Ngayau Berevolusi 4 Kali

Ngayau. Apa itu? Banyak orang luar etnis Dayak, mispersepsi. Dikira hanya headhunter. Keliru!

Ngayau, pertama-tama, dan utama adalah mekanisme pembelaan diri. Sekaligus, upaya mempertahankan klan, komunitas adat, serta hak-hak tanah ulayat Dayak di masa yang lampau.

Meski telah diakhiri usai Perjanjian Damai Tumbang Anoi ( PTA) tahun 1894, publikasi-publikasi asing masih gencar dan dengan sangat senang menangkat ngayau sebagai komoditas yang laku untuk dijual.

Selain itu, publikasi-publikasi asing juga sangat suka menjual hal-hal unik dari budaya etnis Dayak, seperti: anting yang menggantung di telinga panjang, pria wanita mengenakan cawat, badan penuh tato, rumah betang yang berantakan, hasil kerajinan tangan dan kesenian lainnya. Itulah komodifikasi budaya.

baca Ngayau, Misteri Manusia Kepala Merah (Cheu Fung Theu)

Pada zaman baheula, praktik-praktik seperti itu harus diakui memang ada. Akan tetapi, seiring perubahan dan perkembangan zaman, kebudayaan asli Dayak sebagian besar sudah tergerus. Utamanya orang yang memakai anting berjuntai di telinga, kini sudah sangat langka ditemukan, kecuali di pegunungan dan di kampung terhulu yang sangat sangat terisolasi.

Inilah novel-sejarah yang mengeksplorasi ngayau. Hal yang cukup unik: novel ini bercatatan kaki!

Evolusi Ngayau
Sesungguhnya, ada 4 tahapan evolusi ngayau:

Evolusi ngayau mengalami empat tahapan yang signifikan:

  1. Head hunter: Pada tahap ini, ngayau mengandung makna memenggal kepala (musuh), mempertahankan wilayah, suku, dan klan. Dalam bentuknya, ngayau bisa bersifat ofensif atau defensif, dan tahap ini yang dikenal melalui popularitasnya dalam karya Bock.
  2. Dalam dunia olahraga (head hunter): Munculnya interpretasi baru, di mana ngayau diterapkan dalam dunia olahraga dengan arti mengumpulkan piala sebanyak-banyaknya, mencerminkan semangat persaingan dan prestasi.
  3. Dunia SDM strategik: Pada tahap ini, ngayau menjadi metafora dalam menggambarkan strategi dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang strategis. Hal ini melibatkan pencarian dan perekrutan tenaga kerja terampil di bidang usaha atau organisasi sejenis untuk meningkatkan kualitas dan daya saing.
  4. Kini: Ngayau menjadi simbol perjuangan melawan keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, dan segala bentuk hambatan kemajuan dan peradaban Dayak. Tahap ini menunjukkan evolusi ngayau dari konteks perang fisik menjadi perang melawan berbagai bentuk ketidakmajuansosial dan ekonomi.

Ngayau di era modern adalah : Sigap, cekatan, awas dan waspada, terampil, selalu membawa alat untuk hidup, presisi, bijaksana, pandai memilah dan memilih sasaran.

Evolusi yang pertama dan keempat: Alat berubah sesuai perkembangan zaman, sedangkan makna : tidak. Yakni bagaimana orang Dayak survive dan menjadi tuan di negerinya sendiri.

Banyak melahirkan sarjana

Intisari ngayau melibatkan pemahaman mendalam mengenai modus vivendi (cara hidup) dan modus essendi (cara berada) manusia Dayak.

Bagi orang Dayak, pandangan bahwa hidup hanya untuk diri sendiri dianggap buruk (Qui sibi vivit male vivit).

Oleh karena itu, mereka membangun dan menganut cara hidup berkomunal, terutama dalam lingkungan rumah panjang.

Dalam rumah panjang, orang Dayak tidak hanya tinggal bersama secara fisik, tetapi juga menjalani kehidupan sehari-hari secara bersama-sama.

Praktik hidup komunal di rumah panjang menunjukkan nilai-nilai solidaritas dan gotong-royong yang kuat di dalam masyarakat Dayak.

Manusia Dayak bukan hanya hidup berdampingan secara fisik, tetapi juga menciptakan suatu modus vivendi yang menekankan kebersamaan dan ketergantungan satu sama lain.

Dalam rumah panjang, kolaborasi dan saling tolong-menolong menjadi inti dari modus essendi, menciptakan keseimbangan dan keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Tumbang Anoi dan Perjanjian Damai Itu

Pada zaman dahulu, jika satu keluarga mendapat hewan buruan maka akan dibagi. Jika ada warga susah, mereka membantu dan meninggalkan pekerjaan hari itu.

Bela rasa adalah alasan utama mengapa ngayau selalu melibatkan seluruh warga Dayak, bukan karena takut head to head. Kehormatan klan/ suku dan mempertahankan wilayah  adalah dua casus belli (tindakan memicu) ngayau dari masa ke masa.

Telag banyak sarjana lahir dari novel ini. Mereka menelitinya, sebagai dokumen, yang di dalamnya mengandung pesan serta catatan berharga. *)

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 235

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply