Religi Tokugawa: Akar-akar Budaya yang Membuat Jepang tetap Jepang

Apa yang membuat Jepang tetap Jepang sepanjang segala zaman? Dari era lama, kekaisaran hingga abad milenial, masih tetap berakar pada budaya Jepang yang satu dan sama?

Banyak studi tentang itu. Namun, studi yang merupakan disertasi penulis Robert Bellah di Universitas Harvard pada 1955 ini, menjawabnya. 

Baca https://bibliopedia.id/megatrends-asia-2/?v=b718adec73e0

Karya ini boleh dikatakan “maha” di bidangnya. Dengan berguru pada sosiolog dunia sekelas Talcott Parsons dan Edwin Reischauser, karya ini semakin menemukan peneguhan di bidangnya. Menjadi acuan sejak diterbitkan buku pada 1957.

Karya ini jadi acuan di mana-mana, sebab taori umumnya berlaku di mana pun dan kapan pun, meski dalam ilmu sosial terjadi perubahan yang dinamis.

Keluarga Jepang: tetap Jepang sepanjang zaman. Mengapa?
sumber gambar:https://www.japanindustrynews.com/2016/08/work-life-balance-japan/

Apa teori umum itu?
Jika suatu bangsa tidak kehilangan identitas, dan tahan terhadap guncangan arus perubahan zaman, maka: berakarlah pada budaya!

KARYA monumental Bellah ini merupakan hasil penerapan visi Weberian di dalam masyarakat Jepang. Pertanyaan dasar yang mengarahkan seluruh risetnya adalah “Adakah sesuatu yang berfungsi mirip dengan Etika Protestan dalam agama Jepang?”

Dalam tujuh bab buku ini, hasil riset tersebut dituliskan dengan. mengikuti alur yang jelas. Setelah diketengahkan sketsa pendek mengenai masyarakat masa Tokugawa, buku ini langsung memberi gambaran mengenai manifestasi pokok religi Tokugawa, dengan cara mengkaitkannya dengan lapisan sosial di mana religi itu ada, maupun dengan kecenderungan ke arah rasionalisasi politik dan rasionalisasi ekonomi yang terdapat di dalamnya.

Baca https://bibliopedia.id/china-hong-kong-taiwan-inc/?v=b718adec73e0

Setelah gambaran umum itu Bellah beranjak ke gambaran lebih rinci mengenai gerakan Shingaku, suatu gerakan religius-etis kelas pedagang pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas. Dan, akhirnya, pada penutup ditangani kembali pertanyaan-pertanyaan yang telah diintrodusir pada pendahuluan.

Jika suatu sukubangsa ingin tetap eksis dengan akar budayanya, belajarlah dari bangsa yang terbukti sukses, seperti Jepang.

Buku ini bukan dimaksudkan untuk mengkaji sumber daya tradisi bagi usaha pencarian terobosan untuk mengatasi dampak negatif modernisasi Jepang, melainkan mencari akar budaya Jepang pra-modern yang mendukung modernisasi itu.

Dan persis di sinilah letak kekuatan buku ini: ia menyajikan argumen yang menegaskan peranan budaya Jepang pra-modern dalam proses modernisasi negri itu.

Maruyama Masao, ahli ilmu sosial yang paling berpengaruh di Jepang pada masa pasca Perang Dunia II, amat memuji buku ini karena, dari sekian banyak buku tentang Jepang, buku Bellah, lebih daripada yang lain, memiliki kerangka teoretis yang dengan jelas menunjukkan masalah-masalah sentral modernisasi Jepang.

Jika suatu sukubangsa ingin tetap eksis dengan akar budayanya, belajarlah dari bangsa yang terbukti sukses, seperti Jepang.

Religi Tokugawa, dengan demikian, pantas menjadi topik dskusi wajib di kalangan budayawan, intelektual, politikus, ekonom, sosiolog, filsuf, dan pelaku perubahan sosial suatu klan/ suku bangsa.

Anda yang berkecimpung dalam sosiologi dan kebudayaan, termasuk mereka yang menggeluti masalah-masalah pembangunani, maupun mereka yang melalaikan dialektika antara agama dan budaya, dapat menarik banyak visi dari buku yang amat mendalam ini.

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply