Okupasi Jepang dan Sungkup di Kalimantan Barat dalam Narasi Buku Dayak Djongkang

Buku ini dengan cukup mendetail menggambarkan periode okupasi Jepang di Kalimantan Barat, khususnya di wilayah Dayak Djongkang, yang merupakan salah satu subsuku Bidayuh di Sanggau.

Naratif yang terungkap mencakup aspek-aspek penting, seperti sungkup, usaha dagang Jepang, dan jejak perbuatan mereka selama pendudukan.

Dayak Jangkang dan Jepang
Dayak Jangkang, sebagai bagian integral dari sejarah sosial Dayak Djongkang, secara aktif terlibat dalam dinamika hubungannya dengan Jepang selama periode pendudukan. Keberadaan mereka menjadi saksi langsung atas peristiwa tragis dan perubahan dalam kehidupan sehari-hari yang diakibatkan oleh hadirnya pasukan Jepang.

Baca The Flying Geese – Etos dan Budaya-kerja Jepang

Pendudukan Jepang di Dayak Djongkang tidak hanya mencakup kehadiran militer, tetapi juga melibatkan sosial, sejarah, dan kehidupan.

Jendral Hideki Tojo dan Monumen Makam Juang Mandor menjadi saksi kekejaman Jepang yang meninggalkan bekas traumatis, dan peristiwa tersebut masih membekas dalam kesadaran kolektif generasi muda Kalimantan Barat (Kalbar) hingga hari ini.

Hideki Tojo, sebagai seorang jenderal Jepang, terlibat dalam keputusan untuk melancarkan agresi militer di berbagai wilayah Asia, termasuk di Kalimantan Barat. Tindakan kejam dan pendudukan Jepang di daerah tersebut meninggalkan jejak yang sulit dilupakan. Monumen Makam Juang Mandor menjadi simbol peringatan atas kekejaman yang terjadi selama masa pendudukan Jepang.

Baca Religi Tokugawa: Akar-akar Budaya yang Membuat Jepang tetap Jepang

Generasi muda Kalimantan Barat disadarkan akan kesadisan peristiwa sungkup yang terjadi pada masa lalu, dan trauma dari pengalaman tersebut masih terasa hingga saat ini. Monumen Makam Juang Mandor berfungsi sebagai pengingat akan peristiwa tragis tersebut dan sebagai wujud penghormatan terhadap para korban yang menjadi saksi kekejaman Jepang di Kalimantan Barat.

Buku ini merekam bagaimana okupasi Jepang, interniran para misionaris pastor yang bertugas di Borneo Barat, sungkup, serta kekejian era okupasi pada waktu itu yang termeterai dalam Makam Juang di Mandor, Kalimantan Barat.

Makam juang di Mandor
Dalam usahanya mendirikan Negeri Timur Jauh, Jepang melihat Pulau Borneo sebagai wilayah yang sangat strategis, terutama karena gugusan pulau-pulau seperti Jepang, Formosa, Borneo, dan Celebes membentang dari utara ke selatan. Selama Perang Asia Timur Raya, Jepang cenderung ingin menguasai gugusan pulau tersebut sebagai bagian dari wilayah kekuasaannya.

Kota-kota di sepanjang pantai Laut Cina Selatan, seperti Sambas, Pemangkat, Singkawang, Mempawah, Sei Pinyuh, hingga Pontianak, dianggap sangat strategis dan menguntungkan bagi Jepang sebagai benteng pertahanan dalam perang Asia Timur Raya. Selama pendudukan mereka, Jepang membentuk pemerintahan di Borneo Barat dengan menambah wilayah baru, seperti Kalimantan Timur dengan Samarinda sebagai ibu kotanya.

Borneo Minseibu Cokan
Borneo Barat pada masa pendudukan Jepang diperintah oleh Angkatan Laut (Kaigun) dengan nama Borneo Minseibu Cokan, pusatnya berada di kota Banjarmasin. Meskipun berada di bawah pemerintahan Jepang, Borneo Barat tetap memiliki status Minseibu Syuu yang dikuasai oleh Syuu Tizi.

Baca the DRAGON Network| Sekali Lagi tentang Kuasa Budaya dan Jaringan

Pada tahun 1945, pemerintahan Jepang digantikan oleh pemerintahan Belanda, Nica.

Untuk menguasai Borneo Barat, Jepang membuka perusahaan dagang, seperti Fuku Company yang bergerak di perdagangan perkayuan dan perkeretaan, Nakahara Fuji Company yang fokus pada perdagangan kelontong dan barang pecah belah, serta Nomur Trading Co yang berusaha dalam onderneming karet dan perusahaan besar. Honda menguasai toko potret dan usaha potret memotret, sedangkan Sumitomo Kabushiki Kaisyo mengendalikan sawmill di Borneo Barat dan daerah sekitarnya.

Jepang melancarkan sungkup mengerikan dengan mendaratkan sejumlah warganya di Borneo Barat. Karyawan dan kaki tangan perusahaan Jepang dijadikan mata-mata yang memberikan informasi penting bagi pengambilan keputusan.

Baca Yasuo | Japanese Entrepreneur with Indonesian Hearts

Mata-mata ini sangat terorganisir sehingga tidak dicurigai atau diketahui oleh pemerintah kolonial. Para gadis dari Negeri Matahari Terbit dijadikan pelacur-pelacur yang bertugas memata-matai, menjadi umpan menawan untuk mendapatkan informasi rahasia yang tidak mungkin diperoleh secara langsung oleh pemerintah kolonial.

Hingga kini, bekas-bekas peninggalan masa lampau itu masih “berbicara”. Lokusnya berada di Kampung Bali, Pontianak, sekarang persis di belakang Hotel Santika. Dahulu tempat pelacuran gadis-gadis Jepang.

Dalam narasi yang berbeda, hal itu akan dikisahkan.

(Tabut Perjanjian)

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 235

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply