Sobron Aidit dan Suratnya kepada Tuhan ketika tak Ada Lagi yang Mendengar Keluh Kesahnya

Dengan kode tertentu. Bunyian ketukan pintu sekian kali. DN Aidit masih berkomunikasi dengan Sobron, malam-malam, pada sebuah rumah petak di Kramat, tempat Sobron indekos beberapa hari setelah Gestapu tahun 1965. “Brooon! Ini saya…..” suara DN Aidit, perlahan, yang dikenali Sobron kemudian membuka pintu. Tak dinyana, itu malam terakhir pertemua kedua saudara.

Demikian sekilat kisah Sobron kepada saya. Sebagai managing editor buku nonfiksi PT Grasindo. Bumbu tersedap sepanjang pengalaman saya menjadi “petugas partai” di salah satu perusahaan Kompas-Gramedia.

Pertemuan kami berdua cukup intens. Tahun 2001-2002 ketika itu. Sobron menghabiskan waktu liburan panjangnya. Selain pulang kampung halaman di Bangka, ia lama di Jakarta. Sebagai pengarang yang dahulu menyandang cap “Lekra”, masih banyak sahabat Sobron di Jakarta. Ia betah di kota Batavia.

Surat kepada Tuhan.

Judul buku-buku Sobron Aidit. Pastinya mencerminkan isi hatinya yang merasa tidak lagi didengar oleh orang-orang terdekat, keluarga, teman, dan pemerintah.

Melalui tulisan-tulisannya,  yang diracik menjadi sajian konten menu buku ini, Sobron mencoba berkomunikasi dengan Tuhan, seperti cara orang zaman dulu menggunakan surat sebagai alat komunikasi. Mungkin zaman now akan menggunakan pesan WhatsApp kepada Tuhan.”

Buku-buku ini menjadi saluran ekspresi dan curahan perasaannya yang dalam. Sungguh dalam. Tentang exile. Dan kesewenang-wenangan Negara pada pasa itu memperlakukan orang-orang yang disuspek dan dituduh “terlibat ……” tanpa proses pengadilan. Dan juga screening.

Sobron Aidit adalah saudara dari tokoh legendaris Dipo Nusantara Aidit. Pada tahun 2002, ketika Orde Baru masih berkuasa, pengarang ini akhirnya dapat kembali ke Indonesia setelah Reformasi dimulai. Dia memiliki banyak cerita tersembunyi, termasuk hubungannya dengan Aidit sebelum sang abang menghilang. Namun, dalam narasi ini, fokusnya pada tiga buku yang membentuk trilogi: “Gajah di Pelupuk Mata,” “Surat kepada Tuhan,” dan “Pelanti tanpa Wasit.” Judul-judul ini dipilih secara simbolis, dan Sobron setuju dengan usulan ini. Sebagai editor, perannya hanya sedikit dalam menyunting naskah Sobron karena dia adalah penulis yang sangat berbakat.

Sobron Aidit, seorang penulis dan penyair terkemuka pada masa Orde Lama, telah mengukir jejaknya dalam dunia sastra. Lahir pada tanggal 2 Juni 1934, dan meninggal pada tanggal 10 Februari 2007 di usia 73 tahun, Sobron Aidit memiliki perjalanan hidup yang penuh dengan keberanian dan ketekunan.

Cap. Stempel kepada seseorang atau kelompok dapat sangat menindas dan menjadi dehumanisasi. Sobron Aidit contohnya. Meski mengaku tak tahu menahu terkait kiprah sang abang, Dipo Nusantara Aidit, kena imbasnya luar biasa.

Pada masa remajanya, Sobron sudah menunjukkan bakat menulisnya. Pada usia 13 tahun, dia telah menerbitkan cerita pendek pertamanya, “Kedaung,” dalam Majalah Waktu di Medan. Setelah pindah ke Jakarta, Sobron bertemu dengan penyair terkenal Chairil Anwar, yang menjadi mentornya dalam menulis. Puisi dan cerpennya mulai tersebar luas di berbagai majalah sastra yang diasuh oleh H.B. Jassin.

Penghargaan sastra pun menghampiri Sobron. Salah satu cerpennya, “Buaja dan dukunnja,” meraih penghargaan dari Majalah Kisah/Sastra pada tahun 1955-1956, sementara cerpennya yang lain, “Basimah,” mendapat penghargaan dari Harian Rakjat Kebudajaan pada tahun 1961.

Selain sebagai seorang penulis, Sobron Aidit juga berperan sebagai seorang pendidik. Dia mengajar di beberapa sekolah menengah di Jakarta dan mendirikan Akademi Sastra Multatuli bersama Prof. Bakri Siregar. Tidak hanya itu, Sobron juga terlibat dalam dunia jurnalistik sebagai wartawan untuk Harian Rakjat dan Bintang Timur, dua surat kabar yang dikenal sebagai harian kiri pada masanya.

Selain itu, Sobron juga aktif dalam berbagai organisasi, seperti Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok dan Lembaga Persahabatan Indonesia-Vietnam. Sebagai seniman, ia mendirikan kelompok “Seniman Senen” bersama dengan rekan-rekan senimannya.

Namun, hidup Sobron berubah drastis ketika Tiongkok dilanda Revolusi Kebudayaan pada tahun 1966-1976. Sebagai seorang intelektual, Sobron dipaksa untuk tinggal di desa dan bekerja bersama petani. Setelah Revolusi Kebudayaan berakhir, ia kembali ke Beijing dan bekerja di Radio Peking.

Pada tahun 1981, setelah kontraknya dengan Radio Peking berakhir, Sobron memutuskan untuk pindah ke Paris, Prancis. Di sana, ia belajar bahasa Prancis dan bersama teman-temannya, mendirikan restoran Indonesia yang disebut “Indonesia.” Ini adalah tantangan besar, karena mereka tidak memiliki pengalaman dalam mengelola restoran. Meskipun menghadapi banyak kesulitan, restoran mereka akhirnya berhasil beroperasi.

Sobron Aidit juga aktif dalam mendukung pers alternatif dan menulis dengan nama samaran selama masa Orde Baru di Indonesia. Karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Rusia, Mandarin, Inggris, Bulgaria, Belanda, Jerman, dan Prancis.

Pada akhirnya, Sobron Aidit menjadi warga negara Prancis dan berkunjung beberapa kali ke Indonesia dengan paspor Prancis. Ia juga dikenal dengan nama “Simon.” Sayangnya, ia meninggal karena serangan jantung pada tanggal 10 Februari 2007 di rumah sakit di Paris.

Sobron Aidit meninggalkan jejak sastra dan budaya yang penting, menjadi inspirasi bagi generasi penulis dan seniman berikutnya.

Share your love
Avatar photo
Biblio Pedia
Articles: 235

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply