264331655_5123251584365406_1857877150073400251_n-1474aa42

Panggil Saya: Chui Mie

Di balik buku, ada banyak kisah. Chui Mie ini ketua Perkumpulan Hakka di Singkawang. Saya ketua perkumpulan Kaifang.

Tjhai Chui Mie. Perempuan berpostur sedang. Menjadi satu dari segelintir wanita etnis Tionghoa yang sukses meniti karier di bidang politik dan pemerintahan.

 

 

Lewat panggung dan politik birokrasi, ia yakin dapat lebih nyata memberi sumbangsih pada bangsa dan negara.

Tjhai Chui Mie menoreh sejarah sebagai perempuan Wali Kota pertama dalam perjalanan politik masyarakat Tionghoa di Indonesia, karena dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak, Rabu, 15 Februari 2017, istri Lim Hok Nen, kelahiran Singkawang, 27 Februari 1972, ini berhasil meraih perolehan suara mutlak.

Perempuan Hakka ini dinyatakan menang satu putaran dalam pemilihan Wali Kota Singkawang periode 2017 – 2022, berpasangan dengan Irwan. Total perolehan suara Tjhai Chui Mie – Irwan di atas 40%, jauh menggungguli tiga pasangan calon lainnya. Sebuah prestasi, sekaligus kiprah, yang menginspirasi dan dapat memotivasi siapa saja.

Ketika maju jadi walikota Singawang, hartanya lebih sedikit setengah M. Bukti bahwa uang bukan segala-galanya dalam percaturan politik meraih kekuasaan. Lalu bagaimana wanita berusia 48 tahun yang patuh pada sang ibu ini meraih kursi walikota?

Buku ini menyibak trik sekaligus perjalanan politik serta jurus-jurus pamungkas Unit Manager PT. Asuransi Jiwa ini menaklukkan para pendekar dan petualang politik lain yang dari segi materi, relasi, serta pengaruh lebih darinya. Mengungkap pula latar sosial, budaya, dan politik etnis Tionghoa Kalimantan Barat dalam perspektif sejarah.

Selain memaparkan pandangannya mengenai etnis Tionghoa dalam perspektif ke-Indonesiaan. Menjadikannya pustaka yang layak mengisi perpustakaan keluarga, sekolah, institusi, perpustakaan daerah serta referensi di dalam pembangunan karakter dan pendidikan wawasan kebangsaan.

Menyebut Tjhai Chui Mie, mengingatkan masa lalu. Nama yang sungguh unik, khas Hakka. Dahulu kala, tanah lahir dan “wilayah kekuasaannya” adalah Little China in Tropics.

Hingga hari ini, wajah sejarah belum luntur oleh waktu. Dalam alam keindonesiaan, Singkawang kini bermetamorfosis jadi kota dengan beragam etnis dan aneka kekayaan budaya. Tentang etnisitas, keindonesiaan, dan tujuannya menjadi Walikota, ia coba rangkai dalam untaian kata sederhana:

Membangun Singkawang tujuanku

Tionghoa keturunanku

Indonesia negeriku

Leave a Comment

Scroll to Top