Sobron Aidit | Perjumpaan Saya dengan Saudara Kandung DN Aidit (1)

Bekerja di PT Grasindo, salah satu sisters company milik Jakob Oetama. Saya merasa sungguh terpilih.

Betapa tidak! Saya tak pernah melamar kerja. Suatu hari. Seingat saya, Oktober 1989. Saya diminta tiba ke Palmerah, kantor pusat. Saya masih terikat kantor perusahaan penerbitan majalah di bilangan Kebon Jeruk.

Oleh salah seorang editor senior, saya ditelepon. Diminta datang ke Palmerah, markas besar Kompas Gramedia.

Saya diminta menulis. Di ruang itu ada Personal Computer. Mengopoerasikannya masih dengan Windows Word Star. Ada Dos pula. Yang berbunyi: ngeng ngeng ngeng…  baru starting.

Setelah selesai menulis, saya serahkan ke sang editor senior.

“Besok datang lagi ya?” katanya.

“Lho, kenapa?” saya heran.

“Tadi kan sudah bekerja!”

Singkat kata singkat cerita. Sempat sebulan saya bekerja, atau tepatnya “selingkuh” di dua kantor. Setelah bekerja, dan menerima gaji. Baru HRD meminta membuat Surat Lamaran. Katanya untuk arsip.

***

Poin saya bukan itu. Dan saya memang mengalami bekerja di 3 kantor, tidak pernah melamar.

Poin saya pada judul narasi.

JIka bukan bekerja di Gramedia. Tak pernah saya berjumpa dengan tokoh exile, sastrawan yang boleh dikatakan Angkatan ’66 bernama Sobron Aidit.

Dari namanya, bisa ditebak. Ia adik kandung tokoh terkenal, Dipo Nusantara Aidit. Sobron dibuang, dan lari ke Perancis, gara-gara pristiwa Gestapu (Gerakan 30 September 1965) di mana gegara ulah sang abang, ia kena getahnya.

Di Paris, Perancis. Sembari buka warung menu Indonesia, Sobron tetap menulis-mengarang.

Dan kerika keran keterbukaan tiba, seiring embusan angin Reformasi 1998, Aidit kembali ke Tanah Air.

Ia membawa sejumlah naskah. Setelah diedit Jajang C. Noor, naskah ini diserahkannya ke Gramedia untuk dijajaki terbitannya.

Saya waktu itu (2003) bertindak sebagai Kepala Bidang Nonfiksi.

Saya terima. Dan berhasil meyakinkan Tim Marketing dan Keuangan dalam rapat.

Serial bukunya ada 3.

Namun, saya suka judul yang saya beri ini: Surat kepada Tuhan.

Mengapa? Karena isi hati dan keluhan sudah tidak mempan lagi kepada manusia.

Mungkin di zaman now: WA kepada Tuhan.

Apa saripati, atau hal menarik, dari bukunya? Baiklah saya bahas pada narasi yang berikutnya.

(Bersambung)

Share your love
Avatar photo
Masri Sareb Putra
Articles: 711

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply