangat beragam, mencakup legenda, mitos, hingga hasil penelitian. Museum Sarawak telah menjadi sumber referensi yang berharga bagi saya, meski saya juga sering membeli buku di toko-toko di sekitar Water Front.

Baca Astana in a bank of Sarawak River

Manajemen profesional Museum Sarawak menyediakan berbagai referensi terkait Sarawak, etnologi/etnografi, kepercayaan tradisional, dan sejarah. Bahkan, mereka memiliki jurnal ilmiah dengan topik riset yang luar biasa dan unik. Saya menemukan banyak monografi dengan penjelasan detail tentang kenyalang (hornbill), lambang khas orang Dayak.

Meskipun simbol ruai dan enggang umumnya diketahui di kalangan suku Dayak, subsuku Dayak Lun Bawang (Lun Dayeh) tidak mengenal simbol tersebut. Mereka, yang jumlahnya mencapai 20.000 di Sarawak, memiliki akar budaya yang sama dengan Indonesia. Tokoh legendaris mereka, Yupai Semaring, memiliki situs bersejarah seperti Batu Narit di perbatasan antara Sabah-Sarawak, dan di dataran tinggi Ba Kelaban, terdapat situs di Pa Ukat dan Pa Lungan.

Muzium Sarawak berjasa besar dalam kolaborasinya dengan Inggris untuk melakukan uji karbon di situs gua batu Niah, Miri. Penemuan ini mengungkap bahwa manusia pertama yang menjadi penghuni Varuna-dvipa (Borneo) telah hadir di pulau ini sejak 40.000 tahun yang lalu.

Baca Dayak di Sarawak| Metode Penelitian Etnografi

Gua Niah saat ini merupakan bagian dari Taman Nasional, dengan penduduknya berasal dari suku Orang Iban. Tanpa peran Museum Sarawak, kita mungkin tidak akan menyadari bahwa kita adalah pemangku tanah Borneo, sebuah warisan nenek moyang puluhan ribu tahun yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Museum Sarawak didirikan pada tahun 1888

Selama kepemimpinan Ipoi Datan, Ph.D., seorang Lunbawang (Lun Dayeh di Indonesia) di Museum Sarawak, saya sering berdiskusi dengannya di museum, terutama seputar sejarah dan tradisi nenek moyang suku bangsa Dayak.

Menurut penelitian Ipoi Datan, tidak semua suku bangsa Dayak memiliki simbol atau ikon burung engang, ruai, atau kenyalang (hornbill). Meskipun banyak rumpun Dayak yang menjadikan burung tersebut sebagai simbol ketinggian, kecerdasan, ketangkasan, dan kedigdayaan.

Menurut Ipoi, suku Lun Dayeh atau Lunbawang memiliki simbol berupa buaya, suatu temuan yang diungkapkan melalui penelitiannya yang diterbitkan dalam jurnal Museum Sarawak.

Muzium Sarawak didirikan pada tahun 1888 dan dibuka pada tahun 1891 di Kuching, Sarawak, oleh Charles Brooke, Rajah Putih Sarawak II, atas permintaan Alfred Russel Wallace.

Muzium Sarawak telah berkembang menjadi institusi modern dan lengkap. Meskipun awalnya dipimpin oleh seorang “kurator”, atau pemelihara dan penjaga. Namun, sejak 2009 hingga sekarang, kepala museum disebut “Direktur.” *)

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 211

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply