Sekelumit Refleksi atas Penamaan Patung Yesus Panglima Burung (2)

Nama “Yesus Panglima Burung”: Berdampak pada pemahaman umat akan Yesus?

Betapa pun luhur dan mulia cita-cita dan harapan yang mau digapai lewat kehadiran patung Yesus Panglima Burung ini, ada satu hal penting yang dalam hemat saya mesti menjadi bahan pertimbangan. Patung ini adalah patung Yesus, bukan patung Panglima Burung.

Oleh karenanya, kajian, diskusi dan refleksi kita mau tidak mau harus juga menyasar kepada bagaimana dampak penamaan ini terhadap pemahaman umat beriman terhadap Yesus itu sendiri. Sebab, bagi umat Katolik, Kristus/Mesias, Juru Selamat, Anak Allah, Anak Domba Allah, Tuhan, Anak Daud, adalah beberapa nama dan gelar umum yang dipakai untuk menggambarkan Yesus.

Setiap kali umat Katolik mengarahkan pandangan ke patung ini nanti, seakan bergemalah apa ditulis oleh penginjil Yohanes: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:13-16).

Iman Katolik mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah kepenuhan wahyu Allah. Dia adalah sungguh Allah, sungguh manusia. Pengantara kepada Bapa. Juruselamat dunia yang datang untuk menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20:28). Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui-Nya (Yoh 14:6).

Apakah dengan memberi nama “Patung Yesus Panglima Burung”, pengetahuan dan pemahaman umat terhadap Yesus tidak akan dikacaukan atau dikaburkan? Tidakkah iman umat akan dikaburkan atau bahkan mungkin digoyahkan dengan pemberian nama “Panglima Burung” terhadap Yesus?

Umat mungkin tidak akan terlalu mempedulikan apakah pemberian nama itu akan berdampak pada pemahaman atau iman mereka terhadap Yesus. Akan tetapi, tidak demikian dengan seorang Uskup, yang diangkat oleh Roh Kudus menggantikan para Rasul sebagai Gembala jiwa-jiwa…Berkat Roh Kudus yang dikaruniakan kepada mereka, menjadi guru iman, Imam Agung dan Gembala yang sejati dan otentik (Dekrit tentang Tugas Pastoral Para Uskup dalam Gereja (Christus Dominus), no. 2).

Sebagai seorang guru iman, seorang Uskup dianjurkan untuk menyajikan ajaran Kristiani dengan cara yang menanggapi kebutuhan-kebutuhan zaman; artinya menjawab kesulitan-kesulitan dan masalah-masalah yang sangat menekan dan menggelisahkan orang-orang. Namun poin berikut ini penting untuk diperhatikan bahwa dalam menyajikan ajaran Kristiani hendaknya mereka (para uskup) juga menjaga ajaran itu, sambil mengajar umat beriman untuk membela dan menyiarkannya (no. 13).

Mgr. Agus sendiri tentu sudah paham betul apa yang menjadi tugasnya sebagai seorang gembala dan guru iman. Karena itulah, saat menyumbangkan pemikiran dalam rangka pembukaan program Doktor Teologi di STFT Widya Sasana, Malang, menulis demikian:

 “Melakukan teologi haruslah selalu di dalam kerangka menggereja. Itu artinya harus sesuai dengan iman Gereja. Dalam hal ini, berteologi tidak boleh dilepaskan dari iman Gereja yang kita tahu sebagai warisan para rasul. Warisan para Rasul yang kita ketahui adalah Kitab Suci, Tradisi, dan nantinya ajaran resmi Gereja, yaitu Magisterium” (Robert Pius Manik et al., 2020, hlm. 169).

 

Sekadar membandingkan antara Yesus dan Panglima Burung

Karena nama yang dipilih, hemat saya, memiliki kecenderungan mengaburkan pemahaman umat akan Yesus Kristus, maka guna memastikan atau menguji – jika memang dirasa perlu untuk dilakukan – apakah nama “Panglima Burung” cocok atau layak disandingkan dengan atau diberikan kepada Yesus, pertanyaan-pertanyaan berikut yang terkait dengan sosok Panglima Burung, harus dijawab terlebih dahulu secara jelas.

Siapa itu Panglima Burung? Nilai dan semangat hidup apa saja yang sudah diwariskan? Perjuangan apa  saja yang telah dilakukan oleh Panglima Burung bagi orang Dayak sehingga membuat namanya layak disandingkan dengan Yesus? Apakah semasa hidupnya dia juga berjuang bagi pembebasan orang Dayak dari kebodohan dan ketertinggalan? Apakah isi, cara/bentuk dan maksud perjuangan antara Yesus dan Panglima Burung berada pada level yang sama? Atau jangan-jangan bertolak belakang, meskipun judulnya sama-sama berjuang?

Saya sendiri ketika mendengar nama Panglima Burung akan langsung teringat dengan kerusuhan etnis Dayak-Madura beberapa tahun silam. Sebab, pada saat itulah untuk pertama kalinya saya mendengar cerita soal sosok Panglima Burung.

Dari beberapa sumber yang saya baca memang dikatakan kalau Panglima Burung, meskipun digambarkan sebagai sosok sakti dan luar biasa kuat, dia merupakan sosok yang baik hati. Ia juga dikenal ramah serta sangat sopan (okezone.com). Panglima Burung juga adalah sosok yang tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Meskipun beringas saat dalam peperangan, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak, tetap berpegang teguh pada norma dan aturan adat (sindonews.com).

Panglima Burung, dikenal oleh warga Suku Dayak sebagai tokoh yang agung, berwibawa, pemimpin spiritual, serta kesatria yang memiliki kesaktian dahsyat. Panglima Burung juga disebut sebagai orang Dayak sejati, karena sangat cinta damai, suka menolong, sederhana, dan selalu mengalah (sindonews.com).

Akan tetapi, semua sifat baik, sabar, tenang yang ada padanya akan luntur dan dia akan berubah menjadi sosok yang kejam namun penuh gagah berani saat orang-orang Dayak dan tanah Kalimantan tempat mereka hidup direndahkan atau dilecehkan.

Bagaimana dengan Yesus sendiri? Sama seperti Panglima Burung, Yesus juga menentang dan mengecam segala bentuk perendahan dan pelecehan terhadap martabat manusia. Kecaman-Nya yang sangat keras terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi barangkali dapat diambil sebagai contohnya.

Oleh-Nya mereka dikatakan sebagai orang-orang munafik, sebab menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang (Mat 23:14); sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan mereka bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat mereka abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan” (Mat 23:23). Oleh Yesus, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dikatakan sebagai keturunan ular beludak (Mat 23:33).

Akan tetapi, Yesus tidak berubah menjadi sosok yang kejam, bengis, tanpa ampun ketika harga diri dan umat manusia yang Ia kasihi direndahkan dan diinjak-injak. Ketika ditangkap di taman Getsemani dan salah seorang yang menyertai-Nya menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya, Yesus malah berkata: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Mat. 26:51-51).

Kepada murid-murid-Nya Ia malah mengajarkan: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang membenci kamu…Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:27-28,36). Dan ketika tergantung di kayu salib, Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).

Pemaparan di atas menghantar kita pada hal penting lain yang kiranya memerlukan kajian atau refleksi lebih lanjut. Yakni, soal apakah cara perjuangan antara Yesus dan Panglima Burung berada pada ranah yang sama. Atau bila hendak dirumuskan dalam konteks gagasan Mgr. Agus, apakah pembebasan yang diperjuangkan oleh Yesus dan Panglima Burung menggunakan cara yang sama?

Panglima Burung, seperti yang telah dikatakan di atas, hanya datang pada saat suasana perang di mana hidup orang Dayak berada dalam ancaman. Ia datang untuk membantu orang Dayak, seperti dalam kasus kerusuhan Dayak-Madura, dengan cara merasuki mereka sehingga kebal dari berbagai senjata tajam. Juga dengan cara menerbangkan mandau yang katanya dapat mencari musuhnya sendiri dengan mencium bau musuh.

Ketika mendengar kehadiran patung ini nanti menjadi simbol pembebasan dari kebodohan dan ketertinggalan, muncul kekhawatiran dalam diri saya, khususnya terhadap anak-anak muda, bagaimana mereka menafsirkan pembebasan yang dimaksud. Jangan-jangan ada yang menafsirkannya sebagai medan pertempuran atau peperangan, lalu beramai-ramai mengikuti praktek ilmu kebal. Hal yang pernah menjadi keprihatinan dari Mgr. Agus sendiri.

Kekhawatiran saya itu barangkali membuat saya menafsir terlalu jauh. Akan tetapi, bila arti pembebasan itu sendiri tidak dijelaskan dengan benderang, tidak menutup kemungkinan akan ada anak-anak muda Dayak yang keliru menginterpretasikannya. Segala jenis pembebasan umat manusia dari segala jenis kuk yang menindas dan membelenggu, menurut saya, haruslah dilandaskan pada dan dibimbing oleh kebenaran ini. Terkait dengan soal ini saya ulas secara panjang lebar dalam artikel “Memandang Pasukan Merah Dayak dalam Terang Iman Katolik”.

Fakta lain yang menarik untuk diangkat dalam rangka menilai atau menguji cocok atau tidaknya nama Panglima Burung digunakan ialah soal kehadirannya dalam hidup masyarakat Dayak. Berkaitan dengan soal ini saya bertanya kepada beberapa orangtua, termasuk Ayah saya, yang kebetulan adalah ketua adat di kampung.

Terhadap pertanyaan yang saya ajukan kapan Panglima Burung hadir di tengah-tengah saudaranya suku Dayak, mereka memberi jawaban yang sama kalau Panglima Burung akan hadir dan datang untuk melindungi suku Dayak saat mereka berada dalam situasi tertekan dan terancam. Untuk memanggilnya pun agar bersedia datang menolong dan melindungi harus dengan melalui ritual adat tertentu.

Jika memang tugasnya untuk menjaga dan melindungi, mengapa dia tidak datang di saat banyak anak manusia, termasuk sesama saudaranya orang Dayak, menderita begitu hebatnya karena wabah pandemi Covid-19? Mengapa harus menunggu saat dipanggil saja baru menampakkan diri? Bolehkah kemudian kita mengatakan kalau Sang Panglima adalah orang yang tidak punya hati, melihat sesama saudaranya orang Dayak menderita tapi dia bersembunyi entah di mana?

Pertanyaan-pertanyaan ini barangkali berada di luar konteks. Namun, jika memang Panglima Burung adalah pelindung orang Dayak, pertanyaan-pertanyaan itu rasanya tidak salah untuk diajukan. Sebab, apa salahnya meminta perlindungan kepada dia yang katanya tidak hanya sakti, tapi juga baik hati?

Sekarang, bagaimana dengan Yesus yang adalah Tuhan dan Penyelamat. Apakah dia hadir dalam hidup kita hanya saat-saat tertentu saja? Hanya saat kita manusia berada dalam situasi terdesak, tertindas dan terancam saja, misalnya? Peristiwa inkarnasi, Allah menjadi manusia, mau menegaskan dengan sangat benderang kepada kita kalau Tuhan hendak menyertai umat manusia, dalam situasi dan kondisi apa pun. Dengan menjadi manusia, Allah hendak turut menanggung segala beban derita yang menimpa umat yang dikasihi-Nya.

 

Penutup

Tulisan ini, kembali saya tegaskan, sama sekali tak ada urusannya dengan rencana pendirian Patung Yesus Panglima Burung di Jagoi Babang. Segala rencana yang berkaitan dengannya merupakan sepenuhnya urusan dan wewenang Mgr. Agus. Karena Jagoi Babang berada pada wilayah penggembalaan beliau.

Poin utama yang hendak disoroti dalam tulisan ini ialah soal pemberian nama terhadap patung tersebut. Sebagai seorang pastor asli suku Dayak, saya sungguh mengapresiasi dan menyambut dengan positif segala upaya berteologi kontekstual yang dilakukan Mgr. Agus. Secara khusus gagasan penamaan patung Yesus Panglima Burung, bagi saya pribadi, telah menginspirasi dalam mencari dan menemukan cara yang membumi berkristologi dalam konteks Dayak.

Pemaparan-pemaparan yang telah saya uraikan terkait dengan dugaan bahwa pemberian nama itu akan berdampak pada pengetahuan dan pemahaman umat, atau akan menggoyahkan iman umat akan Yesus Kristus. Begitu juga dengan kekhawatiran saya terhadap misinterpretasi terhadap bahasa pembebasan yang diusung oleh Mgr. Agus, barangkali agak sedikit berlebihan.

Akan tetapi, dari pengalaman pastoral di mana masih ada umat yang bahkan mengucapkan doa-doa pokok dalam Gereja Katolik saja masih terbata-bata, kekhawatiran saya tersebut rasanya juga tidak terlalu berlebihan.

Akhirnya, segala bentuk penindasan, alienasi, rasisme, diskriminasi yang menginjak-injak martabat manusia juga menjadi keprihatinan Gereja. “KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga”, demikian ditandaskan oleh Konsili Vatikan II (Gaudium et Spes, 1).

Namun, betapa pun Gereja harus terlibat dalam membebaskan umat manusia dari segala kuk yang menindas dan membelenggu mereka, iman akan Yesus Kristus sebagai kepenuhan wahyu Allah (lih. Dei Verbum, 4), jangan sampai dikorbankan atau dikaburkan maknanya.

Iman tersebut justru harus menjadi landasan utama bagi Gereja dalam mewartakan Kabar Gembira keselamatan dari Allah kepada mereka yang tertindas, terbelakang, terpinggirkan, dan sebagainya. Berlandaskan pada iman tersebut pula, maka cara-cara yang ditempuh oleh Gereja ialah dialog dan kerja sama penuh damai dengan semua orang yang berkehendak baik. Bukan dengan menggunakan kekerasan.

 

Sumber foto: Majalahduta.com

Share your love
Avatar photo
Gregorius Nyaming
Articles: 33

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply