Produksi dan Percetakan Buku Tempo Doeloe

Buku punya beberapa keunggulan dibandingkan dengan media lain dalam hal mengikat dan menyebarkan ilmu.

Buku memungkinkan penyajian informasi dengan kedalaman yang lebih besar daripada banyak media lainnya. Penulis dapat menjelaskan konsep, teori, atau ide secara rinci dan menyeluruh, memberikan pemahaman yang mendalam kepada pembaca.

Kedalaman Pengetahuan
Tak semua perkara yang dilakukan Belanda di Nusantara jelek dan, karena itu, wajib dihujat. Upaya Belanda melakukan alih teknologi cetak di Jalan Prapatan (dekat gereja Anglikan, Jakarta sekarang) misalnya, pantas dipuji.
Lalu jasa pemerintah kolonial memajukan budaya tulis-baca-cetak di Nusantara, sungguh luar biasa. Belandalah yang merintis berdirinya Balai Pustaka.

Baca Buku Ter- sepanjang Karier sebagai Penulis

Hal yang menakjubkan adalah bagaimana Belanda membangun jaringan dan komunitas pecinta dan pembeli buku. Tak lama setelah kemerdekaan, masa kejayaan penerbitan buku ditorehkan.

First run (terbitan perdana) buku bisa menembus oplah 50 ribu –rekor yang saat ini sulit untuk dicapai, bahkan oleh penerbit besar sekalipun.

Rasanya, dibanding tempo doeloe, kini dunia penerbitan buku mengalami set back. Ada apa dengan dunia penerbitan buku Indonesia?

Penerbit “Tiga Ribu”

Pernah saya menulis kolom di sebuah majalah nasional. Judulnya “Penerbit Tiga Ribu”. Tulisan itu menyindir, sekaligus menggugah semua pihak. Mengapa dengan penduduk lebih dari 200 juta, terbitan perdana sebuah buku jarang menembus angka 3 ribu?

Baca Flamboyan Kembali Berbunga: Proses Kreatif Saya Mengarang Novel Perdana

Daya belikah faktor penyebabnya? Tidak! Lihat saja di mal dan pusat perbelanjaan. Banyak orang yang punya duit, tapi mereka tidak membeli buku. Faktor melek huruf? Tidak juga! Lihat saja negara berkembang, seperti India dan Thailand. Buta huruf di sana cukup banyak, tapi masyarakatnya suka membaca dan banyak yang membeli buku. Kalau begitu, apanya yang salah?

Penelitian yang pernah dilakukan LPPM menunjuk, faktor penyebabnya adalah perilaku konsumsi masyarakat Indonesia yang tidak kondusif.

Selain pengaruh budaya lisan yang masih kental, kebiasaan orang berduit di Indonesia bukan membaca dan membeli buku, tapi nonton televisi.

Sebenarnya, perilaku itu bisa saja digeser dengan sebuah upaya sistematis dan strategis. Namun, bukan porsi tulisan ini membahasnya. Tulisan ini hanya mengenang kembali masa kejayaan yang pernah dialami penerbit buku tempo doeloe.

Jasa Kompeni
Haruslah diakui, kompeni sangat berjasa memelekhurufkan bangsa kita. Kompeni juga “berjasa” mengangkat pujangga-pujangga Nusantara muncul ke permukaan. Tak syak lagi, Balai Pustaka (Volklectuur) yang berdiri tahun 1917 adalah penerbit yang banyak melahirkan pujangga (dan penulis) lokal.

Antara tahun 1917-1942, Balai Pustaka menerbitkan sekitar 2.000 judul buku. Dan pada tahun 1930, Balai Pustaka menjual 300.000 kopi buku (Eduard Kimman, 1981: 89).

Baca Buku Ter- sepanjang Karier sebagai Penulis

Tahun 1920-an, boleh dibilang mulai bangkitnya pujangga Nusantara, antara lain dengan terbitnya karya-karya berikut:

1. Novel Nur Sutan Iskandar berjudul Apa Dajaku karena Aku Perempuan (Indonesisische Drukkerij, 1922) dan Tjinta jang Membawa Maut (Balai Pustaka, 1926).
2. St. Takdir Alisjahbana dengan Lajar Terkembang (Balai Pustaka, 1926).
3. Armijn Pane dengan Belenggu (Pustaka Rakjat, 1940).
4. Hamka dengan Tenggelamnja Kapal van der Wijck dan Merantau ke Deli (1939).
5. Idrus dengan Surabaja (Merdeka Press, 1947).
6. Pramoedya Ananta Toer dengan Krandji Bekasi Djatuh (1947) Keluarga Gerilja (Pembangunan, 1950), Ditepi Kali Bekasi (Gapura, 1951).
7. Mochtar Lubis, Tidak Ada Hari Esok (Gapura, 1950), Djalan Tak Ada Udjung (1952), Sendja di Djakarta (1963).
8. Nugroho Notosusanto dengan Hudjan Kepagian (1958).
9. Ajip Rosidi dengan Perdjalanan Penganten (1958).
10. Motinggo Boesje dengan Nasihat untuk Anak-anak (1963).
11. Chairil Anwar dengan Deru Tjampur Debu dan Kerikil Tadjam jang Terampas dan jang Putus.

Di samping penerbit yang dikembangkan kompeni, penerbit penduduk asli Indonesia (indigenous publishers) mula-mula berkembang di Sumatra, dengan Limbago Minangkabau, Drukkerij Merapi (Bukittinggi), dan Almoenir (Padang).

Percetakan dan penerbit lokal

Percetakan dan penerbit lokal mencetak dan menjual cerita-cerita lokal pula, seperti seri Lukisan Poejangga, Pergaulan, dan Dunia Pengalaman. Setelah itu, berkembang produksi roman picisan di seluruh kota Sumatra. Baru kemudian, tahun 1917, mendapat saingan dari Jakarta dengan tampilnya Balai Pustaka.

Baca Das Kapital : The Televance to the Current Situation in Indonesia

Tak lama berselang setelah merdeka, 1947, tampil penerbit Pembangunan –kerja sama antara Belanda dengan segelintir tokoh intelektual Indonesia. Tahun 1950, penerbit Pembangunan mempekerjakan 70 karyawan, 4 di antaranya orang Belanda.

Sebagai penerbit, Pembangunan boleh disebut sukses besar, dengan produksi yang cukup fantastis. Pembangunan menerbitkan karya-karya:
• Ir. Soekarno berjudul Sarinah, edisi kedua, sebanyak 50.000 eksemplar pada 1951.
• Hatta dengan judul Koperasi (1954).
• Chairil Anwar dengan Deru Tjampur Debu (1949).

Antara tahun 1949-1956, diterbitkan 50-70 judul buku. Penerbit Pembangunan menjadi market leader penerbit buku, dengan meraup 50% pasar saat itu.

Djambatan pada tahun 1953 menjadi penerbit yang agresif, dengan Roeswita Pamuntjak sebagai tokoh penting. Saat itu, Djambatan yang berkantor di Jalan Kramat Raja mempekerjakan 30 karyawan. Struktur organisasi penerbitan sudah mengenal adanya pembagian tugas yang jelas antara redaksi dan pemasaran. Jumlah produksi per tahun antara 150-200 judul, dengan oplah antara 3.000-7.500 eksemplar.

Tahun 1953, Masagung (Tjio Wie Tay) dan rekannya Adisuria (The Kie Hoat) mendirikan N.V. Gunung Agung. Hingga tahun 1964, Gunung Agung menolak menjadi anggota asosiasi penerbit Indonesia. Gunung Agung mengkhususkan pada penerbitan biografi, yang dicetak antara 3.000-5000 eksemplar. Sepanjang sejarahnya, biografi Soekarno yang paling laris, terjual 150.000 eksemplar.

Memasuki dekade 1970-an, dunia penerbitan (dan percetakan) memulai babak baru, dengan lahirnya perctakan dan penerbit PT Gramedia. Mula-mula menerbitkan buku terjemahan. Lalu masuk ke kamus. Seterusnya, membukukan cerita bersambung yang dimuat harian Kompas, seperti Karmila karya Marga T yang hingga kini mengalami cetak ulang lebih dari 20 kali!

Di tahun 1970-an itu pula, banyak lahir penerbit baru. Apalagi suasana sangat kondusif, dengan diproyekkannya sejumlah buku bacaan oleh Pemerintah, yang dikenal dengan Proyek Inpres Bacaan.*)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply