Sejenak Merenungi Hidup dari Lagu “Hujan Rahmat di Ladang”

Sesuatu yang dekat dan akrab dengan kehidupan kita kerap kali kita jadikan sebagai sumber inspirasi. Entah dalam melahirkan sebuah karya seni, entah dalam menemukan ide untuk menulis, dan sebagainya.

Atau pun juga dalam rangka mencari dan menemukan jawaban atas sebuah pertanyaan fundamental: Apa makna dan tujuan hidupku di dunia ini?

Terkhusus bagi saya pribadi, salah satu hal yang sangat dekat dan akrab dengan kehidupan saya ialah ladang. Dengan menjadikannya sebagai sumber inspirasi, sudah ada beberapa tema yang saya kaji dan refleksikan. Secara teologis maupun filosofis.

Dalam menjadikan ladang sebagai locus berefleksi, saya bukanlah satu-satunya orang yang melakukannya. Jauh sebelum apa yang saya kerjakan, sudah ada Pusat Musik Liturgi yang telah dengan indah dan mendalam merefleksikan hidup manusia dengan berpaling ke ladang.

Hasil refleksi itu tertuang dalam salah satu lagu Misa inkulturatif. Judulnya ialah Hujan Rahmat di Ladang. Berikut syairnya:

(1)

Bagai ladang yang kering, menantikan air hujan

Jiwa haus merindukan Dikau, Tuhan

Sumber iman, pengharapan dan cinta

(2)

Kini ladang merana, menghijau daun-daunnya

Jiwa haus, t’lah menghirup Dikau, Tuhan

Sumber kehidupan jiwa dan raga

 

Lagu bergaya Dayak Kenyah tersebut terdapat dalam Madah Bakti (MB) No. 693. Merupakan salah satu lagu Misa inkulturatif bergaya Dayak yang sangat saya sukai. Lagu ini biasa dinyanyikan saat perayaan Misa ketika umat Allah menyambut komuni kudus, Tubuh Kristus.

Pesan utama yang kiranya hendak disampaikan ialah untuk mengingatkan umat beriman bahwa Tuhan-lah satu-satunya yang menjadi sumber kehidupan mereka. Hanya dalam Dia-lah mereka akan menemukan kepuasan bagi jiwa dan raga mereka.

Mengapa PML menjadikan ladang sebagai sumber inspirasi dalam menyadarkan manusia akan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kehidupan? Saya menduga salah satu alasan mendasarnya ialah terkait erat dengan upaya Gereja menggunakan metode dan pendekatan kontekstual dalam menumbuhkan dan mengembangkan kehidupan iman umat.

Mengingatkan saya akan pengalaman perjumpaan dengan kebudayaan Jawa. Saya pernah enam tahun tinggal di tanah Jawa, tepatnya di Kota Malang, dalam rangka melanjutkan pendidikan ke Seminari Tinggi. Sebuah masa di mana saya sungguh diperkaya dalam pengalaman dan pengetahuan.

Dengan menghayati peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung”, dari hari ke hari saya semakin dibuat jatuh hati dan terpesona dengan budaya Jawa.

Wayang merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang membuat saya terkesima karena ada begitu banyak falsafah hidup yang terkandung di dalamnya. Saya bisa mengetahuinya karena tema-tema seputar pewayangan menjadi bahan diskusi kami di bangku kuliah.

Saya semakin dibuat terkagum-kagum ketika mengetahui ada beberapa Romo yang menjadikan wayang sebagai media pewartaan iman Katolik. Sebuah upaya yang sungguh sangat kontekstual karena menggunakan media yang akrab dan dekat dengan kehidupan umat.

Kembali kepada lagu dari Pusat Musik Liturgi di atas. Masyarakat Dayak kebanyakan bekerja sebagai peladang. Mereka sungguh tahu bahwa tanpa air hujan, ladang akan menjadi kering dan merana. Begitu juga dengan kehidupan mereka sebagai manusia. Akan menjadi kering dan merana bila Tuhan tidak dijadikan sebagai pusat dan sumber kehidupan.

Untuk itulah, umat beriman diharapkan untuk selalu memiliki kerinduan akan Tuhan di dalam hati mereka. Seperti ladang mendamba air hujan, demikian juga seharusnya mereka selalu rindu mendamba Tuhan, Sang Sumber Kehidupan.

 

 

Share your love
Avatar photo
Gregorius Nyaming
Articles: 33

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply