Sepinya Penulisan Biografi Apa Sebab?

Kamu mau tahu umat manusia? Kata Alexander Pope, gampang, telitilah manusia. Itu doktrin abad ke-18 sebelum konsep pengarang sudah mati (the author was died) dibesar-besarkan para penganut teguh strukturalisme dan siapa saja yang buta manusia dan memuja karyanya semata.

Pope bilang bahwa tujuan penulisan biografi adalah untuk setiap orang agar setiap orang dapat mengenali dirinya sendiri. Sayangnya kelemah kita agak fatal, biografi biasa ditulis jadi pelengkap buku, ditulis di halaman pelaku perbukuan, atau keterangan singkat di bawah artikel media. Lebih parah lagi biografi biasa dibacakan singkat sebagai riwayat kuliah sesaat sebelum berbicara di forum ilmiah. Jurnal ilmiah Indonesia kebanyakan malah tidak tertarik menjelaskan biografi para penulis, cukup nama, pos-el, dan pekerjaannya.

Pada tahun 1763, Samuel Johnson malah bilang hal paling menarik dari membaca sastra adalah membaca biografi para pengarangnya. Para pengarang fiksi dan nonfiksi kita rupanya tidak membayangkan ada lho orang-orang yang lebih senang membaca biografi kita daripada apa yang kita tulis dalam buku kita, sehingga biografi ditulis tanpa semangat berlomba dengan isi tulisan.

Pada tahun 1731 Edward Cave membuat majalah The Gentleman’s Magazine, dan di tahun 1790 Johnson mengumumkan di majalah tersebut bahwa tidak ada hiburan paling menarik saat itu selain karya-karya biografi. Boleh dibilang kejayaan biografi di Inggris adalah pada abad ke-18 yang merupakan kisah-kisah manusia mengambil banyak pengalaman intelektual dari abad sebelumnya. Bagaimana pun pengaruh John Lock (1632 – 1704) amat besar bagi pengetahuan tentang diri di abad ke-18. Di abad tersebut juga bangkitnya gagasan-gagasan individualisme yang akarnya tentu mulai disiapkan Renaisans dan dipupuk dengan suburnya oleh perkembangan pesat empirisme. Kaum empirik itu bagaimana pun menyukai gagasan naratif sebagai manifestasi dari pengalaman.

Di abad ke-18 pula, di Inggris, berkembang beragam media cetak yang menyiarkan perkembangan teknologi, eksplorasi baru dalam bidang geografi dan astronomi, yang mempengaruhi pemahaman mereka terhadap ruang. Semua itu memberi pengaruh pada diri mereka dalam memahami peran diri dalam publik, dalam dunia. Identitas seksual —refleksi atas laki-laki dan perempuan— juga berkembang melalui biografi di abad yang sama.

Biografi dan sejarah

Yang membedakan penulisan biografi dan sejarah adalah pada sensibilitasnya. Sejarah tidak melihat manusia kecuali dalam sekala besar, sedangkan biografi memandang manusia sebagai individu. Namun pada dasarnya kedua penulisan ini satu dengan lainnya saling terkait. Tidak mungkin penulisan biografi tanpa menjadikannya sejarah bangsanya sebagai latar.

Tapi mengapa Johnson memandang penulisan biografi lebih tinggi dari penulisan sejarah? Ia yakin sejarah tidak menggerakkan hasrat seperti biografi. Hasrat yang ia maksudnya adalah tentang kesiapan kita mengalami rasa sakit atau bahagia melalui pengalaman orang lain. Karena itu ia amat mendorong kita untuk mengembangkan penulisan bidang ini.

Jadi, mengapa kita makin miskin dalam penulisan biografi? Saya memandang ada salah pikir dari banyak penulis dan juga para tokoh yang dapat dituliskan. Penulis selalu mengharapkan tokoh publik yang penting, di sisi lain para tokoh itu sendiri tidak mau ditulis karena belum merasa tokoh. Kita ini, kalau sudah jadi rektor, jadi profesor, jadi calon presiden, barulah mengundang orang untuk menuliskan biografi. Di sinilah rusaknya tradisi penulisan biografi, terlalu berkepentingan dan tidak berhasrat pada diri-sebagai-manusia. Semua kita penting, jika dapat menuliskan sendiri biografi, tulislah autobiografi, dan jika tak dapat menuliskan sendiri, undanglah penulis yang baik menurut kamu masing-masing.

Jangan berpikir jadi orang dulu, karena setiap kita adalah orang, dan setiap orang penting bagi orang lainnya dengan kadarnya masing-masing. Juga, bukan karena penting maka layak ditulis, melainkan karena ditulis maka menjadi penting.

Akan tetapi, pun harus diperhatikan bahwa sebagaimana berkembang di abad ke-18, buku biografi yang baik adalah yang agak menjauh dari moralisme didaktik. Pembaca kurang suka dengan buku macam itu. Penulisan buku biografi pada masa tersebut selalu menekankan tujuan ganda, yakni menghibur dan perlu. Dalam hal ini, penulisan biografi amat belajar pada penulisan sastra. Komposisi dua hal itulah yang harus selalu mendapatkan perhatian seimbang.

Dalam buku General Biography (1799) John Aikin menjelaskan bahwa komposisi yang seimbang itulah yang mewakili manusia. Karena itu, jika kamu mau menjadi salah satu penulis biografi, perlakukan narasumbermu sebagai manusia yang punya cacat selain prestasi, kelucuan sekaligus kebijaksanaan, kegagalan selain kegemilangannya. []

Share your love
Avatar photo
Arip Senjaya

Pemenang Literasi Terapan Lokal Perpusnas 2022, alumni Batu Ruyud Writing Camp Kaltara, dosen filsafat Untirta, anggota Komite Buku Nonteks Pusbuk Kemdikbud, sastrawan, editor. Alumni UPI dan UGM.

Articles: 10

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply