Post Factum

“Post factum” secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “setelah peristiwa” atau “setelah fakta.”

Ungkapan ini merujuk pada keadaan di mana kebenaran atau relevansi suatu pernyataan atau tindakan baru dikonfirmasi atau diakui setelah peristiwa atau fakta tersebut terjadi atau terungkap.

Terkonfirmasi benar, setelah terjadi

Sebagai contoh, mari kita asumsikan bahwa sebelum Pemilihan Umum pada 14 Februari 2024, Mr. Q (Dr. Muhammad Qodari S.Psi, MA) merilis hasil survei terkait dengan calon Presiden/Wakil Presiden 2024.

Baca Vox Populi Vox Dei

Dalam survei tersebut, Mr. Q mengungkapkan bahwa pasangan calon tertentu memiliki tingkat popularitas yang tinggi atau memiliki peluang besar untuk menang berdasarkan data yang ada. Namun, pada saat itu, banyak pihak yang meragukan, atau tidak sepenuhnya mempercayai, hasil survei tersebut.

Kemudian, setelah Pemilihan Umum berlangsung pada 14 Februari 2024, hasilnya menunjukkan bahwa pasangan calon yang disebutkan oleh Mr. Q dalam surveinya memang berhasil memenangkan pemilihan.

Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa pernyataan atau hasil survei Mr. Q sebelumnya, yang mungkin awalnya diragukan oleh beberapa pihak, akhirnya terbukti benar setelah “post factum” atau setelah fakta terjadi.

Baca Minus Malum

Jadi, “post factum” dalam konteks ini menggambarkan bagaimana kebenaran atau relevansi suatu pernyataan atau tindakan baru diakui atau dikonfirmasi setelah peristiwa yang bersangkutan telah terjadi atau terungkap.

Post factum pada berbagai peristiwa sehari-hari

Post factum dapat diterapkan pada berbagai peristiwa sehari-hari yang kita alami. Ini mencerminkan pengakuan atau pemahaman yang baru muncul setelah suatu peristiwa terjadi.

Contohnya, seperti pengalaman Anda yang tidak jadi naik pesawat pada 9 Januari 2020 karena persyaratan surat negatif PCR.

Baca Veto

Setelah kejadian itu, Anda merenung dan menyadari bahwa tidak jadi naik pesawat pada saat itu membawa dampak positif, yakni memberi kesempatan hidup lebih lanjut. Pemahaman muncul setelah fakta terjadi dan merupakan suatu bentuk refleksi atas peristiwa yang dialami.

Konteks “post factum” ini dapat mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti:  keputusan, hubungan interpersonal, atau bahkan pandangan hidup.

Kadang-kadang, kita baru memahami sepenuhnya konsekuensi atau arti suatu peristiwa setelah fakta atau setelah peristiwa itu benar-benar terjadi.

Dengan merenung setelah peristiwa, kita dapat mendapatkan wawasan baru atau pemahaman yang lebih dalam tentang pengalaman hidup kita.  Justru setelah peristiwa terjadi. *)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 729

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply